LDR: Love, Duty, Regret

Intan Purnama
Chapter #22

Back to School


Masa liburan sekolah yang menyenangkan akhirnya resmi usai, menyisakan helai-helai memori manis yang siap disimpan rapat. Namun bagi Bunga, berakhirnya liburan kali ini membawa semburat lara yang cukup menyesakkan dada. Ini artinya, hari keberangkatan Zidan untuk melanjutkan studi ke Jakarta sudah berada di depan mata.

Sesuai dengan janji yang pernah terucap jauh-jauh hari, Bunga ingin memberikan perpisahan yang manis sekaligus berguna. Gadis itu mengajak Zidan untuk pergi berbelanja segala macam kebutuhan merantau di salah satu supermarket besar di pusat kota.

Suasana supermarket yang cukup ramai sore itu tidak mengurangi kebersamaan mereka. Bunga dengan teliti mendorong troli belanjaan, sementara Zidan berjalan di sisinya dengan dahi sesekali berkerut, menimbang-nimbang barang yang ia perlukan.

Jemari Bunga bergerak lincah mengambil beberapa keperluan esensial dari rak—mulai dari deretan kotak penyimpanan praktis, handuk baru, perlengkapan mandi, hingga beberapa camilan instan untuk menemani malam-malam sepi Zidan di kamar kos Jakarta nanti. Zidan sempat beberapa kali menolak dengan halus karena merasa barang-barang pilihan Bunga terlalu banyak, namun tatapan tegas dari sang kekasih langsung membuatnya pasrah mengangguk setuju.

Setelah keranjang belanjaan penuh dan selesai dikemas ke dalam bagasi, petualangan sore itu tidak berhenti di sana. Bunga menarik lengan Zidan menuju ke sebuah restoran bernuansa hangat dan elegan yang terletak tidak jauh dari pusat perbelanjaan untuk menikmati dinner berdua.

Meja di sudut ruangan dengan pendar cahaya lampu yang temaram menjadi saksi bisu bagaimana mereka menghabiskan malam. Aroma hidangan yang menggugah selera tersaji rapi di atas meja. Di sela-sela dentingan sendok dan garpu, mereka bercerita banyak hal, mencoba mengusir bimbang dan gelisah yang diam-diam merayap di benak masing-masing tentang hubungan jarak jauh yang akan segera mereka hadapi.

Seperti biasa, begitu sesi makan malam mewah itu berakhir, Bunga langsung mengeluarkan ponselnya. Tanpa memberikan celah bagi Zidan untuk merogoh dompet, Bunga dengan sigap melakukan pembayaran digital untuk menanggung semua biaya belanjaan dan makan malam mereka. Sebagai seorang gadis yang mandiri dan sudah memiliki penghasilan sendiri, bagi Bunga, memanjakan cowoknya di hari-hari terakhir sebelum merantau adalah bentuk kasih sayang tulus yang tidak perlu diperhitungkan kasta sosialnya.

Zidan hanya bisa menatap Bunga dengan pandangan nanap penuh haru dan rasa terima kasih yang mendalam, menyadari betapa beruntungnya ia memiliki sosok Bunga di dalam hidupnya.

Di tengah pendar cahaya lampu restoran yang temaram dan hangat, denting sendok beradu pelan dengan piring kaca, menciptakan simfoni sunyi yang mengiringi jamuan terakhir mereka. Zidan perlahan meletakkan garpunya, menatap lekat-lekat sepasang netra Bunga yang sejak tadi tampak redup didera duka dan lara menahan rindu yang bahkan belum dimulai.

Zidan memajukan sedikit tubuhnya, meraih jemari Bunga di atas meja lalu menggenggamnya dengan erat. “Bung, dengerin gue ya,” ucap Zidan, suaranya yang bariton terdengar sangat lembut namun penuh penekanan.

Bunga mendongak, menatap wajah cowok yang selama ini selalu pasang badan untuknya di organisasi.

“Mulai minggu depan, gue udah gak ada di samping lo lagi. Jarak Jakarta sama Yogyakarta itu lumayan jauh,” lanjut Zidan, sepasang matanya mencelang menatap Bunga penuh arti. “Tapi gue mau lo tetap baik-baik saja di sini. Jangan malas makan, jangan kecapean kerja, jangan begadang cuma buat maraton drakor atau bikin konten, dan yang paling penting... lo harus tetap semangat belajar. Bulan depan kita udah kelas dua belas, perjuangan lo buat kelulusan bakal lebih berat. Jadi, fokus ya, Bung?”

Mendengar rangkaian pesan tulus itu, dada Bunga berdenyut nyeri. Namun, ia tidak ingin momen malam romantis ini rusak karena air matanya. Bunga menarik napas dalam-dalam, mengulas senyum manis terbaiknya, lalu membalas genggaman tangan Zidan tak kalah erat.

“Iya, Zidan. Gue janji bakal tetap semangat belajar kok,” lirih Bunga. Ia menjeda kalimatnya, merapikan letak duduknya sejenak. “Tapi lo juga harus janji satu hal sama gue. Jaga kesehatan lo baik-baik di Jakarta nanti. Di sana kotanya sibuk banget, hawanya panas, dan lo gak punya siapa-siapa di awal merantau. Jangan terlalu diforsir belajarnya sampai lupa waktu. Kalau lo sampai sakit di asrama sendirian, gue di sini yang bakal kalang kabut dan bimbang terus.”

Zidan tersenyum tipis, sebuah senyuman hangat yang seketika meruntuhkan sisa-sisa kegelisahan di dalam labirin pikiran Bunga. “Iya, gue janji.”

Kelingking mereka malam itu tidak bertautan secara fisik seperti Genta dan Pelita, tetapi pertukaran tatapan mata dan untaian pesan yang saling mengunci di sudut restoran itu sudah menjadi sebuah janji tak berujung yang sakral. Mereka tahu, jarak membentang di depan mata, namun komitmen yang telah terjalin kuat di dalam dada akan menjaga hubungan mereka tetap utuh melintasi batas kota.

###

Keesokan harinya, hiruk-pikuk Stasiun Lempuyangan terasa begitu riuh, berbanding terbalik dengan sudut peron tempat Bunga dan Zidan berdiri yang diselimuti keheningan emosional. Deru mesin kereta api yang bersiap berangkat seolah menjadi hitung mundur bagi perpisahan mereka.

Dengan mata berkaca-kaca yang mulai digenangi air mata, Bunga menatap lekat-lekat wajah Zidan. Dadanya terasa sesak membayangkan hari-hari ke depan yang akan terasa sepi tanpa kehadiran cowok itu. Saat pluit petugas stasiun melengking nyaring, tanda kereta akan segera melaju, Bunga terpaksa melepaskan genggaman tangannya dari Zidan.

Zidan melangkah naik ke gerbong, lalu berbalik di ambang pintu kereta untuk menatap Bunga terakhir kalinya.

“Dan... kabarin aku kalau udah sampai ya!” seru Bunga setengah berteriak sembari melambaikan tangannya dengan gerakan lemah.

Zidan mengangguk kuat dari atas gerbong. Ia segera memalingkan wajah sejenak, menyeka sebulir air di sudut matanya yang hampir menetes menggunakan ujung jari. Di detik-detik terakhir ini, Zidan sama sekali tidak mau terlihat lemah di depan Bunga. Sebagai laki-laki yang akan merantau demi masa depan, ia harus tetap kuat, menunjukkan bahwa ia siap menghadapi peliknya kehidupan di Jakarta.

Klak-klik-klak...

Roda besi kereta perlahan berputar, membawa gerbong yang dinaiki Zidan bergerak maju dan lambat laun menghilang di ujung rel, meninggalkan kepulan asap tipis dan jarak yang kini resmi membentang di antara mereka.

Lihat selengkapnya