Keesokan paginya, Genta merasakan badannya tergoyang-goyang kasar. Bukannya bangun, ia malah mendengus dan mengubah posisi tidurnya membelakangi guncangan itu, mengira dirinya sedang berada di tengah mimpi indah yang enggan ia akhiri.
Plakk!!!
“Bangun, woy!”
Arka menampar pipi Genta cukup keras. Sengatan panas di wajahnya seketika membuat Genta tersentak bangun, terduduk tegak di kasur sembari berteriak histeris, “Maafin Abang, Pelita!!”
Napas Genta memburu. Namun, begitu kesadarannya pulih dan melihat Arka sedang berdiri di hadapannya dengan tangan bersendekap, Genta spontan membekap mulutnya sendiri dengan telapak tangan.
SIAL! umpat batinnya merutuki kebodohan sendiri.
Tatapan mata Arka mendelik, memicing penuh selidik dan tanya. “Siapa tuh Pelita? Sampai masuk mimpi dan bikin lo sehisteris itu?” sindir Arka dengan nada datar andalannya.
“Apaan sih lo? Salah dengar kali! Lagian lo pagi-pagi udah main tampar gue aja. Enggak ada cara lain apa buat bangunin orang?” gerutu Genta, mengalihkan pembicaraan sambil mengusap pipinya yang masih terasa berdenyut.
“Itu udah cara terakhir gue setelah tiga kali bangunin lo pake suara,” jawab Arka santai. Tatapan Arka kemudian bergerak naik-turun, memandangi penampilan Genta dari kepala hingga kaki. “Lagian, lo mau berangkat ke sekolah pakai baju kayak gitu?”
Genta menunduk, melihat dirinya yang masih mengenakan kaus oblong lecek dan celana pendek semalam. Kesadarannya langsung berputar seratus persen. “Eh, iya! Busyeeett! Jam berapa nih, Ka?!” Genta mulai panik. “Seragam sekolah gue masih ada di ruang OSIS!”
“Makanya buruan. Ayo berangkat,” ajak Arka bergerak menuju pintu luar.
“Tapi gue belum mandi, Ka!” keluh Genta frustrasi.
Arka menghentikan langkahnya di ambang pintu, menoleh malas. “Pilihan lo cuma dua: mandi di sini tapi telat dan dikunciin di gerbang depan, atau numpang mandi di sekolah sebelum anak-anak lain datang. Lo mau ketahuan seisi sekolah jalan kaki masuk gerbang dengan setelan kayak gembel gini?”
Genta terdiam seketika, membayangkan skenario terburuk itu lalu bergidik ngeri. “Ya udah, ayok!”
Genta berlari kilat ke kamar mandi hanya untuk mencuci muka dan menyikat gigi seadanya, lalu segera menyambar tas olahraganya dan berlari keluar, mengekor di belakang Arka untuk menembus pagi yang mulai merekah.
###
Jam masih menunjukkan pukul setengah enam pagi. Semburat jingga di ufuk timur baru saja membias tipis, bahkan matahari belum sedikit pun menunjukkan sengatannya. Dinginnya embun pagi menusuk kulit saat Arka melajukan motor matic-nya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan menuju sekolah.
Tinn!
Arka membunyikan klakson singkat, menyapa Pak Satpam yang baru saja membuka separuh gerbang SMAN 1 Nusa Bangsa dengan wajah terkantuk-kantuk. Begitu motor terparkir sempurna, Arka dan Genta bergegas berjalan koridor menuju ruang OSIS. Perbedaan kontras terlihat jelas dari keduanya; Arka berjalan dengan langkah santai nan tenang seperti biasa, sedangkan Genta berjalan penuh waspada dengan mata yang melirik liar ke kanan dan ke kiri. Saking paranoidnya, cowok bertubuh tinggi itu bahkan masih memasang helm ber-visor gelap di kepalanya untuk menyembunyikan wajah.
“Lah, kok... pintunya kebuka?” Genta mengerutkan dahi heran begitu mereka berdua tiba di depan ruang organisasi.
Celah kecil di pintu kayu itu menandakan ada seseorang di dalam. Arka langsung mengangkat sebelah tangannya, memberi isyarat agar Genta menutup mulut.
“Lo diam dulu di dekat WC, biar gue yang masuk duluan,” bisik Arka setengah berbisik. Instingnya seolah bisa menebak siapa sosok yang berani menyusup ke ruang OSIS sepagi ini. Genta mengangguk cepat tanpa bantahan, lalu segera mengambil langkah seribu untuk bersembunyi di balik dinding dekat toilet.
Kreeekkk...
Bunyi derit engsel pintu yang sengaja didorong Arka seketika membangunkan seseorang yang tengah meringkuk di atas sofa panjang di dalam ruangan.
“Eh, elo, Ka...”
Jojo mendongak. Ia sama sekali tidak terlihat terkejut melihat sang Ketua OSIS datang sepagi ini. Dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, Jojo menggosok kedua matanya kasar lalu mengusap sudut-sudut bibirnya yang kering.
“Lo tidur lagi di sini?” tanya Arka, suaranya datar namun terselip nada prihatin.
“Iya, Ka. Biasalah...” jawab Jojo serak sambil memaksakan diri untuk berdiri tegak. Tubuhnya tampak agak gemetar saat menapak lantai.
“Lo mau ke mana?” tanya Arka lagi ketika melihat Jojo mulai melangkah gontai ke arah pintu luar.
“Gue mau lanjut tidur di gudang belakang atau di mana lah. Sorry semalam gue nekat tidur di sini, soalnya ruang UKS dikunci rapat,” sahut Jojo lemas. Arka hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.
Namun baru saja kaki Jojo melewati ambang pintu, cowok itu tiba-tiba berbalik dan kembali melangkah masuk ke dalam ruangan. “Eh, Ka!”
“Apa?” tanya Arka.
“Kalau nanti ada guru—atau siapa pun—yang tanya keberadaan gue, lo jawab aja nggak tahu, ya? Lo... lo paling tahu kan masalah gue kayak gimana?” Jojo mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada, memohon dengan tatapan mata yang sayu penuh rasa lelah.
Arka terdiam beberapa saat, menimbang-nimbang situasi pelik yang dihadapi temannya ini sebelum akhirnya mengangguk. “Oke.”
“Makasih banyak, Ka,” tutur Jojo tulus. Ia kemudian berbalik dan berjalan pelan menyusuri koridor menuju tangga.
Arka berdiri di ambang pintu, menatap punggung Jojo yang menjauh dengan langkah yang sangat berhati-hati seolah sedang menahan rasa sakit yang luar biasa di setiap gerakannya. Kaos oblong putih tipis yang dikenakan Jojo sama sekali tidak mampu menyembunyikan bilur-bilur merah keunguan akibat luka cambuk yang berjejak di punggungnya. Sisa-sisa amarah atau hukuman fisik dari rumahnya semalam tercetak jelas di sana.
Arka mengembuskan napas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya miris. Di sekolah ini, ternyata hampir semua orang memiliki topeng dan luka mereka masing-masing.
“Siapa, Ka?”
Suara Genta yang tiba-tiba muncul di sampingnya membuat Arka sedikit menoleh. Helm di kepala Genta kini sudah dilepas.
“Jojo,” jawab Arka singkat.
“Fyuuuhhh... untung semalam lo nampung gue,” tutur Genta tulus, mendadak merasa sangat beruntung tidak perlu berebut tempat persembunyian di sekolah yang dingin ini. “Kenapa si Jojo—” Genta hendak menanyakan alasan Jojo sampai harus tidur di sekolah dengan kondisi mengenaskan seperti itu, namun Arka dengan cepat memotong kalimatnya.