LDR: Love, Duty, Regret

Intan Purnama
Chapter #24

PRASANGKA atau FAKTA?


Di dalam bilik toilet yang sunyi, Bunga terduduk lemas di atas penutup kloset. Kedua lututnya bergetar. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia mengangkat kembali layar ponsel Dion yang masih menyala. Ibu jari Bunga bergerak menyentuh layar, memperbesar (zoom-in) foto selfie Tanti berulang-ulang hingga batas maksimal.

Kini, sosok di latar belakang itu terlihat sangat jelas.

Itu benar-benar Zidan. Bunga menghafal setiap detail cowok itu—potongan rambutnya, postur bahunya yang tegap, hingga gelang hitam tipis di pergelangan tangannya. Tidak ada ruang untuk penyangkalan lagi. Namun, yang membuat dada Bunga terasa seperti dihantam godam adalah senyuman di wajah Zidan saat menerima botol minuman dari gadis jangkung di sampingnya. Senyuman hangat yang selama ini Bunga kira hanya milik hubungan mereka, kini terbagi dengan orang lain di luar sana.

Air mata Bunga luruh tanpa ampun, membasahi pipinya yang masih tertutup sisa make-up pemotretan. Rasa lara, bimbang, dan kecewa bercampur aduk menjadi satu, menyumbat tenggorokannya hingga terasa sesak. Di sini, di Yogyakarta, ia mati-matian menahan rindu, membagi waktu antara sekolah, belajar SNBT, dan bekerja keras sebagai model sampai kelelahan. Tapi di sana, di Jakarta, Zidan justru tampak begitu mudah menemukan pengganti yang bisa mengisi hari-harinya.

“Kenapa, Dan...? Kenapa lo setega ini sama gue?” bisik Bunga di antara sisa isis tangisnya, suaranya terdengar sangat rapuh.

Didorong oleh rasa kecewa yang luar biasa dan kenekatan yang tiba-tiba membubung tinggi, Bunga buru-buru merogoh sakunya sendiri, mengambil ponsel pribadinya. Dengan jemari yang basah oleh air mata, ia mencari kontak Zidan dan langsung menekan tombol panggilan.

“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan...”

Suara operator mesin itu terdengar seperti ejekan di telinga Bunga. Ia mencoba menelepon lagi sampai tiga kali, namun hasilnya tetap sama. Nihil.

Rasa frustrasi yang memuncak membuat Bunga nekat. Ia beralih menggunakan ponsel Dion yang masih ada di pangkuannya. Ia membuka kembali obrolan WhatsApp dengan Tanti, lalu tanpa izin langsung menekan ikon telepon di pojok kanan atas, berniat menuntut penjelasan langsung dari teman Dion itu tentang apa yang sebenarnya terjadi di balik foto tersebut.

Sayangnya, panggilan itu pun tidak berubah menjadi nada sambung. Hanya ada tulisan 'Memanggil' yang sedetik kemudian berubah menjadi 'Gagal'. Nomor Tanti pun mendadak tidak aktif.

Bunga melempar kedua ponsel itu ke atas pangkuannya, lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Tangisnya kembali pecah, lebih hebat dari sebelumnya. Ia merasa benar-benar tak berdaya, terkurung dalam labirin buntu tanpa bisa meminta kejelasan pada siapa pun.

Bunga tidak pernah tahu, bahwa jauh di kompleks karantina Jakarta sana, waktu baru saja habis. Aturan ketat Desa Bahagia tidak pernah bisa ditawar.

Tepat lima belas menit setelah ponsel dibagikan—bukan satu jam seperti perkiraan awal karena ada evaluasi mendadak dari pelatih—peluit komando kembali melengking nyaring memecah aula.

“Waktu habis! Kumpulkan kembali ponsel kalian ke dalam kotak logistik per-provinsi sekarang juga! Tidak ada toleransi!” teriakan bariton sang sersan instruktur menggema tanpa ampun.

Zidan, Tanti, Melati, dan puluhan anggota Paskibraka lainnya langsung bergerak kalang kabut mematikan daya ponsel mereka secara serentak. Ponsel-ponsel itu kembali dikunci rapat di dalam kotak logistik, meninggalkan semua jaringan komunikasi terputus total.

Zidan kembali berjalan ke lapangan dengan langkah tegap, berbaris di bawah komando tanpa pernah tahu bahwa di sudut toilet sebuah studio di Yogyakarta, Bunga sedang menangis sesenggukan menatap foto selfie Tanti dengan hati yang hancur berkeping-keping.

###

 

Bunga memejamkan mata kuat-kuat, menarik napas dalam-dalam untuk mengisi rongga dadanya yang terasa sesak. Ia membasuh mukanya dengan air wastafel secara perlahan, mencoba menghapus sisa-sisa air mata dan menata kembali keteguhan di dalam hatinya. Ia harus kuat. Ia tidak boleh terus terkurung di dalam bilik sunyi ini.

Dengan tangan yang masih sedikit bergetar, Bunga memutar kunci pintu toilet lalu melangkah keluar. Begitu pintu terbuka, pemandangan pertama yang menangkap netranya adalah sosok Dion. Punggung cowok itu masih setia bersandar di dinding lorong, menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak beranjak satu inci pun demi menunggunya keluar.

Mendengar suara langkah kaki, Dion langsung menegakkan tubuhnya. Begitu melihat wajah sembap dan sepasang mata Bunga yang memerah didera lara, Dion mendadak mati kutu. Lidahnya kelu.

“Bung... Mm... sorry, gue...” Dion terbata-bata, kebingungan harus bicara apa karena merasa bersalah telah memicu keruntuhan emosi sahabatnya itu.

Bunga memaksakan seulas senyum tipis, lalu menyodorkan ponsel milik Dion kembali. “It's okay. Ini bukan salah lo kok,” jawab Bunga lirih, suaranya terdengar serak dan sangat rapuh.

Melihat kerapuhan yang begitu nyata dari seorang Bunga yang biasanya selalu ceria dan nyolot, hati Dion ikut berdenyut nyeri. Tanpa pikir panjang, Dion melangkah maju. Ia segera memegang kedua bahu Bunga dengan mantap, menatap lurus ke dalam netra gadis itu untuk menyalurkan kekuatan.

“Siapa pun Zidan di luar sana, lo tetep Bunga yang mekar dan cantik, Bung,” tutur Dion dengan nada suara yang melembut tulus, berusaha sekuat tenaga menghibur dan mengembalikan  kepercayaan diri partner-nya yang sedang runtuh.

Namun, untaian kalimat penenang dari Dion justru menjadi pemecah bendungan air mata yang sejak tadi mati-matian Bunga tahan. Bukannya mereda, tubuh Bunga malah mendadak berguncang hebat karena tangisnya langsung pecah lagi. Pertahanannya hancur total, membuat seluruh tubuhnya lemas seolah kehilangan tulang penyangga.

Melihat kondisi Bunga yang sekalut itu, Dion dengan sigap langsung menarik tubuh Bunga ke dalam dekapannya. Ia memeluk gadis itu dengan erat, membiarkan kepala Bunga bersandar di pundaknya yang kokoh untuk menumpahkan segala duka, kecewa, dan bimbang yang meletup-letup di dalam dada.

“Nangis aja, Bung. Keluarin semuanya,” bisik Dion lirih.

Sambil terus mendekap, tangan Dion bergerak konstan menepuk-nepuk lembut punggung Bunga, berusaha menenangkan badai emosi yang sedang menyiksa batin sang model di bawah pendar redup lampu lorong studio sore itu.

###

Keesokan harinya, mendung seolah berpindah ke koridor kelas dua belas SMAN 1 Nusa Bangsa. Bunga berjalan menunduk melewati ambang pintu kelasnya dengan langkah yang teramat berat. Wajahnya pucat, dan sepasang matanya tampak bengkak serta sembap, sisa dari badai air mata yang tumpah semalaman di kamarnya.

Maura, yang sejak pagi memang mengawasi sahabatnya dari kejauhan, tidak bisa lagi membendung rasa cemasnya. Begitu bel pergantian jam berbunyi pendek, Maura langsung meluncur mencari Bunga ke kelasnya, menuntut kejelasan atas duka dan lara yang terpancar jelas di wajah sang sekretaris.

“Bung, lo kenapa sih? Muka lo berantakan banget kayak gini. Cerita sama gue, lo ada masalah apa?!” paksa Maura setengah berbisik, matanya mencelang cemas sembari memegang kedua lengan Bunga.

Lihat selengkapnya