Hari yang dinanti sekaligus agak menegangkan akhirnya tiba. Aura formal dan sakral menyelimuti seisi aula SMAN 1 Nusa Bangsa sejak pukul tujuh pagi. Seluruh pengurus inti OSIS tampak gagah dan anggun mengenakan seragam kemeja putih bersih dipadu celana atau rok hitam, lengkap dengan jas almamater kebanggaan OSIS yang tersemat rapi di tubuh mereka.
Setelah Kepala Sekolah, Pak Baskoro selaku Pembina OSIS, perwakilan guru BK, serta seluruh anggota OSIS kelas sepuluh menempati kursi yang disediakan, acara serah terima jabatan (sertijab) pun resmi dimulai. Namun, sebelum bendera pusaka organisasi berpindah tangan, mereka harus melewati satu ujian berat terakhir: mempertanggungjawabkan seluruh program kerja di depan mimbar sidang.
Mekanisme sidang dibuat ketat. Setiap pengurus diberi waktu untuk memaparkan presentasi laporan, yang kemudian disusul oleh sesi debat dan tanya jawab. Aturan mutlaknya adalah ada tiga pertanyaan wajib yang harus dijawab; satu dari Kepala Sekolah, satu dari Pak Baskoro, dan satu lagi dari perwakilan adik kelas sepuluh selaku calon penerus.
Zidan melangkah maju sebagai presentator pertama. Sebagai mantan Ketua OSIS, pembawaannya di depan podium tetap terlihat karismatik dan tenang. Ia memaparkan fondasi program kerja tahunan dengan runtut. Pertanyaan dari Kepala Sekolah mengenai efektivitas kegiatan besar dijawabnya dengan lugas, disusul pertanyaan tajam dari Pak Baskoro, serta satu pertanyaan kritis dari perwakilan kelas sepuluh. Zidan menuntaskannya dengan senyum tipis, lalu turun dibersamai tepuk tangan riuh.
Kini giliran Arka yang mengambil alih podium. Dengan langkah tegap dan tatapan sedingin es, sang Ketua OSIS pengganti berdiri di depan mikrofon. Sebelum membuka salindia presentasinya, Arka menatap lurus ke arah jajaran kursi guru dan hadirin.
“Meskipun saya hanya menjabat sebentar sebagai pengganti Ketua OSIS sebelumnya, yakni Zidan,” ucap Arka dengan nada suara rendah namun tegas, memecah keheningan aula. “Namun saya tetap harus bertanggung jawab penuh atas beberapa program kerja yang dilaksanakan saat saya menjabat sebagai Ketua OSIS.”
Pernyataan berani dan ksatria itu membuat Pak Baskoro mengangguk-angguk bangga. Arka kemudian membedah sisa program kerja akhir semester dengan sangat taktis dan berbasis data. Ketika sesi tanya jawab dibuka, Arka melibas ketiga pertanyaan dari Kepala Sekolah, Pembina, maupun perwakilan kelas sepuluh dengan jawaban yang sangat logis dan tidak terbantahkan.
Selanjutnya, Bunga melangkah maju dengan memegang draf administrasinya. Sebagai Sekretaris OSIS, gadis itu mempresentasikan seluruh arsip dokumen, surat-menyurat, dan proposal dengan sangat detail. Bibirnya tidak lagi komat-kamit cemas seperti saat belajar Geografi; Bunga tampil percaya diri. Ia berhasil menjawab pertanyaan teknis dari jajaran penguji dengan sangat lancar.
Estafet podium beralih kepada Maura. Sebagai Bendahara OSIS yang terkenal galak dan teliti, Maura memamerkan grafik arus kas dan laporan keuangan di layar proyektor. Buku-buku jarinya yang sempat mengepal kuat saat emosi beberapa hari lalu, kini dengan tenang memegang pointer. Semua pertanyaan rumit seputar sisa anggaran dan transparansi dana disapu bersih oleh Maura dengan pembuktian nota yang valid.
Satu per satu ketua sekbid mulai naik panggung. Genta mempresentasikan laporan bidang bela negara dengan tegas, dilanjutkan oleh Jojo yang membawakan presentasi bidang olahraga dengan gayanya yang santai namun tetap berbobot. Sisca pun menyusul, memaparkan pencapaian bidang Humas dengan gaya komunikasi yang luwes. Mereka bertiga berhasil melewati tiga pertanyaan wajib dengan mulus tanpa kendala berarti.
Hingga akhirnya, Tiara melangkah maju ke depan podium untuk mempresentasikan laporan sekbid Seni.
Di awal salindia, Tiara masih bisa menjelaskan dokumentasi pameran dengan lancar. Namun, petaka muncul saat sesi tanya jawab dibuka. Perwakilan pengurus kelas sepuluh berdiri, lalu melontarkan pertanyaan yang sangat pelik mengenai detail penyesuaian alokasi dana dekorasi yang sempat direvisi dalam semalam oleh Sisca.
Tiara seketika terpaku di depan mikrofon. Dahi gadis itu mendadak berkeringat dingin, dan jemarinya saling menautkan diri dengan gugup di balik podium. Bola matanya melirik panik ke arah Sisca dan Maura. Lidahnya kelu; Tiara sama sekali tidak bisa menjawab pertanyaan mendasar itu karena ia memang tidak ikut menyusun draf bagian tersebut. Atmosfer aula mendadak berubah canggung dan sunyi selama beberapa belas detik.
Melihat Tiara yang mulai kalang kabut dan hampir tenggelam dalam rasa malu, Arka tidak tinggal diam. Dari kursi barisan depan pengurus, Arka langsung bangkit berdiri dengan tenang. Ia berjalan mendekat ke arah podium, lalu mengambil alih mikrofon sekunder.
“Izin membantu menjawab dari pihak inti, Pak, dan adik-adik sekalian,” potong Arka menyelamatkan situasi. Dengan pemikiran yang taktis, Arka langsung membeberkan rincian efisiensi dana dekorasi dan alasan logis di balik penyesuaian anggaran tersebut secara gamblang. Jawaban cerdas Arka seketika memotong keraguan penguji dan membuat perwakilan kelas sepuluh mengangguk puas.
Tiara mengembuskan napas lega yang teramat sangat, melemparkan tatapan penuh rasa terima kasih yang mendalam kepada sang Ketua OSIS.
Sidang pertanggungjawaban itu akhirnya ditutup dengan ketukan palu mutlak dari Kepala Sekolah. Seluruh laporan pertanggungjawaban pengurus inti OSIS periode mereka resmi diterima tanpa revisi. Plong. Rasa duka, lara, dan beban berat yang selama ini bersemayam di pundak mereka akhirnya luruh sepenuhnya, menyisakan kebanggaan yang membahana di dalam dada.
###
Setelah ketukan palu mutlak dari Kepala Sekolah menggema, menandakan diterimanya seluruh laporan pertanggungjawaban, giliran Pak Baskoro selaku Pembina OSIS yang melangkah tegap menuju podium. Keheningan kembali merayap di seisi aula, menghadirkan atmosfer sakral yang begitu pekat. Beliau membenarkan posisi mikrofon, menatap satu per satu wajah pengurus inti yang duduk di barisan depan dengan binar mata bangga sekaligus haru.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, selamat siang dan salam sejahtera untuk kita semua,” buka Pak Baskoro, suaranya yang bariton menggema memenuhi ruangan.