LDR: Love, Duty, Regret

Intan Purnama
Chapter #26

Bom Waktu Digital


Sementara itu, di belahan kota Yogyakarta yang lain, tepatnya di SMAN 4 Yogyakarta, Dion mengambil langkah nekat. Begitu menerima notifikasi pesan berisi informasi plus foto terbaru yang dikirimkan oleh Tanti lewat WhatsApp, Dion langsung kabur membolos di jam istirahat. Menggunakan mobilnya, ia memacu kecepatan menembus jalanan menuju SMAN 1 Nusa Bangsa. Misinya hanya satu: mencegah Bunga mengetahui hal itu sendirian.

“Gila sih si Zidan! Bisa-bisanya kecantol cewek Bali di sana, padahal si Bunga kurang apa? Udah cantik, setia lagi!” umpat Dion berapi-api sambil memukul setir mobilnya kasar.

Ttiiiittt!!!

Dion spontan menekan klaksonnya dengan keras saat melihat siluet seorang gadis berjalan lunglai keluar dari gerbang SMAN 1 Nusa Bangsa. Itu Bunga. Gadis itu nekat membolos demi menghindari labirin sesak di kantin.

Dion menurunkan kaca mobilnya, lalu melepas kacamata hitam yang bertengger di hidungnya. “Loh? Mau kemana lo, Bung? Bolos?” tanya Dion awalnya mencoba mencairkan suasana.

Namun, begitu mendapati wajah Bunga sudah basah kuyup berlinangan air mata dengan tatapan kosong, kepanikan Dion memuncak. Ia segera mematikan mesin, keluar dari mobil, lalu setengah menyeret tubuh lemas Bunga untuk masuk ke dalam kursi penumpang.

Di dalam kabin mobil yang tertutup, Bunga akhirnya menangis sejadi-jadinya. Isak tangisnya melengking pilu, menumpahkan segala duka, kecewa, dan lara yang membakar dadanya. Dion hanya bisa diam membeku di balik kemudi. Ia menghela napas berat, tampaknya taktiknya sudah terlambat. Fakta yang dikirim Tanti sudah lebih dulu menghantam batin gadis di sampingnya ini.

“Bawa gue pergi dari sini, Yon... hiks... bawa gue pergi...” lirih Bunga di sela-sela tangisnya yang sesenggukan.

Mendengar permintaan parau dari Bunga, Dion tidak membuang waktu. Ia langsung menginjak pedal gas dalam-dalam, tancap gas meninggalkan area sekolah. Dion membawa mobilnya membelah jalanan, menuju ke sebuah gedung tinggi yang menjulang yang dulu pernah menjadi tempat pelarian mereka. Tempat di mana Bunga bisa melepaskan seluruh sesak di dadanya, berteriak sekencang mungkin melawan angin.

###

Arka yang sempat melihat siluet Bunga melangkah tergesa-gesa melewati koridor dengan bahu berguncang, langsung bergerak membuntutinya. Instingnya mengatakan ada bahaya yang sedang terjadi. Begitu sampai di area parkiran sekolah dan menyaksikan Bunga masuk ke dalam mobil Dion dengan kondisi berantakan, Arka tidak membuang waktu. Ia segera meluncur, memacu motor matic-nya membelah jalanan Yogyakarta demi mengejar mobil hitam tersebut.

“STOP!!” teriak Arka lantang, menyergap langkah Dion dan Bunga yang baru saja akan melewati pintu masuk gedung tinggi yang menjulang itu. Napas Arka sedikit memburu. “Lo mau bawa Bunga kemana?!” desak Arka sembari melangkah lebar menghampiri mereka berdua, menghalangi jalan.

Dion yang didera panik dan emosi langsung balas menatap tajam. “Lo gak lihat apa, Bunga lagi sedih?! Dia butuh tempat sepi!” bentak Dion tak kalah sengit.

Pandangan Arka perlahan beralih pada gadis di samping Dion. Bunga berdiri menunduk sangat dalam, jemarinya saling meremas, tampak begitu lesu, rapuh, dan berantakan. Mengingat isak tangis Bunga di teras rumah kemarin sore, Arka tahu ia tidak bisa membiarkan ketenangan gadis ini hancur sendirian.

“Ya udah, gue ikut!” seru Arka tegas, mutlak tanpa bisa dibantah.

Begitu tiba di area rooftop gedung, angin kencang langsung menyapu wajah mereka. Dion dan Arka memilih membiarkan Bunga duduk menyendiri di salah satu sudut pembatas semen, memberikannya ruang untuk bernapas. Sementara itu, kedua cowok itu melangkah agak menjauh, berdiri di dekat dinding pembatas lain untuk berbicara.

Dalam obrolan yang sempat tertahan riuh angin, Dion akhirnya membuka suara, memberi tahu Arka bahwa sejak ia tiba di depan gerbang sekolah tadi, Bunga memang sudah menangis sejadi-jadinya.

Arka tidak suka bertele-tele. Sebagai mantan Ketua OSIS yang terbiasa dengan draf laporan taktis, ia langsung menembak to the point, menanyakan tentang Zidan pada Dion. “Informasi apa yang lo dapet tentang Zidan?”

Dion malah mengernyitkan dahi dalam-dalam, menatap Arka dengan duga curiga. “Kok lo bisa langsung nanya soal Zidan?”

“Gue udah liat indikasi perselingkuhan si Zidan,” tutur Arka tenang namun tajam, membuat Dion akhirnya menyerah.

Sadar bahwa Arka bukan orang asing yang berniat buruk, Dion akhirnya merogoh sakunya, membongkar informasi pesan serta rentetan dokumentasi terbaru yang ia dapatkan dari Tanti. Ia menyodorkan layar ponselnya ke hadapan Arka.

Grep.

Tangan Arka seketika terkepal sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih saat melihat draf foto terbaru di layar. Di sana, Zidan tampak berdiri begitu dekat dengan Melati di sudut barak yang sepi. Bukan sekadar berbagi botol minum, di foto draf spionase itu, Zidan bahkan terlihat tersenyum hangat sambil mengusap lembut puncak kepala Melati yang berambut pendek. Sebuah gestur yang melompati batas pertemanan biasa.

“Foto dari mana?” tanya Arka dengan suara yang mendadak turun satu oktav, dingin dan menusuk.

Dion langsung menarik kembali ponselnya, menyengir kecut. “Emang penting ya, lo tahu dari mana?” Dion balik bertanya dengan nada defensif. Ia harus mengamankan rahasia sahabatnya, Tanti. Selain dirinya, tidak boleh ada satu orang pun di Jogja yang tahu bahwa Tanti nekat membawa dua HP sekaligus ke karantina ketat Jakarta.

Dion menghela napas berat, menoleh menatap Bunga yang duduk agak jauh di sana, masih melamun menatap jalanan kota di bawah mereka. “Sekarang... kita harus bantu apa?”

Arka tidak langsung menjawab. Sepasang mata elangnya menatap lurus ke depan. “Nama cewek itu siapa?”

“Melati.”

Arka mengangguk pelan, menyerap informasi itu ke dalam kepalanya. Tanpa ragu, ia membalikkan badan dan melangkah lebar menghampiri Bunga.

“Bunga, boleh gue pinjem HP lo?” tanya Arka lembut namun bertenaga saat sudah berdiri di depan gadis itu.

Bunga mendongak lemah. Sepasang netranya yang sembap menatap Arka kosong. Tanpa ada pemikiran apa pun atau draf penolakan, Bunga menyerahkan ponsel pribadinya yang sejak tadi ia dekap erat ke tangan Arka.

Lihat selengkapnya