Beberapa hari setelah kepulangan dari rooftop gedung tinggi—tempat di mana Bunga, Dion, dan Arka sempat terdiam dalam kecemasan yang membuncah—akhirnya hari pertama Agustus tiba. Bunga kini duduk meringkuk di atas tempat tidur kamarnya yang temaram. Ia tidak sendirian; Maura duduk di sampingnya, rela mengabaikan jadwal kerja paruh waktunya demi mendampingi Bunga melalui momen paling krusial dalam hidupnya.
Di tangan Bunga, ponselnya bergetar. Zidan akhirnya aktif kembali setelah sesi outbound yang melelahkan di Jakarta. Panggilan telepon itu pun terjadi, dan seluruh pertahanan Bunga akhirnya runtuh saat Zidan dengan entengnya mengakui ketertarikannya pada Melati.
Begitu kalimat terakhir, “Jangan lirik kanan kiri karena aku udah gak ada di situ!” terucap dengan tegas, Bunga segera mengakhiri sambungan. Ponselnya tergeletak jatuh ke atas kasur dengan suara gedebuk yang pelan.
Dalam sekejap, ketegasan yang baru saja ia bangun luruh. Tubuh Bunga mulai terguncang hebat, isak tangisnya pecah menjadi jeritan tertahan yang menyayat hati. Ia membekap mulutnya sendiri, namun dadanya terasa sesak seolah kehabisan oksigen.
Maura dengan sigap merengkuh tubuh sahabatnya itu, memeluknya erat seolah ingin memastikan Bunga tidak hancur berantakan. Tangan Maura bergerak konstan mengusap-usap punggung Bunga dengan lembut, menyalurkan segala energi ketenangan yang ia miliki.
“Keluarin aja tangisnya, Bung... keluarin sampai lo tenang,” bisik Maura dengan mata yang juga mulai berkaca-kaca.
Di sela pelukan yang menyesakkan itu, Maura tidak tinggal diam. Tangan kirinya bergerak lincah merogoh tas, mengeluarkan ponsel, dan dengan jemari yang gemetar, ia mengetik pesan singkat ke grup chat rahasia mereka:
[Grup: Penyelamat Bunga] Maura: Girls, Zidan baru aja ngaku. Bunga baru aja PUTUS. Dia hancur. Pliss, sekarang juga kalian harus ke rumah Bunga! [Share Location].
Menerima pesan darurat tersebut, Tiara dan Sisca yang kebetulan sedang berada di pusat kota tidak butuh basa-basi lagi. Tiara segera menyambar kunci motornya, sementara Sisca membatalkan rencana nontonnya hari itu. Mereka segera meluncur membelah kemacetan Yogyakarta menuju rumah Bunga, membawa serta semangat untuk memeluk sahabat mereka yang kini sedang meruntuhkan seluruh dunia di dalam kamarnya sendiri.
Di dalam kamar yang hening itu, hanya suara isakan Bunga yang bergema, diselingi oleh bisikan doa dan janji kesetiaan dari Maura yang berjanji tidak akan membiarkan Bunga menghadapi badai ini sendirian.
Di koridor asrama Jakarta, Zidan masih terpaku pasca-sambungan teleponnya dengan Bunga terputus sepihak. Ia menatap lama layar ponselnya yang kini kembali menampilkan menu utama. Dadanya mendadak terasa sedikit hampa, memicu sebuah keraguan yang hinggap di kepalanya.
“Apa... keputusan gue salah? Apa gue bakal nyesel?” batin Zidan bertanya-tanya pada dirinya sendiri, meraba kembali keputusannya yang telah melepaskan gadis sesetia Bunga.
Namun, sebelum labirin penyesalan itu menariknya lebih dalam, sebuah tepukan ringan di bahunya membuyarkan lamunan tersebut. Melati sudah berdiri di sampingnya dengan senyum manis yang menenangkan.
“Dan, kamu udah kabarin orang tua kamu belum? Mereka yang paling tunggu kabar dari kamu loh!” ujar Melati mengingatkan.
Zidan agak terperanjat, namun ia langsung tersadar. “E-eh... iya, Mel. Hampir aja gue lupa,” jawab Zidan seraya buru-buru mencari kontak ibunya untuk melakukan panggilan.
Begitu sambungan terhubung dan suara lembut sang ibu terdengar di seberang sana, Zidan memaksakan suaranya agar terdengar tegap. “Zidan sehat, Bu. Di sini semuanya lancar. Yang penting Ibu doain Zidan terus ya dari rumah.”
Belum sempat sang ibu membalas lebih panjang, dari seberang telepon mendadak terdengar suara kericuhan yang familier di telinga Zidan. Dua adik Zidan tampaknya sedang saling sikut dan berebut ponsel karena ingin berbicara dengan kakak laki-laki kebanggaan mereka.
“Mas Zidan! Mas, mas! Mas kapan muncul di TV, Mas?!” teriak salah satu adiknya heboh langsung di depan speaker.
Zidan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum lebar mendengar celotehan itu. Melati yang sejak tadi berdiri setia memerhatikan interaksi hangat tersebut ikut tersenyum manis.
“Adek kamu?” bisik Melati pelan. Zidan mengangguk mantap.
“Nanti tanggal 17 Agustus, Mas ada di TV. Kalian berdua jangan bangun kesiangan ya!” pesan Zidan seraya tertawa kecil ke arah pengeras suara.
“Horeee..!!!” sorak kedua adiknya kompak dari seberang telepon sebelum panggilan itu akhirnya harus disudahi karena waktu yang kian menipis.
Tepat setelah panggilan ditutup, peluit instruktur kembali melengking nyaring memecah aula Desa Bahagia. Waktu akses ponsel telah habis. Ponsel pintar milik Zidan pun kembali disita dan dikumpulkan ke dalam kotak logistik bersama puluhan ponsel anggota lainnya.
Dengan komunikasi yang kembali terputus total, tidak ada lagi waktu bagi Zidan untuk merenungi kalimat ‘putus’ yang tegas dari Bunga. Segala bimbang dan ragunya sengaja ia tenggelamkan rapat-rapat. Zidan hanya ingin menjalani masa kini, menghadapi realita hari ini di Jakarta, bahwa dirinya harus siap, fokus, dan tegap menghadapi hari kemerdekaan dua minggu lagi di Istana Merdeka.
Grepp!
Sebuah tangan yang hangat dan familier tiba-tiba menggenggam jemari jangkungnya dengan sangat erat, menyalurkan kekuatan baru yang nyata. Zidan menoleh, mendapati Melati sedang menatapnya penuh semangat.
“Ayo, Dan! Kita balik ke barisan!” ajak Melati dengan binar mata yang tegap.
Saat tubuhnya perlahan ditarik oleh Melati untuk kembali bergabung dengan barisan anggota Paskibraka lainnya, batin Zidan kembali berbisik, mengunci ego dan keyakinan barunya dengan mutlak.
“Kayanya... gue gak akan nyesel. Ada Melati di sini.”
Pandangan mata Zidan terkunci sepenuhnya pada siluet Melati yang berjalan tegap di depannya, menuntunnya melangkah mantap menuju barisan, dan benar-benar meninggalkan masa lalunya di Yogyakarta terkubur tanpa sisa.
###
Deru motor Tiara berhenti tepat di depan gerbang tinggi kediaman Bunga. Setelah mengecek gerbang besi itu yang ternyata tidak dikunci, Tiara dan Sisca segera mendorongnya perlahan. Mereka melangkah masuk ke dalam area halaman yang luas, sempat memberikan salam sopan dengan anggukan kepala kepada satpam rumah yang kebetulan sedang berjalan patroli di sekitar taman samping.
Dengan langkah yang sengaja dicepatkan, kedua gadis itu menyusuri koridor rumah yang sepi menuju ke arah kamar Bunga. Begitu pintu kamar terbuka, pemandangan di dalam langsung menyentuh hati mereka. Bunga masih meringkuk di atas kasur, menangis sesenggukan dengan bahu yang naik-turun menahan sesak. Tanpa membuang waktu, Tiara dan Sisca langsung menghambur naik ke atas ranjang, ikut memeluk tubuh sahabat mereka erat-erat.
“Udah, Bunga... jangan nangis terus... Si Zidan gak pantes lo tangisi tahu gak!” hibur Tiara dengan nada gemas, menyalurkan kekesalannya pada cowok di Jakarta itu.
“Bener, Bung. Kita semua ikutan sedih kalau lo nangis terus kayak gini...” timpal Sisca lirih, ikut mengeratkan dekapannya.
Mendengar rentetan kalimat itu, Maura yang sejak tadi memeluk Bunga langsung mendongak. “Sssttttt...!!” Maura meletakkan jari telunjuknya tegak di depan bibir, memberikan isyarat darurat agar kedua temannya itu merendahkan suara mereka.