Kriiiing!
Bel panjang penanda berakhirnya jam ujian berbunyi nyaring. Seketika itu juga, keheningan yang mengunci SMAN 1 Nusa Bangsa selama seminggu penuh pecah berantakan. Sorak-sorai kegembiraan membahana di setiap koridor saat para siswa berhamburan keluar ruangan, bersiap menyambut masa liburan yang telah lama dinanti.
Namun, kegembiraan itu harus tertahan sejenak bagi para pengurus inti OSIS. Sesuai kesepakatan bersama, mereka langsung melangkah menuju ruang OSIS. Hari ini, tanggal 10 Juni, adalah batas akhir pengumpulan laporan pertanggungjawaban.
Langkah kaki mereka terasa jauh lebih ringan. Untungnya, seluruh sekbid telah menyerahkan laporan mereka dalam kondisi seratus persen beres. Termasuk Tiara, yang dengan berderai air mata beberapa hari lalu akhirnya menyusun ulang laporannya dari nol, dibantu oleh Maura dan Sisca yang dengan tulus mengesampingkan ego mereka.
Di balik meja utama, Arka memimpin rapat dengan pembawaan yang tenang seperti biasa. Agenda siang ini cukup krusial: mematangkan rencana kegiatan serah terima jabatan (sertijab) yang akan dilaksanakan esok hari. Acara formal itu rencananya akan dihadiri oleh Kepala Sekolah, Pembina OSIS, Guru BK, serta seluruh anggota OSIS kelas sepuluh yang baru.
Begitu kalimat penutup rapat diucapkan, atmosfer ketat organisasi langsung mencair. Sebelum mereka sempat bubar, Tiara tiba-tiba bangkit dan membagikan selembar kertas kecil eksklusif berbau harum kepada setiap orang.
Jojo menerima kertas itu dengan dahi berkerut. Ia membolak-balik kertas tersebut penuh selidik. “Apaan nih, Ta?”
“Undangan party,” jawab Tiara dengan senyum lebar yang memancarkan binar ceria, kembali menjadi Tiara yang penuh energi positif.
“Wuihh, asyik nih! Seru banget!” pekik Jojo antusias, matanya langsung mencelang senang. “Kapan acaranya?”
“Besok, begitu kegiatan sertijab kita beres,” timpal Tiara.
“Asyiiik!!” teriak Sisca dan Maura berbarengan, saling bertukar pandang dengan wajah berseri-seri. Beban ujian dan organisasi yang sempat membuat mereka duka dan lara kini menguap sepenuhnya.
Di saat yang lain sibuk bersorak, Arka sama sekali belum menyentuh kertas undangan di atas mejanya. Kedua tangannya masih sibuk merapikan tumpukan lembaran laporan dan memasukkan laptop ke dalam tas.
Tanpa mendongak, Arka bersuara, “Ta, draf RAB-nya lo print belum?”
Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Arka, tidak sadar kalau sosok yang dipanggilnya “Ta” itu sama sekali tidak ada di ruangan.
“Ta?” panggil Arka lagi, suaranya sedikit meninggi. Ia mendongak, lalu celingukan menatap barisan kursi yang mulai kosong, mencari sosok Genta yang ternyata lenyap entah ke mana.
Paling ke toilet, pikir Arka dalam hati, memilih mengabaikannya dan kembali menutup ritsleting tasnya.
###
Sementara itu, di ruangan yang berbeda, Genta sedang duduk dengan punggung tegap menghadap Pak Baskoro. Beberapa menit yang lalu, ia dipanggil mendadak ke ruang guru. Awalnya, Genta mengira guru BK senior itu akan membahas detail teknis pelaksanaan sertijab esok hari.
Namun, dugaan itu patah seketika saat Pak Baskoro melipat kedua tangannya di atas meja, menatap Genta dengan sorot mata yang sarat akan keseriusan.
“Genta, sampai kapan kamu mau tinggal di luar?”
Genta terperanjat. Matanya membelalak, benar-benar terkejut mendengar pertanyaan yang sama sekali berada di luar dugaannya itu. “Hah? Eehh... Pak, itu, anu...” Genta menelan ludah dengan susah payah, mendadak bimbang dan kalang kabut menyusun kalimat. “Saya... saya gak akan tinggal lagi di rumah Bapak. Makasih banyak atas segala bantuan Bapak dan keluarga selama ini.”
Pak Baskoro menghela napas panjang, sebuah embusan napas yang terdengar berat dan dipenuhi rasa kecewa.
“Kalau memang begitu keputusanmu, kamu harus menyampaikannya sendiri pada Pelita tentang keinginanmu itu,” tutur Pak Baskoro lambat, suaranya melunak namun sarat penekanan. “Pelita tidak percaya sama ucapan Bapak.”
Kalimat itu seketika membuat Genta membisu. Lidahnya mendadak kelu, dan rahangnya mengetat menahan gejolak emosi yang rumit di dalam dadanya.
“Tapi, Pak...”
“Pelita selalu menanyakan kamu, Genta,” potong Pak Baskoro cepat, mengunci sanggahannya. “Dia sama sekali gak percaya kalau kamu sudah gak mau tinggal lagi di rumah kami. Makanya, lebih baik kamu sendiri saja yang bilang langsung ke dia, ya.”
Pak Baskoro bangkit dari kursinya, lalu mengulurkan tangan untuk menepuk bahu Genta dengan lembut sebelum melangkah pergi. Gerakan sederhana itu meninggalkan Genta seorang diri di dalam ruangan yang sunyi, tenggelam dalam kegalauan dan labirin pikiran yang teramat runyam.
Genta kembali melangkah masuk ke ruang OSIS dengan bahu yang tampak merosot turun. Wajahnya begitu murung, memancarkan aura lesu yang sangat pekat. Di dalam ruangan, Arka dan Jojo ternyata masih setia di posisi mereka, sengaja menunggu Genta agar bisa pulang bersama-sama ke kontrakan.
Melihat kondisi Genta yang tampak seperti kehilangan gairah hidup, Arka mendadak mengurungkan niatnya. Padahal, sejak ujian berakhir tadi, Arka sudah menyusun rencana prank balas dendam untuk menipu Genta dan Jojo dengan pura-pura mengusir mereka dari kontrakan sebagai balasan atas hilangnya motor matic miliknya tadi pagi. Namun, melihat sang wakil ketua sekaku itu, Arka mengurungkan niat jahatnya.
Genta meletakkan tasnya asal-asalan di atas meja, lalu menatap Arka dengan pandangan kosong. “Eh, Ka... RAB yang lo tanyain tadi, gue lupa belum sempat gue print.”
“Udah, udah gue print sendiri tadi pas lo keluar,” sahut Arka datar. “Yuk, balik.”