LDR: Love, Duty, Regret

Intan Purnama
Chapter #29

Pengakuan Tiara


Motor matic Arka melaju konstan, membelah jalanan Yogyakarta yang mulai padat merayap oleh kendaraan para pekerja yang baru saja pulang kantor. Angin sore berembus menerpa wajah mereka, membawa aroma aspal yang khas di jam-jam sibuk. Bunga hanya diam di jok belakang, membiarkan Arka memegang kendali penuh atas arah perjalanan mereka tanpa banyak bertanya lagi.

Ternyata, Arka mengarahkan motornya menuju sebuah pusat perbelanjaan besar di tengah kota. Begitu kendaraan terparkir rapi di basement, mereka melangkah masuk. Tanpa aba-aba, tangan jangkung Arka terulur, meraih pergelangan tangan Bunga dengan genggaman yang mantap namun lembut, menuntun langkah gadis itu naik melewati eskalator demi eskalator menuju ke lantai empat.

Begitu menginjakkan kaki di lantai paling atas, telinga Bunga langsung disambut oleh riuh rendah dentum musik digital, lampu neon warna-warni yang berkedip heboh, dan tawa anak-anak. Berbagai permainan seru ada di sana—sebuah arena arcade game yang luas dan padat.

Arka berjalan menuju mesin penukaran, mengeluarkan beberapa lembar uang kertasnya, lalu menukarnya dengan segelas penuh koin-koin perak. Ia kembali menghampiri Bunga sambil menggoyang-goyangkan gelas plastik itu hingga koin di dalamnya berdenting nyaring.

“Nih, abisin,” ujar Arka singkat seraya menyerahkan segelas koin itu kepada Bunga. Cowok kaku itu hanya ingin Bunga sejenak melupakan rasa sedih, duka, dan lara yang sempat mengurung batinnya sejak beberapa hari lalu.

Awalnya Bunga sempat ragu, namun atmosfer riang di tempat itu perlahan-lahan meruntuhkan dinding pertahanannya. Permainan pertama yang mereka datangi adalah mesin basket. Bunga memasukkan beberapa koin, dan begitu bola-bola oranye menggelinding turun, ia langsung bergerak taktis melempar bola ke arah ring dengan cepat.

“Ah, meleset!” seru Bunga gemas saat bolanya memantul di pinggiran besi.

Arka yang berdiri di sampingnya tidak tinggal diam. Tanpa canggung, ia ikut memasukkan koin ke mesin di sebelah Bunga, mulai menembakkan bola-bola dengan akurasi yang tinggi khas fokusnya. “Kuda-kuda lo kurang tegap, Bung. Nih, lihat,” celetuk Arka datar, namun tangannya dengan cepat memasukkan tiga bola beruntun ke jaring hingga papan skor digital mereka berkedip-kedip heboh melampaui batas poin.

Melihat ekspresi Arka yang biasanya sedingin kulkas dua pintu kini mendadak sangat kompetitif di depan mesin permainan, Bunga seketika menyemburkan tawa renyahnya. Tawa pertama yang benar-benar lepas setelah labirin kesedihan panjang yang menguras air matanya.

Tidak berhenti di sana, petualangan malam itu berlanjut ke permainan tembak-tembakan. Bunga memegang pistol plastik berukuran besar dengan posisi menembak yang asal-asalan, didera panik saat layar menampilkan monster digital yang mendekat.

“Ka! Ka! Tolongin gue, ini monster di sebelah kanan banyak banget! Darah gue mau habis!” pekik Bunga heboh, kakinya sampai melompat-lompat kecil di depan layar.

Arka dengan ketenangan esnya langsung mengarahkan moncong senjata plastiknya ke sudut kanan bawah, menembak target dengan presisi tinggi hingga layar menampilkan tulisan 'CLEAR'.

Bunga menoleh ke arah Arka, wajahnya memerah karena lelah dan gembira, lalu tertawa lebar sambil menepuk bahu Arka saking puasnya. “Gila lo, Ka! Jago banget, sering bolos ke sini ya lo?!”

Melihat binar kebahagiaan yang kembali memancar dari sepasang netra sembap Bunga, dan mendengar tawa lepas yang begitu renyah memenuhi sudut arena permainan, sudut bibir Arka perlahan terangkat tipis. Sebuah senyuman manis dan tulus terukir di wajah tampannya, mengunci rasa damai di lubuk hatinya karena misinya untuk menghibur gadis itu berhasil sepenuhnya malam ini.

###

Setelah lelah mencoba berbagai permainan. Arka mengajak bunga ke sebuah kedai eskrim di lantai dua supermarket. Arka menyerahkan buku menu pada bunga menebak bunga takkan memilih rasa stoberi. Benar saja, bunga memilih eskrim vanilla dengan potongan mangga di dalamnya.

Di tengah-tengah menikmati es krim, dalam keheningan... arka berdeham. Ada obrolan yang sedari tadi mengganjal di hatinya namun belum tersampaikan. Melihat jarum jam terus melaju, akhirnya arka bersuara.

Arka: “bunga, gue bukan mau bikin Lo nangis lagi. Tapi... Lo beneran putus?”

Bunga mendongak dari gelas eskrim nya lalu mengangguk.

Bunga: “iya, lo tahu dari siapa?”

Arka: “Sisca.” Arka mengingat Sisca yang tadi sempat berpikir ulang untuk meminta bantuan bunga padahal bunga baru putus.

Arka: “Lo ga akan balikan kan sama Zidan?”

Bunga menggeleng.

Bunga: “buat apa gue balikan sama pengkhianat.”

Arka mengangguk-angguk pelan.

Arka: “ngelihat Lo sedih, gue pikir lo pengen balikan lagi sama Zidan.”

Bunga: “gue cuma sakit hati dan masih ga percaya dia semudah itu selingkuh. Emang cowok ga bisa di percaya!” Bunga meremas cup bekas es krim di hadapannya.

Arka: “lo bisa percaya sama gue.”

Bunga: “hah??” Bunga agak bingung dengan ucapan Arka. “Maksud lo?” Lanjutnya.

Arka menghela nafas panjang

Arka: “Gue serius, Bung. Lo bisa percaya sama gue.”

Arka menatap lurus ke dalam sepasang mata Bunga yang masih menyiratkan keterkejutan. Sifat kaku yang biasanya membentengi cowok itu seolah meleleh bersama es krim di hadapan mereka. Ia memajukan sedikit posisi duduknya, menopang kedua lengan di atas meja demi mengikis jarak.

Arka: “Gue tahu lo baru aja dikhianatin, dan gue tahu rasanya dunia lo kayak runtuh karena orang yang lo percaya malah milih jalan lain. Tapi... lo harus tahu kalau gak semua cowok punya tabiat kayak gitu. Gue ada di sini, Bung.”

Bunga mengerutkan dahinya, jantungnya mendadak berdegup dua kali lebih cepat. Atmosfer di kedai es krim itu terasa mendadak intens. “Ka... maksud lo ngomong gini apa?”

Arka: “Maksud gue, mulai hari ini, lo gak usah nanggung beban sendirian lagi. Ada gue yang bakal selalu ada di belakang lo. Baik itu buat urusan misi Sisca, urusan sekolah, atau... kalau lo cuma butuh tempat pelarian buat nangis atau sekadar main game kayak tadi. Gue gak akan ke mana-mana, dan gue gak akan pernah khianatin kepercayaan yang lo kasih.”

Mendengar penuturan runtut dan penuh kesungguhan dari cowok sedingin es itu, Bunga terpaku. Lidahnya mendadak kelu. Kalimat Arka bukan sekadar ucapan penghibur biasa, melainkan sebuah janji perlindungan yang teramat kokoh. Rasa hangat perlahan menjalar di dada Bunga, perlahan-lahan mengusir sisa-sisa rasa getir yang ditinggalkan Zidan.

Sebelum kecanggungan kembali menyerang, Arka melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul delapan malam. Ia langsung berdiri, memutus kontak mata mereka sejenak demi meredam debaran di dadanya sendiri.

Lihat selengkapnya