LDR: Love, Duty, Regret

Intan Purnama
Chapter #15

Stories in the Midnight

Malam pun tiba. Keheningan merayap di sekitar kompleks kontrakan sederhana milik Arka. Sejak pulang sekolah tadi, baik Arka maupun Genta belum sempat menyentuh makanan sedikit pun. Keduanya langsung hanyut dalam kesibukan masing-masing, menatap layar laptop yang benderang dan mengetik draf laporan pertanggungjawaban program kerja OSIS.

Di tengah keheningan itu, jari-jari Arka yang sedang lincah menari di atas keyboard mendadak terhenti. Ponselnya yang tergeletak di atas meja bergetar, menampilkan nama ‘Jojo’ di layarnya.

Enggan mengganggu konsentrasi Genta, Arka segera bangkit dan melangkah keluar dari kontrakan untuk menerima panggilan tersebut.

“Halo, ada apa, Jo?” tanya Arka langsung begitu menempelkan ponsel di telinganya.

“Halo, Ka. Lo lagi di rumah gak?” suara Jojo terdengar agak samar di seberang sana.

“Enggak, gue lagi di luar. Ada apa?”

“Gue... mau minta sedikit pencerahan, mm... gue gak terlalu paham gimana susunan format laporan yang diminta Genta tadi,” tutur Jojo jujur.

“Gue lagi di kontrakan sekarang. Lo mau ngerjain di mana?” tanya Arka menawarkan.

“Oke, share loc aja, Ka! Ntar gue langsung ke sana!”

Tut!

Sambungan telepon diputus sepihak. Cara bicara Jojo terdengar sangat terburu-buru, seolah ia sedang menghindari sesuatu di jalan. Enggan memperumit keadaan, Arka langsung mengirimkan titik lokasinya via aplikasi pesan singkat.

Arka sempat berdiri termenung di ambang pintu. Benaknya mendadak mengkhawatirkan satu hal: bagaimana reaksi Jojo nanti saat datang dan melihat keberadaan Genta di dalam? Mungkin... Genta akan mengarang cerita kalau ini kontrakan miliknya, pikir Arka menerka-nerka sebelum akhirnya melangkah kembali ke dalam ruangan.

“Telepon dari siapa?” tanya Genta tanpa sedikit pun berpaling dari layar laptopnya.

“Jojo. Katanya mau minta diajarin bikin laporan,” jawab Arka singkat seraya mendudukkan diri dan melanjutkan pekerjaannya.

###

Selang sepuluh menit kemudian, ponsel Arka kembali bergetar. Jojo mengabarkan bahwa dirinya sudah tiba di titik lokasi yang dikirimkan. Tanpa membuang waktu, Arka segera keluar menuju gang depan untuk menjemput temannya itu.

Benar saja, Jojo sudah berdiri di sana. Penampilannya malam ini tampak sangat tertutup; ia mengenakan kaos jersi bola, lengkap dengan topi hitam yang ditarik rendah serta masker yang menutupi hampir seluruh wajahnya. Begitu Arka melambaikan tangan, Jojo segera bergegas menghampiri dan mereka berjalan cepat memasuki area kontrakan.

Setelah pintu ditutup rapat dan dikunci dari dalam, Jojo melepas topi dan maskernya. Namun, gerakannya langsung terkunci begitu mendapati sosok Genta yang tengah duduk anteng di ruang tamu. Jojo agak terkejut, namun ia dengan cepat menyembunyikan rasa canggungnya dengan melayangkan pertanyaan spontan.

“Ini... kontrakan lo, Ta?” tanya Jojo sambil meletakkan ranselnya di lantai.

Genta mendongak, lalu menggeleng pelan. “Bukan,” jawabnya singkat. Sebuah jawaban jujur yang justru membuat Arka sedikit terkejut, karena mengira Genta akan berbohong untuk menjaga gengsinya.

“Lah, terus? Kontrakan siapa?” Jojo mengerutkan dahi heran.

“Kontrakan gue,” sahut Arka datar.

“Hah? Orang kaya raya kayak lo... ngontrak di tempat kayak begini?” Jojo melotot, menatap sekeliling ruangan dengan ekspresi tidak percaya.

“Buruan kerjain laporan lo!” potong Genta ketus, sengaja menghentikan interogasi Jojo agar rahasia mereka tidak melebar ke mana-mana.

Gertakan Genta sukses membuat Jojo langsung mengambil posisi duduk di sofa. “Siap!” ucap Jojo tegas, lalu sedetik kemudian wajahnya berubah melas. “Tapi Ka, lo tahu sendiri kan... gue gak punya laptop, hehehe. Jadi, gue baru bisa kerjain kalau punya lo udah beres aja, ya?”

“Oke, punya gue tinggal sepuluh persen lagi kok,” tutur Arka, yang seketika menyurutkan senyuman di wajah Jojo yang kelaparan.

“Padahal tadinya gue mau ngajak kalian makan dulu,” gerutu Jojo sambil merogoh isi ranselnya. “Nih, gue sengaja bawa nasi gurih hangat. Kita makan dulu yuk!” ajak Jojo riang, mengeluarkan sebuah kresek hitam berisi tiga bungkus nasi.

Arka yang memang sudah menahan lapar sejak sore langsung menoleh ke arah Genta. “Ta, yok makan!”

“Ntar, gue nyusul,” jawab Genta sok tegap, matanya masih berpura-pura fokus ke layar laptop.

Kruuukkk...

Sayangnya, bunyi ganjil yang nyaring dari dalam perut Genta sama sekali tidak kompak dengan ucapannya. Suara itu terdengar jelas di ruang tamu yang sepi, membuat Jojo spontan terkekeh geli disusul Arka yang mati-matian menahan tawa sambil menggigit bibir.

Wajah Genta memerah menahan malu. Akhirnya, dengan sisa-sisa harga diri yang runtuh, ia menutup laptopnya dan bergabung duduk lesehan di karpet. Mereka bertiga membuka bungkusan nasi gurih yang aromanya langsung menyerbak memenuhi ruangan.

Meskipun di dalam hati Arka bertanya-tanya dari mana Jojo bisa mendapatkan uang atau makanan ini—mengingat situasi ekonominya yang sedang sulit—Arka memilih untuk menahan pertanyaannya. Ia membiarkan perut mereka terisi dengan tenang terlebih dahulu.

Lihat selengkapnya