LDR: Love, Duty, Regret

Intan Purnama
Chapter #16

Jejak yang Tertinggal

Sementara para pengurus inti laki-laki memilih kubu pertahanan di kontrakan sepi milik Arka, lain halnya dengan pergerakan para siswi pengurus OSIS. Bunga, Maura, Tiara, dan Sisca memiliki misi yang sama: mereka ingin menuntaskan laporan pertanggungjawaban secepat mungkin sebelum pekan Ujian Akhir Semester (UAS) resmi dimulai. Mereka tidak mau fokus belajar mereka terbelah oleh urusan revisi organisasi.

Terhitung lima hari menjelang pelaksanaan ujian semester, atmosfer kantin sekolah yang biasanya bising berubah fungsi menjadi ruang kerja dadakan. Bunga, Maura, dan Sisca sudah mengambil posisi nyaman di salah satu meja panjang pojok dengan laptop mereka yang sudah menyala. Namun, ada satu kursi yang masih kosong.

“Tiara mana?” tanya Maura sambil mengedarkan pandangan celingukan ke arah koridor, heran melihat Sisca tadi hanya datang melenggang sendirian.

“Gak tahu tuh orang pergi ke mana. Katanya sih healing dulu sebelum pusyiiing...” cibir Sisca dengan nada sarkas yang kentara.

“Beuhh! Terus laporan sekbid Seni gimana nasibnya?!” keluh Maura langsung menepuk jidatnya frustrasi.

Sisca hanya mengendikkan bahu acuh, lalu mulai membuka dokumen draf Humas miliknya.

Melihat ketidakjelasan itu, Maura tiba-tiba menutup sedikit layar laptopnya. Ia memajukan tubuhnya, memberi kode lewat gerakan mata agar yang lain mendekat. “Dari mulai sekarang, kita semua harus sepakat,” bisik Maura dengan nada konspiratif.

Bunga dan Sisca yang penasaran otomatis ikut mencondongkan tubuh mereka ke tengah meja. “Sepakat apaan?” tanya Bunga pelan.

“Sepakat gak usah bantuin si Tiara!”

“Loh, kok gitu?” Sisca mengernyit heran.

“Laporan kan tanggung jawab dia masing-masing sebagai ketua sekbid. Enak banget dia! Kita di sini lagi puyeng dikejar deadline tanggal sepuluh, dia malah asyik healing!” gerutu Maura berapi-api, kesal karena merasa keadilan di organisasi sedang timpang.

“Terus kalau nanti dia tiba-tiba datang terus tanya-tanya format ke kita gimana?” tanya Sisca lagi, mencoba melihat kemungkinan yang akan terjadi.

“Suruh aja dia tanya langsung ke Ketua OSIS!” ketus Maura tanpa ampun. “Gimana? DEAL?!”

Maura mengulurkan tangan kanannya ke tengah meja, menanti sambutan komitmen dari kedua temannya.

Bunga dan Sisca saling berpandangan sejenak, menimbang rasa lelah mereka yang juga sudah di ubun-ubun. Akhirnya, senyum kompak terbit di wajah mereka.

“Oke, DEAL!” jawab Bunga dan Sisca serempak sambil menumpuk tangan mereka di atas tangan Maura. Sebuah aliansi rahasia resmi terbentuk di atas meja kantin siang itu.

Di tengah keseriusan aliansi meja pojok itu, sebuah bayangan jangkung tiba-tiba mendekat. Zidan melangkah masuk ke area kantin dan langsung mengarah ke meja mereka. Kehadiran sang mantan Ketua OSIS yang tiba-tiba itu seketika membuat beberapa siswi di meja lain menoleh, menjadikan sudut kantin tersebut sebagai pusat perhatian.

“Masih kerjain laporan?” tanya Zidan lembut. Ia mencondongkan tubuh jangkungnya yang atletis, sedikit membungkuk untuk mengintip isi layar laptop Bunga.

“Iya, masih, Dan. Sisa dua puluh persen lagi kok ini,” jawab Bunga mendongak, menyambut kedatangan kekasihnya dengan binar mata lega.

“Kerja bagus!” puji Zidan hangat. Tangannya terulur, menepuk pelan ujung kepala Bunga dengan gerakan yang sangat protektif dan manis. Zidan mencoba sekuat tenaga untuk tetap bersikap seperti biasa di depan Bunga, menutupi sesuatu yang sejak pagi mengganjal di dalam benaknya tentang kedekatan misterius Arka, Genta, dan Jojo.

Diberi perlakuan manis seperti itu di depan teman-temannya, Bunga langsung tersenyum lebar, menyembunyikan rona merah di pipinya. Maura dan Sisca yang melihatnya spontan berdeham kompak, pura-pura kembali fokus ke laptop masing-masing demi menjaga privasi dua sejoli itu.

“Aku tahu kamu pasti bisa tuntasin ini cepat,” lanjut Zidan. Ia kemudian menarik sebuah kursi kosong dan mengambil posisi duduk tepat di samping Bunga. “Aku beliin susu stroberi kesukaan kamu ya?” Zidan sudah hendak bertumpu pada lututnya untuk berdiri lagi, namun jemari Bunga dengan cepat menahan lengannya.

“Eh, gak usah, Dan. Aku udah minum banyak air kok tadi. Kamu duduk aja di sini menemani aku,” cegah Bunga lembut.

Zidan akhirnya kembali duduk. Sepasang netranya beralih memperhatikan bagaimana jemari lentik kekasihnya itu bergerak lincah di atas keyboard. Keseriusan Bunga yang begitu menggebu-gebu demi menepati deadline organisasi justru menghadirkan sebersit rasa bersalah di lubuk hati Zidan.

“Maafin aku ya, Bunga...” lirih Zidan tiba-tiba. Nada suaranya terdengar begitu tulus dan rendah.

Gerakan tangan Bunga di atas laptop seketika terhenti. Ia menoleh dengan dahi berkerut heran. “Maaf? Maaf buat apa, Dan?” tanya Bunga kebingungan.

“Maafin aku karena selama ini gak pernah ajarin kamu cara bikin laporan pertanggungjawaban yang benar,” jawab Zidan penuh penyesalan.

Pikiran cowok itu mendadak berputar ke masa lalu. Ia baru menyadari, selama dirinya menjabat sebagai Ketua OSIS dulu, ia terlalu memanjakan Bunga. Atas nama rasa sayangnya, Zidan selalu membiarkan Bunga bebas dari beban laporan yang rumit atau revisi proposal yang melelahkan. Namun sekarang, setelah kepemimpinan beralih ke tangan Arka yang kaku dan Genta yang menuntut disiplin tinggi, Bunga terpaksa harus pontang-panting belajar menyusun berkas administrasi itu sendirian dari nol.

“Gak apa-apa, sayang. Kamu lihat sendiri kan sekarang aku bisa,” tutur Bunga lembut sambil menggenggam tangan Zidan, mencoba mengikis gurat penyesalan di wajah kekasihnya itu.

“Halah, lo tenang aja, Dan. Si Arka suka bantuin Bunga kok kalau dia lagi bingung nyusun formatnya,” celetuk Maura tanpa dosa dari balik layar laptopnya.

Deg.

Kalimat santai Maura barusan bagai hantaman keras bagi Zidan. Di bawah meja, jemari tangan Zidan seketika terkepal sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

Lihat selengkapnya