Malam yang dinanti akhirnya tiba. Kediaman megah milik keluarga Tiara yang terletak di salah satu kawasan elite Yogyakarta menyala terang, menjelma menjadi panggung perayaan yang luar biasa mewah. Istilah "rumah tanpa tuan" malam itu benar-benar nyata, kedua orang tua Tiara sedang berada di luar negeri, meninggalkan rumah megah itu sepenuhnya di bawah kendali sang anak tunggal untuk menggelar pesta kelulusan organisasi yang tiada duanya.
Bagi kalangan remaja, atmosfer yang dibangun Tiara adalah definisi dari sebuah pesta impian. Tidak ada kesan kaku atau membosankan. Tiara menyulap area halaman belakang yang luas—tepat di tepi kolam renang infinity—menjadi ruang komunal yang sangat aesthetic dan Instagrammable.
Pendar cahaya dari lampu-lampu warm white yang menggantung rendah berpadu indah dengan pantulan air kolam yang jernih. Di beberapa sudut, terdapat instalasi neon flex berwarna merah muda dan ungu pastel bertuliskan “Grateful Heart, New Start”, menjadi spot foto utama yang langsung diserbu untuk kebutuhan konten media sosial. Musik bergenre lo-fi dan pop-remix bertempo sedang mengalun konstan dari pengeras suara nirkabel berukuran besar, membangun gairah malam yang santai namun tetap berkelas.
Persiapan Tiara dalam menjamu teman-temannya tidak main-main. Di sisi kiri kolam, sebuah meja prasmanan panjang dipenuhi oleh berbagai kuliner premium yang menggugah selera. Mulai dari piring-piring besar berisi jajaran sushi segar, steik daging wagyu berukuran mini dengan saus barbekyu, hingga stasiun makanan penutup yang memamerkan chocolate fondue, makaron warna-warni, serta potongan buah segar.
Tidak jauh dari sana, sebuah bar mini siap memanjakan siapa saja dengan ratusan botol minuman kekinian, jus segar, hingga berbagai varian mocktail dingin yang dihias cantik dengan irisan jeruk nipis dan daun mint. Semuanya tertata begitu rapi, bersih, dan sangat memanjakan visual.
Tepat pukul tujuh malam, bel gerbang depan berbunyi, menandakan kedatangan para tamu utama. Tiara, yang malam itu tampil memukau dengan gaun kasual sutra berwarna putih tulang, melangkah dengan binar mata bahagia menuju pintu utama.
Begitu daun pintu kayu jati yang kokoh itu terbuka, Tiara langsung menyunggingkan senyum lebarnya yang menawan demi menyambut kehadiran para pengurus inti OSIS yang datang hampir bersamaan.
“Hai semuanya! Akhirnya datang juga!” seru Tiara dengan suara riang yang bahana, memecah kecanggungan awal. Ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, menyambut Maura yang tampak anggun luar biasa dengan setelan outer terracotta-nya, disusul Bunga, Sisca, Jojo, dan yang lainnya. “Yuk, langsung masuk aja! Anggap aja rumah sendiri, gak ada orang tua gue kok, jadi kita bebas seru-seruan sampai puas malam ini!”
Langkah kaki anak-anak OSIS itu pun resmi melewati batas pintu, siap menenggelamkan diri ke dalam kemewahan pesta malam yang akan mengukir memori terakhir kepengurusan mereka.
###
Begitu melangkah melewati pintu utama, atmosfer pesta yang megah langsung menyelimuti pandangan mereka. Di area halaman belakang yang berbatasan langsung dengan kolam renang, kegembiraan malam itu benar-benar pecah.
Genta dan Jojo menjadi duo yang paling tidak tahu malu malam itu. Alih-alih menjaga gengsi di rumah elite, mereka langsung mendominasi area meja prasmanan. Jojo berkali-kali menyambar piring berisi tumpukan sushi premium dan mini steik wagyu dengan mata yang mencelang senang. Di sampingnya, Genta tak kalah heboh menikmati segelas mocktail dingin sembari terus mengunyah makaron warna-warni, meluapkan seluruh rasa lelah pasca-ujian dan urusan draf organisasi yang menguras energi.
Di sudut lain yang berlatar belakang instalasi neon flex yang estetik, Sisca tampak sangat sibuk dengan dunianya sendiri. Gadis itu meletakkan ponselnya di atas tripod, lalu dengan lincah mencoba berbagai gerakan tren TikTok terbaru. Ia berkali-kali tertawa renyah saat gerakannya salah, lalu mengulanginya lagi demi mendapatkan hasil video yang paling Instagrammable.
Tak berselang lama, Bunga dan Maura akhirnya berjalan masuk mendekati area kolam renang. Namun, baru beberapa langkah melangkah, tubuh Maura mendadak kaku. Langkah kakinya terkunci sepenuhnya tepat di belakang punggung Bunga.
Di dekat jajaran kursi santai, sosok Arka berdiri tegak dengan gaya cool-nya yang khas. Malam ini, cowok berkacamata itu menanggalkan kesan kaku seragam sekolahnya, berganti mengenakan kemeja kasual berwarna gelap dengan lengan yang digulung rapi hingga siku. Penampilannya malam itu benar-benar membuatnya tampak sangat ganteng, rapi, dan memukau, jauh dari kesan menyeramkan yang biasa Maura bayangkan.
Melihat pemandangan itu, sepasang netra Maura langsung membelalak. Kedua pipinya mendadak merona merah padam, dan dahi serta telapak tangannya mulai berkeringat dingin karena didera rasa salah tingkah yang luar biasa hebat.
Bunga yang menyadari perubahan ekspresi sahabatnya langsung menyenggol lengan Maura, memberikan senyuman menggoda yang membuat Maura makin kalang kabut.
Dengan memantapkan hati dan meremas jemarinya yang gemetar, Maura mengambil segelas minuman dingin dari meja bar mini untuk menutupi kegugupannya. Meski diliputi rasa ragu-ragu dan bimbang yang amat sangat, ia memaksakan kakinya berjalan menghampiri tempat Arka berdiri sendirian.
Begitu jarak mereka mengikis, napas Maura mendadak terasa sesak. Ketegangan batin membuat rahangnya mengetat saat Arka perlahan membalikkan tubuh dan menatapnya lurus dengan sepasang mata elangnya yang tenang.
“Arka...” panggil Maura lirih, suaranya agak bergetar di tengah riuhnya dentum musik pesta.
Arka menaikkan sebelah alisnya, menunggu lanjutan kalimat Maura.
Maura menelan ludah dengan susah payah sebelum akhirnya berani menatap wajah tampan cowok di hadapannya itu. “Gue... gue mau ngelunasin utang kas waktu itu,” ucap Maura langsung pada intinya, mencoba terdengar tegas meski hatinya sudah dag-dig-dug tak keruan.
Arka diam sejenak, menatap Maura yang tampak sangat anggun malam itu dengan setelan outer terracotta-nya. Alih-alih langsung menagih atau mengeluarkan catatan, Arka hanya mengangguk pelan dengan ekspresi datarnya yang melembut.
“Padahal santai saja,” tutur Arka dengan nada suara rendah yang terdengar begitu hangat di telinga Maura. Cowok itu membetulkan posisi berdirinya, lalu melanjutkan, “Kamu kan lagi butuh uang banyak.”
Kalimat spontan dan penuh perhatian dari sang Ketua OSIS itu seketika membuat jantung Maura serasa melompat dari tempatnya. Gengsi setinggi langit yang ia bangun sejak sore mendadak runtuh total, menyisakan desir halus yang membuat hatinya yang semula duka dan lara kini menghangat sepenuhnya di bawah pendar lampu pesta.
###
Dari sudut lain halaman belakang, Bunga memperhatikan gerak-gerik Maura yang luar biasa salah tingkah. Tadinya, Bunga berniat melangkah maju untuk menemani sang bendahara. Namun, ia segera mengurungkan niatnya. Bunga sengaja membiarkan Maura berjuang sendirian agar sahabatnya itu melatih keberanian untuk berbicara langsung dengan Arka tanpa tameng siapa pun.