LDR: Love, Duty, Regret

Intan Purnama
Chapter #14

Tenggat Waktu Akhir Jabatan

“Lo tahu sendiri, Ka, masalah ekonomi gue. Boro-boro buat bayar kuliah... buat lunasin utang bokap gue aja gue bingung,” tutur Jojo pahit.

Ia menoleh, mendapati Arka masih menatapnya dengan sorot mata yang sulit diartikan. Jojo memaksakan sebuah senyum tipis, lalu menepuk bahu sang Ketua OSIS. “Lo gak usah peduliin gue. Otak cerdas kayak lo yang seharusnya kuliah.”

Arka mengangguk pelan, tidak berniat mendebat kalimat Jojo. “Mending lo ke ruang guru dulu sekarang. Bu Lastri gak akan marahin lo, kok.”

“Nanti dulu. Nih, bantuin gue,” Jojo merogoh saku celananya dan melempar sebuah salep kecil ke arah Arka.

Jojo sadar, tidak ada gunanya lagi menyembunyikan luka-luka itu dari cowok di hadapannya. Arka sudah mengetahui rahasia kelam hidupnya sejak mereka masih duduk di kelas 10. Jojo melangkah mendekat, lalu perlahan mengangkat kaos oblong putihnya ke atas, mengekspos bagian punggungnya.

Arka seketika mendesis pelan, matanya menyipit linu melihat bilur-bilur merah keunguan akibat cambukan yang berjejak kasar di kulit punggung Jojo. Dengan sangat hati-hati, Arka mengeluarkan sedikit salep ke ujung jarinya lalu mulai mengoleskannya secara perlahan.

“Aww!” teriak Jojo spontan, tubuhnya berjengkit tegang menahan perih.

“Sori,” lirih Arka, memperlembut gerakannya. “Mm... gara-gara bokap lo lagi?”

Jojo menggeleng lemah dalam posisinya. “Gue dikejar rentenir. Bokap gue ngutang lagi buat judi. Kayaknya... gue bakalan terus tinggal di sekolah sampai rentenir-rentenir itu berhenti ngejar gue,” tutur Jojo dengan nada suara yang terdengar begitu lelah, pasrah pada takdir hidupnya yang berantakan.

Begitu Arka selesai mengoleskan salep, Jojo menurunkan kembali kaosnya. Ia menoleh ke arah Arka. “Pinjam seragam lo.”

Kening Arka mengernyit heran.

“Masa iya gue ke ruang guru pakai kaos oblong begini? Bisa langsung diceramahi dua jam gue sama Bu Lastri,” ucap Jojo, langsung menghilangkan tanda tanya di benak Arka.

Tanpa banyak bicara, Arka melepas kancing kemeja putih seragamnya lalu menyerahkannya pada Jojo. Jojo menerimanya dan langsung memakai kemeja itu tanpa mengancingkannya sama sekali, membiarkan kaos oblong putih di dalamnya tetap terlihat agar tidak terlalu menekan luka di punggungnya.

Tok! Tok! Tok!

Jojo mengetuk pintu terbuka ruang guru lalu melangkah masuk dengan santai. Di kubikel BK, Bu Lastri tampak masih sangat sibuk memeriksa tumpukan berkas di tangannya.

“Ibu cari saya?” tanya Jojo begitu menghampiri meja beliau.

“Dari mana kamu, Joshuana?” tanya Bu Lastri langsung, bahkan tanpa menghentikan aktivitas menulisnya.

“Tidur, Bu, hehehe,” Jojo tersenyum kikuk, mencoba mencairkan suasana.

“Di mana?” tanya Bu Lastri lagi, kali ini gerakannya berhenti dan matanya menatap Jojo tajam.

Jojo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia sudah menduga Bu Lastri pasti akan menginterogasinya sedetail ini. “Di... di kantin, Bu,” jawabnya asal, menyebut tempat pertama yang terlintas di kepalanya.

“Kamu menginap di sekolah lagi?” tanya Bu Lastri. Namun, nada bicara beliau terdengar seperti sebuah tebakan yang sudah pasti benar, bukan sebuah pertanyaan yang butuh jawaban.

Jojo terdiam, lidahnya mendadak kelu. Tak ingin memperpanjang pembahasan tentang rumahnya, Jojo segera mengambil inisiatif untuk mengalihkan topik begitu Bu Lastri menatapnya lekat.

“Katanya Ibu lagi survei minat bakat siswa, ya, Bu?” tanya Jojo langsung menarik kursi kayu di hadapan Bu Lastri lalu mendudukinya.

Bu Lastri menghela napas, beralih mengambil lembar fotokopi rapor milik Jojo. “Ya. Ibu lihat hampir semua nilai mata pelajaran kamu pas-pasan, Joshuana. Tidak ada satu pun yang menonjol,” ujar Bu Lastri jujur sambil menunjuk deretan angka di kertas tersebut. “Kamu sendiri mau kuliah di mana?”

Jojo menggelengkan kepalanya pelan tanpa ragu. “Sebaiknya saya langsung cari kerja aja, Bu, daripada kuliah.”

Jawaban instan itu membuat Bu Lastri menatap Jojo lekat-lekat dari balik kacamatanya. “Tapi, seingat Ibu, kamu sering menyumbang prestasi di bidang olahraga untuk sekolah kita.”

“Hmm, iya sih, Bu. Cuma beberapa, gak banyak,” sahut Jojo merendah. “Tapi saya sama sekali gak kepikiran buat kuliah, Bu. Saya mau kerja aja setelah lulus.”

Bu Lastri terdiam sejenak, menatap gurat kedewasaan yang dipaksakan oleh keadaan pada wajah muridnya ini. Beliau melipat kedua tangannya di atas meja. “Kalau seandainya... kamu bisa dapat beasiswa penuh, apa kamu mau kuliah?” tanya Bu Lastri lembut.

“Hmm...”

Jojo tertegun. Pertanyaan Bu Lastri barusan membuat otaknya mendadak berpikir keras. Jauh di dalam lubuk hati terdalamnya, Jojo sangat ingin merasakan bangku perkuliahan, sama seperti teman-temannya yang lain. Ia ingin belajar, ingin sukses, dan ingin lepas dari lingkaran setan ini. Hanya saja, fakta pahit dan jeratan utang keluarganya selama ini selalu memaksa Jojo untuk mengubur keinginan itu dalam-dalam hingga nyaris tak berbekas.

###

“Boleh dicoba kali ya, Bu,” jawab Jojo akhirnya sambil menyengir kuda, mencoba menutupi badai emosi yang sempat berkecamuk di dadanya.

Bu Lastri hanya mengangguk pelan, mencatat sesuatu di buku khususnya. Namun, sedetik kemudian, beliau meletakkan penanya dan menatap Jojo lurus-lurus. “Ada masalah apa di rumah sampai kamu harus menginap di sekolah?”

“Hah?” Jojo tersentak, raut mukanya agak terkejut. “Nggak ada apa-apa, Bu. Eh... siapa juga yang menginap di sekolah, Bu?” Jojo mulai gelagapan, mencoba tertawa kecil untuk mencairkan suasana yang mendadak mencekam.

Bu Lastri menatapnya penuh selidik, pandangan matanya mengunci pergerakan Jojo. “Ibu tahu kamu menginap di sini, Joshuana. Kenapa?” tanya Bu Lastri lagi, kali ini dengan penekanan yang dalam dan penuh wibawa.

Jojo terdiam. Ia menghela napas pasrah, menyadari bahwa runtuh sudah semua pertahanannya. Bu Lastri benar-benar tipe guru yang mustahil untuk dibohongi.

“Maaf ya, Bu... tidak seharusnya saya membawa masalah pribadi saya ke sekolah,” ucap Jojo lirih, kepalanya menunduk dalam-dalam menatap lantai ruang guru.

“Kamu bisa cerita sama Ibu,” tutur Bu Lastri lembut. Beliau mengulurkan tangan, menggenggam punggung tangan Jojo yang terasa dingin. Kehangatan dari genggaman itu seolah mengirimkan pesan tak tertulis: kamu aman di sini, kamu bisa percaya sama Ibu.

Jojo menelan ludah, ia mengedarkan pandangan sekilas ke sekeliling sebelum mendekatkan tubuhnya ke meja. “Saya dikejar rentenir, Bu. Ayah saya punya banyak utang bekas mabuk sama judi,” bisik Jojo sangat pelan, teramat khawatir jika ada guru lain yang tidak sengaja mendengar aib keluarganya.

Mendengar penuturan itu, sorot mata Bu Lastri melembut, digantikan oleh rasa prihatin yang teramat besar. Beliau mengusap tangan Jojo pelan. “Ibu akan bantu bicara dengan penjaga sekolah. Ibu akan membiarkan kamu bermalam di sini sementara waktu tanpa ada orang lain yang tahu.”

Lihat selengkapnya