Hari yang paling mendebarkan sekaligus melelahkan akhirnya tiba. Pekan Ujian Akhir Semester (UAS) resmi bergulir, mengubah total atmosfer SMAN 1 Nusa Bangsa yang biasanya bising menjadi sunyi penuh ketegangan. Selama satu minggu penuh, seluruh siswa harus bertarung dengan ribuan soal demi menentukan nasib kenaikan kelas mereka. Aturan pembagian ruangan pun dibuat ketat; setiap kelas dirombak, diisi oleh tiga puluh orang siswa acak gabungan dari lintas jurusan—IPA, IPS, dan Bahasa—memaksa semua orang berada di tengah lingkungan yang asing.
Di sudut Ruang 1, dua mantan rival pengurus inti duduk dalam satu barisan. Genta tampak bertumpu pada sebelah tangannya, mencoba memfokuskan mata pada lembar buku rangkuman rumus Fisika meski sesekali ia tidak bisa menahan kantuk dan menguap lebar. Kepalanya terasa seberat batu akibat begadang mencicil draf akhir OSIS.
Dua bangku di sebelahnya, Zidan justru berada dalam kondisi yang berlawanan. Jari-jarinya bergerak gelisah, menautkan pulpen sembari terus menghafal berbagai rumus rumit di luar kepala. Dahi Zidan sesekali berkeringat dingin; hatinya kalang kabut dibayangi rasa gugup yang luar biasa. Ia tahu nilainya kali ini tidak boleh cacat sedikit pun jika ingin meloloskan ambisinya mendapat beasiswa penuh ke Jakarta. Ekspektasi tinggi yang ia bangun sendiri kini terasa mencekik lehernya.
Melangkah ke Ruang 2, pemandangan kontras terlihat di barisan tengah. Arka duduk dengan posisi tegap yang sempurna. Sifatnya yang sedingin es membuat cowok berkacamata ini tampak luar biasa tenang, jemarinya bergerak santai membuka halaman demi halaman buku tebalnya tanpa riak kepanikan sama sekali.
Sementara tepat di bangku seberangnya, Bunga sedang berjuang di ambang batas kemampuannya. Bibir gadis itu tampak komat-kamit tiada henti, merapalkan poin-poin materi Geografi seperti sedang merapal mantra purba. Matanya sesekali terpejam kuat demi mengunci hafalan letak astronomis agar tidak menguap begitu saja dari ingatannya.
Di kelas sebelah, atmosfernya terasa sedikit lebih santai. Maura tampak duduk anteng bersandar. Alih-alih membuka tumpukan kertas, jemarinya bergerak lincah melakukan scroll pada layar ponselnya. Namun jangan salah, di balik wajah tenangnya, Maura sebenarnya sedang menghafal rangkuman materi dalam bentuk PDF yang sudah ia ringkas jauh-jauh hari di sana.
Sangat bertolak belakang dengan Jojo yang duduk tepat di belakangnya. Menyerah pada lembaran materi yang terlihat seperti huruf hieroglif di matanya, Jojo memilih melipat kedua tangannya di atas meja dan tertidur pulas. Kepala cowok itu miring ke samping, menjelajah alam mimpi dengan sangat damai, seolah beban ujian semester sama sekali tidak berhak merusak jam tidurnya.
Sementara itu di Ruang 4, Sisca dan Tiara yang sudah berbaikan tampaknya tidak membiarkan suasana ujian merusak kesenangan mereka. Di menit-menit sebelum pengawas masuk, keduanya justru asyik mengobrol berbisik-bisik, saling melempar rekomendasi judul drama Korea terbaru yang baru saja tamat. Tak hanya itu, Tiara mengeluarkan cermin kecil dan liptint miliknya dari tas. Mereka berdua bergantian mencoba make up tipis dan memulas bibir, memastikan penampilan mereka tetap segar melintasi badai ujian yang melelahkan.
Meski tingkat keseriusan belajar mereka berbeda-beda dan beberapa kali harus berhadapan dengan lembar soal yang luar biasa rumit hingga membuat kepala mau pecah, ujian tetap berlangsung lancar bagi mereka semua.
Menariknya, di tengah keputusasaan menghadapi soal-soal jebakan, tidak ada satu pun dari delapan anak organisasi ini yang berniat untuk berbuat curang. Setiap harinya, saat bel istirahat berbunyi, mereka hanya menjadi penonton pasif yang mengamati siswa dari kelas lain pasrah digiring ke ruang guru atau terkena hukuman langsung karena ketahuan mencontek dan bertukar robokan jawaban.
Bagi Arka, Genta, Zidan, Bunga, Maura, Jojo, Sisca, dan Tiara, harga diri mereka jauh lebih tinggi daripada selembar nilai instan. Mereka memang menginginkan nilai rapor yang bagus demi masa depan, tetapi menyelipkan kertas contekan atau berbohong pada lembar jawaban sama sekali bukan bagian dari identitas mereka. Kebohongan massal itu terlalu merendahkan martabat yang selama ini mereka jaga di OSIS.
Saat ini, di sela-sela coretan kertas buram dan desis lelah, mereka hanya memiliki satu doa yang sama: berharap minggu yang melelahkan ini bisa cepat berlalu, membawa mereka pada gerbang kebebasan yang sesungguhnya.
###
Malam hari sebelum hari terakhir ujian semester bergulir, keheningan di kompleks kontrakan mendadak terpecah oleh derit pintu yang terbuka. Arka melangkah masuk dengan wajah yang tampak lebih kaku dan dingin dari biasanya. Ia meninggalkan rumah besarnya malam-malam, dan Genta maupun Jojo tidak perlu bertanya lagi untuk tahu alasannya. Tidak salah lagi, papa Arka pasti membawa pulang sosok 'mama baru' lagi ke rumah mereka.
Genta dan Jojo yang saat itu sedang asyik duduk lesehan, beradu sengit dalam sebuah game di ponsel masing-masing, mendadak menekan tombol pause.
“Lo mau nginep di sini?” tanya Genta membuka suara.
Arka hanya mengangguk pelan tanpa gairah. Ia melepas ransel hitamnya, meletakkannya di sudut ruangan, lalu ikut duduk di antara Genta dan Jojo.
“Tumben?” selidik Genta lagi, menatap sang Ketua OSIS yang biasanya lebih memilih menyendiri di kamarnya sendiri jika stres.
“Nggak apa-apa kali, Genta! Ini kan kontrakan pribadinya si Arka, bebaslah!” seru Jojo tangkas. Ia segera mengulurkan tangan jangkungnya, merangkul bahu Arka erat-erat karena khawatir Genta malah akan membuat Arka tidak nyaman dan berujung pergi dari sana.
Melihat raut Arka yang tampak begitu murung, Genta diam-diam menyenggol lengan Jojo. Ia memberi isyarat lewat gerakan mata agar Jojo mengajak Arka bergabung ke dalam permainan demi mengalihkan pikiran kusut cowok itu.
Jojo langsung tanggap. “Ka, main ML yuk!” ajaknya bersemangat.
Arka mengerutkan dahi, menatap Jojo dengan pandangan kosong. “Apaan ML?”
“Serius lo gak tahu ML?!” Genta sampai terperanjat, menatap Arka seolah-olah cowok itu baru saja turun dari planet lain.
“Sini, sini, gue ajarin!” seru Jojo antusias.
Jojo dan Genta akhirnya bergantian mengajari Arka dari dasar, mulai dari mengenalkan hero, jalur pertarungan, hingga strategi menyerang. Setelah beberapa kali mencoba, dinding pertahanan Arka runtuh juga. Untuk pertama kalinya setelah sekian tahun hidup dalam dikte ketat ayahnya yang hanya menuntut belajar, Arka benar-benar terlibat dan hanyut dalam pertarungan seru di dalam game.
Namun, begitu sudut matanya melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, Arka bersiap meletakkan ponselnya. “Gue berhenti.”
“Eh, jangan dong! Tuntaskan dulu mainnya, nanggung ini dikit lagi menang!” larang Jojo menahan lengan Arka.
“Iya, bener! Lagian lo mau ngapain berhenti? Mau buka buku ya?” tembak Genta dengan dahi berkerut.
Arka mengangguk tipis tanpa berpaling dari layar ponselnya yang masih memunculkan grafik pertempuran. “Besok masih ujian.”