LDR: Love, Duty, Regret

Intan Purnama
Chapter #28

Dua Kasus



Malam itu, saat Arka dan Genta sedang membereskan sisa semen di lantai atas, mereka tak sengaja melihat siluet seseorang yang usianya mungkin sebaya dengan mereka sedang berdiri di tepi beton bangunan yang belum jadi. Orang asing itu menangis frustrasi, bersiap melompat ke bawah untuk mengakhiri hidupnya sendiri akibat duka dan lara teramat dalam yang menjerat batinnya.

Dengan gerakan taktis dan insting pelindung yang kuat, Arka dan Genta bergerak super cepat. Mereka berhasil menyergap dan menyelamatkan orang itu tepat sedetik sebelum tubuhnya terjun bebas ke tanah.

Kini, orang asing yang penuh misteri itu sedang mereka sembunyikan dengan aman di dalam kamar kontrakan milik Arka, dirawat secara rahasia dan dijaga ketat agar tidak menimbulkan kegaduhan di lingkungan sekolah maupun proyek. Urusan menyelamatkan nyawa manusia inilah yang membuat labirin pikiran Arka dan Genta buntu, terbagi fokus antara membantu misi warisan Sisca atau menyelesaikan masalah pelik yang sedang diderita oleh tamu tak diundang di kontrakan mereka.

Sisca yang sudah kepalang tanggung akhirnya terpaksa membuang gengsinya. Menyadari Jojo adalah satu-satunya kunci yang mengenal persis seluk-beluk sang notaris, Sisca menarik napas dalam-dalam dan membeberkan seluruh masalah manipulasi warisan ibunya oleh Tante Mela di hadapan cowok bermulut blak-blakan itu.

Mendengar cerita Sisca, ekspresi Jojo yang semula meremehkan mendadak berubah serius. Ia terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya menepuk bahu Sisca mantap.

“Kalau masalahnya begini, lo ikut gue sekarang. Ada seseorang yang harus lo temuin,” ujar Jojo tegas. Tanpa memedulikan tatapan protes dari Arka dan Genta, Jojo langsung memimpin jalan mengajak Sisca menuju kontrakan Arka. Padahal, Arka sejak awal sudah mewanti-wanti agar keberadaan pria yang mereka selamatkan itu hanya menjadi rahasia antara dirinya, Genta, dan Jojo.

Begitu pintu kontrakan sederhana milik Arka dibuka, Sisca tertegun. Di atas kasur busa tipis di sudut ruangan, duduk seorang pria berusia sekitar 20 tahun yang wajahnya masih tampak pucat namun gurat ketegasannya mulai kembali. Pria itu adalah Bintang Julian, mahasiswa rantau yang beberapa malam lalu hampir mengakhiri hidupnya sendiri di proyek rumah mewah milik Surya Dharma.

Setelah diperkenalkan oleh Genta, Sisca duduk di kursi plastik berhadapan dengan Bintang. Mereka mulai saling mencocokkan draf informasi, dan seketika itu juga labirin buntu yang mereka hadapi selama ini mendadak terbuka lebar.

“Gue dipaksa memeras otak buat mendesain seluruh rumah mewah itu dengan janji upah besar dan beasiswa penuh,” tutur Bintang, suaranya terdengar bergetar menahan geram. “Tapi setelah cetak biru desain gue selesai dan dipakai, Notaris Surya Dharma memecat gue secara sepihak. Hak cipta gue dicuri, dan gue gak dibayar sepeser pun! Padahal, upah itu satu-satunya harapan gue buat bayar kuliah dan kirim uang bekal buat dua adik gue yang masih SMP dan SD di kampung.” Bintang menunduk, meremas jemarinya yang kapalan. “Gue ngerasa gagal jadi anak sulung...”

Sisca terenyak, matanya membelalak didera syok yang luar biasa. “Surya Dharma?! Jadi pemilik proyek rumah mewah itu Notaris Surya Dharma?!”

Bintang mendongak, dahi berkerut. “Iya. Lo kenal?”

“Dia... dia notaris yang kerja sama dengan tante gue buat menghapus nama gue dari draf surat wasiat mendiang ibu gue!” seru Sisca berapi-api, memukul meja kayu di dekatnya. “Bajingan itu murni bangun rumah mewah pakai duit sogokan dari tante gue dan hasil memeras draf ide lo, Kak!”

Melihat adanya keterikatan nasib yang sama, tatapan Bintang yang semula redup mendadak memancarkan binar pembalasan yang tajam. “Gue tahu setiap jengkal, celah, dan ruangan rahasia di dalam rumah baru itu karena gue yang mendesainnya dari nol. Termasuk ruang kerja pribadi tempat dia biasa menyimpan brankas dokumen rahasia berkas ilegalnya.”

Sisca mengangguk kuat, otaknya langsung berputar taktis menyusun rencana. “Kalau gitu kita dapet umpan balik yang pas! Kak Bintang pegang bukti pencurian hak cipta secara profesional, dan gue cari bukti fisik surat wasiat asli ibu gue di dalam brankas itu!”

Mengingat hukum dan kekuatan koneksi yang dimiliki oleh Notaris Surya Dharma sangat besar, Sisca mendadak teringat pada latar belakang keluarga sahabatnya sendiri yang didera lara di rumah.

“Kayaknya... gue bisa minta bantuan ibunya Bunga buat beresin ini. Beliau kan seorang Jaksa di pengadilan,” usul Sisca dengan mata berbinar.

“JANGAN!!!” teriak Arka lantang.

Suara bariton Arka yang mendadak menggelegar seketika memotong obrolan, membuat seisi ruangan kontrakan yang sempit itu tersentak dan menatap lurus padanya dengan pandangan heran.

Jojo mengerutkan alisnya, menatap ketuanya itu dengan duga curiga. “Lo kenapa heboh banget, Ka?”

“Iya, tumben banget lo langsung teriak gitu,” timpal Sisca ikut mendelik heran pada sikap Arka yang tidak seperti biasanya.

Arka mendadak membisu sejenak. Jantungnya berdegup kencang. Di dalam lubuk hatinya, ia benar-benar tidak ingin Bunga tahu bahwa dirinya memiliki tempat pribadi rahasia seperti kontrakan ini, apalagi dalam kondisi Bunga yang baru saja hancur didera putus cinta dari Zidan. Arka tidak ingin membebani pikiran gadis itu dengan masalah baru.

“Hmm.. mm.. gak apa-apa,” alibi Arka terdengar kaku saat ia mencoba mencari alasan logis. “Cuma... pakai pengacara atau jasa hukum lewat jalur formal itu mahal, ya kan...”

Sisca langsung mengibaskan tangannya santai. “Ya kali aja bisa jadi gratis, Ka! Gue kan temen deketnya Bunga. Nyokapnya pasti mau bantu kalau denger kelicikan tante gue.”

“Bisa jadi tuh! Ide bagus, Sis!” timpal Jojo ikut mendukung, membuat Arka menahan gregetannya setengah mati. Cowok kaku itu hanya bisa diam pasrah, meremas celananya sendiri karena skenario rahasianya mulai goyah.

Bintang menatap Sisca penuh harapan baru. “Oke, kalau gitu coba panggil aja temen lo itu kesini. Biar rencana kita makin matang.” Usul Bintang.

Sisca mengangguk kuat dengan penuh semangat, lalu dengan cepat mengeluarkan ponselnya dan mulai mencari kontak Bunga di WhatsApp, siap meledakkan pertemuan baru yang tidak pernah diduga oleh Arka.

###

Sisca bergerak cepat. Begitu menemukan nama Bunga di daftar obrolan WhatsApp-nya, ia langsung mengirimkan pesan singkat berisi alamat lengkap dan sebuah wanti-wanti keras. Atas kesepakatan bersama di dalam ruangan itu, Sisca meminta agar Bunga datang sendirian dan tidak membawa siapa pun—termasuk Maura dan Tiara—demi menjaga keamanan serta kerahasiaan keberadaan Bintang yang statusnya masih sangat sensitif.

Satu jam kemudian, sebuah taksi online berhenti tepat di depan gang kontrakan Arka. Bunga melangkah masuk dengan ragu-ragu. Wajahnya memang masih menyisakan rona lelah pasca-badai putus kemarin, namun binar matanya jauh lebih hidup karena fokusnya teralihkan oleh panggilan darurat dari sang sahabat.

Begitu pintu tripleks kontrakan dibuka dari dalam oleh Genta, Bunga melangkah masuk dan langsung disambut oleh pemandangan ganjil. Ada Sisca, Jojo, Genta, Arka, dan seorang pria asing berwajah pucat yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Bunga mengernyitkan dahi dalam-dalam, mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan yang dipenuhi buku tebal dan baju yang digantung seadanya. “Ini... tempat siapa sebenarnya?” tanya Bunga kebingungan.

Arka yang berdiri di sudut ruangan langsung menahan napas, bersiap memutar otak untuk mencari alibi. Namun, belum sempat Arka membuka mulut, Jojo sudah lebih dulu memotong dengan kibasan tangan santai.

Lihat selengkapnya