LDR: Love, Duty, Regret

Intan Purnama
Chapter #25

Fakta yang Terungkap

Selama satu minggu lamanya, Bunga selalu menjalani kehidupan dengan murung. Di sekolah ataupun di rumah, dia tak lagi ceria. Ibunya mengira Bunga masih sedih karena harus menjalani hubungan jarak jauh alias LDR dengan Zidan. Namun, Bunga memilih untuk tak mau bercerita tentang Zidan di rumah. Jauh di dalam lubuk hatinya, dia masih ingin mengetahui faktanya langsung dari mulut Zidan. Bunga masih mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa foto yang ia lihat sebelumnya di studio Dion hanyalah prasangka buruknya saja. Mungkin yang ada di foto itu memang kebersamaan Zidan dengan semua teman barunya di sana, pikirnya mencoba menepis lara.

Tiap di sekolah, Maura, Tiara, dan Sisca selalu mencoba untuk menghibur Bunga, tapi usaha aliansi sahabatnya itu tak kunjung berhasil. Sama halnya dengan Arka; cowok kaku itu selalu mencoba mengalihkan kesedihan Bunga pada hal-hal positif, memastikan fokus gadis itu tidak hancur di awal kelas dua belas.

Jauh di Jakarta sana, Zidan masih berlatih mati-matian di bawah terik mentari demi upacara peringatan hari kemerdekaan Indonesia. Di sela-sela istirahat latihan PBB yang menguras fisik, Melati selalu menghampirinya. Mereka akhirnya menikmati sebotol air mineral berdua karena stok air milik Zidan sudah ludes tak tersisa.

Sambil menyeka keringat yang bercucuran di pelipis mereka yang sama-sama menghitam karena terbakar matahari, obrolan mengalir di antara keduanya.

“Bapak kamu di Denpasar kerja apa, Mel?” tanya Zidan membuka percakapan, meluruskan kakinya di atas rumput lapangan yang panas.

“Bapak cuma buruh serabutan, Dan. Kalau ada proyek baru kerja. Ibu jualan canang sari di pasar,” sahut Melati dengan senyum tulus, tanpa ada nada minder sedikit pun. “Makanya, pas aku bisa lolos ke Jakarta, mereka seneng banget. Setidaknya bisa angkat derajat keluarga sedikit. Kalau kamu?”

Zidan tertegun, menatap botol minum di genggamannya. “Hampir mirip. Nyokap gue cuma ibu rumah tangga biasa, dan bokap baru banget resmi pensiun dari Kantor Pos pas gue naik kelas dua belas ini. Makanya, kondisi ekonomi keluarga gue sekarang pas-pasan banget, Mel. Kami harus bener-bener hemat dan mutar otak buat biaya sehari-hari.”

Melati mengangguk-angguk paham, sorot matanya memancarkan empati yang mendalam. “Kita sama-sama berjuang dari kondisi yang gak mudah ya, Dan. Makanya di sini kita gak boleh lembek. Harus tegap sampai akhir.”

Mendengar rangkaian kalimat lembut dari Melati, Zidan terdiam. Sisi batinnya mendadak bergejolak, memunculkan sebuah monolog yang mulai mempertanyakan hubungannya sendiri di Yogyakarta.

“Kenapa rasanya Melati lebih memahami gue daripada Bunga?” batin Zidan egois.

Kondisi latar belakang kehidupan keluarga mereka yang sedang berjuang di finansial yang mirip itu membuat Zidan makin merasa betah berada di dekat Melati, perlahan-lahan mengikis bayangan Bunga yang setia menunggu di Jogja. Perbedaan kasta sosial yang dulu sempat mengganjal pikirannya kini mencuat kembali, memicu pemikiran lain di kepala Zidan.

“Kalau sama Bunga... gue selalu ngerasa berutang budi karena kebaikan keluarganya. Dunia dia terlalu gemerlap, dan rasanya berat banget, bikin gue minder setiap kali harus ketemu atau berhadapan sama keluarganya yang serba berkecukupan. Tapi kalau sama Melati, gue ngerasa setara.”

Hari Minggu yang dinanti akhirnya tiba. Di kamarnya, Bunga ingat betul momen ketika Tanti mengirim pesan pada Dion seminggu lalu. Itu terjadi pada hari Minggu. Sadar bahwa ini adalah waktu satu-satunya bagi para peserta karantina untuk memegang ponsel, Bunga mencoba menghubungi nomor Zidan lagi, setelah seminggu sebelumnya didera buntu karena nomor cowok itu tidak aktif.

Tttuut… Ttuuut…

Sembari mendengar nada tunggu yang berdering di seberang sana, Bunga menggigit bibir bawahnya dengan cemas. Kuku-kukunya saling bergesekan, memperlihatkan gestur tubuh yang tampak tak tenang dan tak sabar untuk segera mendengar suara Zidan.

Cklek.

“Halo, Bunga? Apa kabar?” Suara bariton Zidan akhirnya terdengar memecah jaringan telepon.

Mendengar suara yang dirindukannya itu, pertahanan Bunga runtuh. Dia langsung terisak pelan. “Zidan... kenapa kamu baru angkat telepon aku?”

“Loh? Kamu nangis, Bung? Kenapa? Kamu sehat, kan?” tanya Zidan di seberang sana, terdengar panik namun ada nada bersalah yang terselip tipis.

Bunga menyeka air matanya cepat. “Aku sehat kok, aku cuma kangen banget sama kamu.”

Zidan menghela napas lega. “Syukurlah. Kamu jaga kesehatan ya di sana... Aku baru bisa aktif sekarang, Bunga. HP aku disita total selama pelatihan semi-militer ini. Maaf ya,” alibi Zidan terdengar begitu profesional.

Bunga menarik napas dalam-dalam, mencoba memberanikan diri memancing kebenaran tanpa ingin langsung menuduh karena ia masih memegang teguh pemikiran bahwa Zidan adalah cowok yang setia. “Kamu... gak lagi deketin anggota lain kan di sana?”

Zidan tertawa pelan di seberang telepon, mencoba terdengar sealamiah mungkin untuk menutupi riak bersalahnya. “Apaan sih kamu, Bung. Aku di sini lagi fokus banget buat tanggal 17 bulan depan, latihan terus sampai remuk. Kamu jaga diri baik-baik ya di sana. Ini sebentar lagi HP aku udah mau dikumpulin lagi sama pelatih.”

“Iya sayang, kamu juga sehat-sehat terus ya di sana,” jawab Bunga akhirnya mengalah. Ia tersenyum tipis lalu menyeka sisa air mata di pipinya. Sambungan telepon pun terputus.

Setelah mendapatkan konfirmasi langsung dari Zidan, labirin buntu di hati Bunga agak melunak. Hatinya kini terasa jauh lebih tenang.

###

“Nah, gitu dong! Senyum!” ujar Dion yang tiba-tiba saja muncul dari balik tirai pembatas studio.

Hari ini Bunga memang harus kembali berada di lokasi pemotretan, menggantikan sesi kerja minggu lalu yang gagal total akibat Bunga terus-menerus menangisi kepergian Zidan.

Bunga menoleh, lalu berdiri dengan tegak. “Yuk kerja lagi, Yon! Ajak gue foto sekarang!” ajak Bunga dengan senyum lebar—sebuah pemandangan segar yang baru Dion lihat kali ini pasca-gadis itu menangis sesenggukan seminggu yang lalu.

Dion menyerahkan sebotol air mineral dan beberapa lembar tisu pada Bunga. “Nih minum dulu. Hapus dulu tuh make-up lo, berantakan banget gara-gara nangis tadi!”

Bunga mengangguk patuh, lalu meneguk air mineral di botol untuk membasahi tenggorokannya. “Yon, ternyata gue cuma salah sangka aja kemarin sama Zidan. Gue udah konfirmasi langsung kok tadi lewat telepon. Gue tahu, Zidan pasti setia sama gue,” tutur Bunga penuh keyakinan sambil menyeka sisa maskaranya yang sempat luntur.

Dion hanya mengangguk-angguk pelan. “Syukurlah kalau gitu,” ucapnya pendek, memaksakan senyum di wajahnya.

Lihat selengkapnya