Brakkk!
Pintu kayu ruang OSIS menghantam dinding dengan keras akibat dorongan kasar Maura. Genta yang baru saja menenangkan diri di depan komputernya langsung tersentak. Ia menoleh cepat, lalu bangkit dari kursi dengan dahi berkerut dalam saat mendapati Maura masuk dengan langkah tegas, dibuntuti oleh Tiara yang memasang wajah masam.
“Ada apaan lagi?” tanya Genta, suaranya naik satu oktav akibat rasa heran yang membuncah.
“Genta, lo buka file laporan Tiara di laptop lo sekarang! Gak usah lo liatin ke kita, lo sendiri aja yang cek,” tegas Maura tanpa basa-basi. Rahangnya mengatup rapat, menahan badai amarah yang siap meledak.
Tepat saat itu, pintu kembali terbuka pelan. Arka melangkah masuk. Sadar akan atmosfer ruangan yang mendadak terasa mencekam dan tidak biasa, ia segera menutup pintu rapat-rapat. Arka berjalan tenang menghampiri Genta, berdiri tegak di samping cowok itu sebagai benteng pertahanan pertama.
Sementara itu, Maura membalikkan tubuhnya dengan sentakan cepat. Ia mengunci pergerakan Tiara, menatapnya dengan sepasang netra yang memicing tajam penuh selidik.
“Tiara, jujur sama gue. Ini laporan sebenarnya dibikin sama siapa?” todong Maura, suaranya rendah namun sarat akan ancaman.
Tiara menaikkan dagunya tinggi-tinggi. “Buatan gue lah! Lagian menurut lo buatan siapa lagi?” jawabnya dengan nada suara ceria yang dipaksakan agar terlihat percaya diri.
“Kapan lo bikin? Bukannya lo baru balik liburan dari Korea kemarin?” Maura memajukan satu langkah, memotong jarak di antara mereka. Kedua alisnya bertautan erat.
“Yaa... gue bikin sambil liburan lah! Emang ada yang salah? Emang ada yang kurang di laporan gue?” tantang Tiara balik.
Gadis itu melengos, hendak melangkah menghampiri meja Genta untuk mengintip isi laptop, namun dengan sigap Maura mengayunkan kakinya dengan tergesa-gesa dan menghadang jalan Tiara.
“Kalau emang itu murni bikinan lo, sekarang jawab pertanyaan gue,” ucap Maura dingin. “Di bab pendahuluan... inti dari pendahuluan yang lo tulis itu apa aja?”
“Mm... itu... hmm...”
Tiara mendadak terpaku. Bola matanya bergerak dengan cepat ke segala arah, mencari perlindungan. Jantungnya mulai berdegup kencang tak beraturan. Ia menautkan jemarinya dengan gugup di depan rok seragamnya. “Gue... gue lupa ah! Lagian bab pendahuluan kan gue bikinnya udah lama banget. Terakhir kemarin gue cuma fokus bikin bab terakhir.” Tiara mulai memutar otak, mencari alasan demi menyelamatkan harga dirinya.
“Ya udah, kalau bab pendahuluan lo lupa, inti dari bab penutup lo apa? Solusi dari masalah kegiatan sekbid Seni yang lo tulis di sana apa aja?!” tanya Maura lagi, menembak tepat di titik terlemah Tiara.
Tiara bungkam seribu bahasa. Wajahnya perlahan memucat, dan ia menelan ludah dengan susah payah. Gelagat kikuk itu terbaca jelas oleh semua orang di dalam ruangan.
Melihat interogasi yang semakin intens, Arka yang sejak tadi memperhatikan diam-diam merogoh ponsel di sakunya. Jemarinya bergerak cepat membuka aplikasi WhatsApp, lalu mengirimkan pesan di grup inti agar anggota OSIS lain yang masih berada di lingkungan sekolah segera merapat ke ruang OSIS. Instingnya mengatakan malam ini tidak akan berakhir dengan mudah.
Tak butuh waktu lama karena mereka memang belum pulang. Daun pintu ruang OSIS menyembul tipis. Bunga masuk terlebih dahulu dengan melangkah perlahan, disusul oleh Zidan. Di barisan paling belakang, Jojo dan Sisca ikut menyelinap masuk dengan ekspresi wajah yang dipenuhi tanda tanya besar.
“Nah kan! Lo gak bisa jawab!” bentak Maura, suaranya membahana memecah keheningan ruangan. Dada Maura meletup-letup, urat lehernya tampak menonjol. “Gue udah nyangka, laporan itu bukan buatan lo! Ngaku lo, itu bikinan siapa?!”
Maura maju satu langkah lagi, tangannya bergerak cepat mencengkeram bahu Tiara dengan kuat. Melihat situasi yang mulai menjurus ke arah kekerasan fisik, Arka dan Genta segera bergerak maju demi mengamankan Maura.
“Apaan sih lo?! Gak usah ikut campur urusan laporan gue, ya!” bentak Tiara tidak terima. Ia memajukan tubuhnya, bersiap membalas perlakuan Maura, namun Jojo dan Sisca dengan sigap langsung menahan kedua lengan Tiara dari belakang.
“Gue gak ikut campur! Ini demi nama baik OSIS! Lebih baik lo jujur sekarang!” Maura bersikeras, napasnya memburu terengah-engah.
“Tapi yang lain gak ada yang rewel kayak lo! Lo nuduh gue, sementara yang lain gak ada yang nuduh gue sama sekali!” Tiara berteriak histeris, wajahnya memerah padam akibat luapan emosi. “Lo... lo tuh sebenarnya cuma iri kan sama kehidupan gue?!”
“Kalau gue bilang 'iya gue iri', emang kenapa, hah?!” sahut Maura berapi-api. Buku-buku jarinya memutih karena kepalan tangan yang teramat erat. “Semua anggota di sini pada sibuk, pusing mikirin materi UAS sama laporan yang numpuk! Terus lo... lo malah enak-enakan liburan dengan judul 'healing'?! Hellooo... yang lain di sini jauh lebih butuh healing daripada lo! Tapi mereka tetap tanggung jawab masuk sekolah!”
“Mau gue healing kek, mau gue traveling kek, apa urusan lo?! Duit-duit gue! Gue gak pernah minta ongkos sama lo!”
Di luar dugaan semua orang, dalam gerakan yang sangat cepat, Tiara berhasil melepaskan satu tangannya lalu menjambak rambut Maura. Keadaan seketika berubah menjadi kekacauan dahsyat. Maura yang kesakitannya meledak menjadi amarah langsung membalas menjambak rambut Tiara tidak kalah brutal. Arka, Genta, Jojo, dan Zidan langsung kerepotan setengah mati mencoba memisahkan kedua gadis yang sudah gelap mata itu.
“Iya, gue tahu itu duit elo! Tapi lo ngilang di saat-saat genting begini itu ngerepotin yang lain! Organisasi ini milik bersama, bukan milik lo yang egois!” teriak Maura di sela-sela aksi saling tarik tersebut.
“Iri bilang, bos! Gak usah bawa-bawa nama organisasi!” balas Tiara berteriak kencang di depan wajah Maura. “Lo kalau kepengin hidup kayak gue, liburan kayak gue, lo tinggal bilang! Biar gue kasih ongkosnya sekarang juga! Gak usah sok suci bawa-bawa nama organisasi!”
“Anj*ng lo! Gue tahu gue miskin!” bentak Maura, air mata amarah mulai menggenangi pelupuk matanya. “Tapi gue gak serendah itu buat minta-minta ongkos ke lo! Mentang-mentang orang kaya lo, ya!”
“Apaan sih lo! Ngomong kasar begitu ke gue! Gue udah baik hati mau kasih lo ongkos, dasar lo gak tahu diri!”
Percekcokan verbal dan fisik itu semakin sengit, membuat suasana ruang OSIS benar-benar hancur berantakan.
###