Ponsel di tangan Bunga bergetar, sebuah notifikasi panggilan masuk terpampang di layar. Bunga menggeser tombol hijau di layar ponselnya, lalu menempelkannya ke telinga seraya melangkah sedikit menjauh dari kehebohan meja kantin.
“Bung, udah bernyawa lo?” ejek Dion langsung di seberang telepon, memecah kesunyian dengan nada suara tengilnya yang khas.
Bunga mendengus kesal. Kedua alisnya bertautan, merasa dongkol karena langsung diserang ejekan di hari pertama sekolah. “Dari dulu udah bernyawa gue! Ada perlu apa?” ketus Bunga, mencoba mengimbangi gaya bicara Dion agar tidak terlihat lemah.
“Biasa, ada job,” sahut Dion santai, beralih ke topik utama. “Nanti gue share loc tempat pemotretannya. Lo siap, kan?”
Mendengar kata job pemotretan, Bunga mendadak terdiam. Labirin pikirannya kembali berputar rumit. Bayangan tumpukan tugas kelas dua belas yang pelik, ditambah rasa lara karena baru saja ditinggal Zidan merantau, mendadak membuat fokusnya terbagi. Hatinya diselimuti bimbang sejenak.
“Bunga? Hello? Masih di sana gak lo?” panggil Dion menuntut jawaban karena tidak mendengar respons apa pun dari ujung telepon.
Bunga tersentak dari lamunannya. “Eh, iya... Bisa, bisa kok.”
Dion mendengus renyah dari seberang sana. “Ah, elo mah ngelamun mulu! Mentang-mentang cowok lo udah berangkat.”
Mendengar kalimat terakhir Dion, sepasang netra Bunga seketika membelalak. Jantungnya berdegup kencang karena terkejut. Bagaimana bisa Dion tahu soal keberangkatan Zidan ke Jakarta? Padahal, kemarin sore ia hanya pergi berdua saja dengan Zidan ke stasiun.
“Tahu dari mana lo?! Cowok gue berangkat?” Bunga langsung nyolot, suaranya naik satu oktav karena panik sekaligus heran. “Stalking ya lo?!” tuduhnya dengan dahi berkerut tajam.
“Yeee... enak aja lo! Ngapain juga gue kurang kerjaan sampai stalking cowok lo!” bantah Dion super cepat, terdengar kalang kabut tidak terima dituduh sebagai penguntit.
“Terus? Lo tahu dari mana?” desak Bunga tidak mau kalah, menuntut kejelasan dari kalimat misterius Dion.
“Ntar gue jelasin di lokasi ya, bye!”
Tttut! Panggilan terputus sepihak. Dion langsung mematikan sambungan telepon dengan tergesa-gesas sebelum Bunga sempat mengomel lebih panjang. Bunga hanya bisa menatap layar ponselnya dengan rasa gregetan yang membuncah, meninggalkan sejuta tanya di kepalanya yang kian runyam di hari pertama berstatus anak kelas dua belas.
###
Begitu bel pulang sekolah berdentang, Bunga langsung merapikan barang-barangnya dengan tergesa-gesa. Dengan rasa tak sabar yang membuncah di dalam dada, ia bersiap-siap berangkat menuju lokasi pemotretan yang alamatnya sudah dikirimkan Dion lewat WhatsApp. Sepanjang perjalanan, fokusnya benar-benar terbagi; ia sudah tidak sabar lagi ingin segera mendengar penjelasan logis dari mulut cowok tengil itu tentang bagaimana bisa rahasia keberangkatan Zidan bocor ke telinganya.
Langkah kaki Bunga membawa tubuhnya melewati pintu masuk studio foto bernuansa industrial modern. Namun, begitu ia tiba di lokasi dan matanya menangkap sosok Dion yang sedang bersandar santai di dekat lampu softbox, Bunga langsung melangkah lebar menghampirinya.
“Dion, lo utang penjelasan ke—”
Belum sempat Bunga menuntaskan kalimat tuntutannya, rombongan tim make-up artist (MUA) dan penata busana tiba-tiba saja datang menyerbu. Tanpa bisa menghindar, tubuh Bunga langsung ditarik paksa menuju ruang ganti dan meja rias. Prosedur profesional studio kerja memisahkan mereka berdua dalam sekejap, membuat Bunga terpaksa menahan rasa penasarannya yang kian menggebu-gebu di balik polesan kuas bedak.
Proses pemotretan sore itu berjalan cukup padat dan melelahkan. Setelah melewati beberapa kali sesi foto dengan berganti-ganti kostum—mulai dari gaya kasual remaja hingga busana formal yang anggun—sang fotografer akhirnya menurunkan kameranya.
“Oke, istirahat tiga puluh menit ya semuanya!” seru sang pengarah gaya.
Mendengar pengumuman itu, Bunga tidak membuang waktu untuk bersantai. Sambil menyeka keringat tipis di pelipisnya, ia langsung berjalan mengedarkan pandangan, mencari keberadaan Dion di antara kru studio. Begitu melihat targetnya sedang duduk santai di sudut sofa, Bunga langsung menyergapnya.
“Dion, jelasin sekarang!” paksa Bunga telat, kedua tangannya bersedekap di depan dada dengan dahi berkerut tajam, memasang gestur mengancam yang tidak bisa dibantah.
Dion yang mendongak mendapati tatapan horor itu tampak tidak terganggu. “Santai aja kali, Bung,” jawab Dion enteng. Ia meraih dan meneguk minuman boba dinginnya yang tergeletak di atas meja untuk membasahi tenggorokan.
Namun, melihat Bunga tetap berdiri kaku di tempatnya tanpa niat untuk melunak, posisi duduk Dion yang semula bersandar santai langsung berubah tegap. Ia meletakkan kembali cup bobanya, tahu kalau pembelaannya harus segera dikeluarkan sebelum gadis di hadapannya ini meledak.
“Jadi gini, Bung... lo tahu kan kalau anggota Paskibraka Nasional itu dipilih dua orang dari setiap provinsi?” tanya Dion memulai penjelasannya dengan nada serius yang jarang ia tunjukkan.
Bunga mengangguk pelan, sepasang netranya mencelang menunggu inti cerita.
“Oke! Dua orang pilihan dari provinsi kita itu terdiri dari satu putra dan satu putri,” lanjut Dion sembari menatap lurus ke arah Bunga. “Nah, satu orang putra yang terpilih itu adalah Zidan dari sekolah lo. Dan satu lagi kuota putri, kebetulan banget diisi sama siswi dari sekolah gue. Dia teman dekat gue, dan dia juga baru berangkat ke Jakarta kemarin barengan sama cowok lo. Makanya gue bisa tahu.”
Mendengar penuturan runtut dan fakta tak terbantahkan dari Dion, Bunga seketika tertegun. Labirin kecurigaannya runtuh seketika. Perlahan, ia menurunkan kedua tangan yang semula bersedekap di dada, digantikan oleh rasa kikuk yang menjalar ke seluruh wajah.
Bunga mengangguk-angguk paham, menyadari bahwa dugaannya selama di kantin tadi siang meleset total. Hatinya yang sempat dongkol kini dipenuhi rasa bersalah karena telah salah menuduh Dion melakukan hal yang tidak-tidak seperti menguntit kekasihnya. Di balik jepretan kamera sore itu, satu teka-teki akhirnya terjawab dengan cara yang sama sekali tidak pernah ia duga.