LDR: Love, Duty, Regret

Intan Purnama
Chapter #30

Rona Merah yang Bersembunyi


Bel masuk pasca jam istirahat berdentang nyaring, memecah suasana kantin yang masih riuh. Maura, Sisca, dan Tiara segera bergegas menuju kelas mereka masing-masing, meninggalkan Bunga yang beralasan ingin ke perpustakaan sebentar.

Bunga berbelok arah. Ia melangkah mantap menuju rooftop yang sepi, tempat di mana ia bisa menyendiri. Sejak pagi tadi, telinganya sebenarnya sudah menangkap desas-desus mengenai dirinya, namun ia sengaja memasang topeng tegar di depan sahabat-sahabatnya. Ia tidak ingin membuat mereka repot atau merasa harus terus-menerus menghiburnya.

Sesampainya di sana, Bunga duduk di lantai beton yang dingin. Tangannya gemetar saat membuka aplikasi media sosial. Sebuah notifikasi tag pada akunnya membuat jantungnya berdegup tak beraturan. Ia menekan tautan tersebut, dan seketika hatinya mencelos.

Layar ponselnya menampilkan rangkaian foto dan video kedekatan Zidan dengan Melati selama di karantina. Bukan sekadar foto biasa, itu adalah bukti nyata pengkhianatan yang selama ini ia coba sangkal. Tatapan Bunga nanar, napasnya tercekat, hingga akhirnya bulir bening yang sejak tadi ia tahan, menetes deras tanpa permisi.

“Hiks... hiks... hiks...”

Isak tangis itu pecah, memenuhi sudut rooftop yang sunyi. Bunga tidak lagi sanggup membendung rasa sesak di dadanya.

Tiba-tiba, suara gesekan kayu terdengar dari balik tumpukan meja tua di sudut rooftop. Arka, yang rupanya sudah berada di sana sejak tadi—mungkin mencari ketenangan yang sama—muncul dengan raut wajah yang penuh kekhawatiran. Tanpa berpikir panjang, melihat Bunga yang begitu rapuh, Arka melangkah cepat dan langsung menarik gadis itu ke dalam pelukannya.

Bunga tidak menolak. Ia justru membenamkan wajahnya di dada seragam Arka yang terasa hangat, membiarkan isak tangisnya tumpah sejadi-jadinya di sana. Arka membalas pelukan itu dengan erat, satu tangannya mengusap puncak kepala Bunga dengan lembut, seolah ingin menyalurkan kekuatan agar gadis itu tidak hancur oleh kenyataan pahit di depan matanya.

Di atas rooftop itu, di antara tiupan angin siang, Arka membiarkan Bunga meluapkan segala luka yang selama ini ia sembunyikan dengan begitu rapi.

Arka tak mengatakan sepatah kata pun. Ia membiarkan bahunya menjadi sandaran bagi Bunga hingga isak tangis gadis itu benar-benar reda dan bahunya tak lagi berguncang. Saat Bunga perlahan melepas pelukan itu, Arka pun melonggarkan rengkuhannya, meski matanya tetap menatap Bunga dengan tatapan lembut yang penuh perhatian.

Bunga mengusap wajahnya yang basah, lalu menatap seragam Arka yang tampak lembap oleh air matanya. “Sorry, baju lo basah gara-gara gue. Sini, biar gue cuci.”

Arka menggeleng pelan, sudut bibirnya terangkat tipis. “Gak masalah. Gimana? Udah agak lega?”

Bunga mengangguk pelan, meski tatapannya masih terlihat sedikit kosong. “Kayaknya gue gak bisa ikut jam pelajaran sampai akhir, Ka.”

Arka sedikit terkejut. “Ada apa? Lo gak enak badan?”

Bunga menggeleng. “Gue ada kerjaan. Bentar lagi Dion jemput gue di depan.”

Mendengar nama Dion, rahang Arka mengeras sesaat. “Oh, kerja,” ucapnya singkat. Padahal, pikirannya langsung melaju jauh dan liar. Ia mendadak cemas, apakah Bunga benar-benar pergi untuk urusan penting, atau ia hanya menggunakan alasan pekerjaan untuk menghabiskan waktu bersama Dion demi melupakan masalahnya?

Bunga kembali menatap baju Arka yang basah. “Lepasin seragam lo, gue mau cuci.”

“Gak usah, Bung. Gak perlu repot-repot,” tolak Arka, merasa tidak enak hati.

“Buruan!” Bunga memaksa dengan nada tegas, membuat Arka tidak punya pilihan lain selain melepaskan seragamnya di balik kaos oblong yang ia kenakan.

Tepat saat Arka menyerahkan seragam itu ke tangan Bunga, ponsel Bunga bergetar. Sebuah pesan singkat muncul di layar: Gue udah di depan gerbang. -Dion

“Gue duluan ya, Ka!” Bunga menyambar tasnya dan berlari kecil menuju tangga, melesat pergi meninggalkan Arka yang masih berdiri termangu di rooftop sambil memegang seragamnya yang basah.

Arka terdiam sendirian, menatap punggung Bunga yang kian menjauh. Rasa cemburu dan khawatir bercampur aduk di benaknya. Ia tidak takut Bunga pergi bekerja, ia hanya takut Bunga akan membiarkan Dion mengisi kekosongan yang baru saja ditinggalkan oleh Zidan.

###

Meskipun hatinya dihantui rasa gelisah dan kecemburuan melihat Bunga pergi bersama Dion, Arka tetap berusaha bersikap rasional. Ia menyelesaikan jam pelajaran hingga tuntas, meski fokusnya berkali-kali buyar. Begitu bel pulang sekolah berbunyi nyaring, ia tidak menunggu waktu lama. Dengan motor matic-nya, ia melesat menuju lokasi pemotretan yang sempat disebutkan Dion melalui chat WhatsApp mereka.

Sesampainya di sebuah studio semi-terbuka di pinggiran kota, Arka berdiri di sudut ruangan yang gelap, mengamati Bunga dari kejauhan. Gadis itu memang terlihat profesional dengan pakaian yang dikenakannya, namun Arka bisa melihat dengan jelas ada yang salah. Posisi tubuh Bunga sangat luwes, namun tatapan matanya kosong—mati rasa. Fotografer berkali-kali meminta Bunga untuk tersenyum lebih lebar atau menatap kamera dengan lebih hidup, namun Bunga gagal. Ia hanya bisa memberikan senyum kaku yang menyakitkan untuk dilihat.

Arka tidak sanggup lagi melihat Bunga yang "rusak" di depan lampu sorot. Ia melangkah masuk ke tengah set, mengabaikan protes fotografer, lalu mencengkeram lengan Bunga pelan namun tegas.

“Bung, ayo ikut gue!” perintah Arka.

Bunga mengerjapkan mata, tampak bingung karena tiba-tiba diseret keluar dari dunianya. “Kemana, Ka? Gue masih ada sesi pemotretan!”

“Urusan lo sama Dion selesai sampai di sini. Lo butuh udara segar, bukan lampu kamera,” potong Arka. Tanpa memedulikan tatapan tajam Dion, Arka membawa Bunga keluar, memakaikan helm ke kepala gadis itu, dan memacu motornya kencang menjauh dari pusat kota.

Arka membawa Bunga menuju Bukit Bintang di Pathuk, Gunungkidul. Lokasi yang selalu menjadi tempat pelarian terbaik di Yogyakarta.

Sesampainya di sana, Arka mematikan mesin motor. Mereka berdiri di pinggir tebing yang menyuguhkan pemandangan spektakuler. Di bawah sana, lampu-lampu kota Yogyakarta terlihat seperti hamparan permata yang berserakan di atas kain beludru hitam. Angin malam berembus kencang, membawa aroma tanah basah dan kesejukan khas dataran tinggi.

Bunga terdiam, mematung menatap cakrawala yang luas.

“Dulu, setiap kali gue ngerasa dunia gue sempit karena masalah di rumah, gue selalu ke sini,” ucap Arka lirih, berdiri tepat di samping Bunga. “Lihat, Bung. Kota itu terlihat sangat kecil dari sini. Masalah lo, rasa sakit hati lo, pengkhianatan Zidan... itu semua cuma titik kecil kalau lo lihat dari sudut pandang yang lebih luas.”

Bunga memejamkan mata, membiarkan angin menerpa wajahnya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, napasnya terasa lebih ringan. Ia menoleh ke arah Arka, melihat profil wajah cowok itu yang diterangi cahaya lampu kota dari bawah.

“Kenapa lo lakuin ini buat gue?” tanya Bunga pelan.

Arka tidak langsung menjawab. Ia menatap lurus ke lampu-lampu kota yang berkelap-kelip. “Karena gue nggak mau liat lo terus-terusan jadi mayat hidup di depan kamera. Lo berharga, Bunga. Lebih berharga daripada sekadar objek pemotretan.”

Bunga terdiam, hatinya yang sempat mati rasa perlahan mulai berdenyut kembali, merasakan hangat yang tulus dari kehadiran Arka di sisinya di atas bukit yang sunyi itu.

Bunga terdiam cukup lama, membiarkan semilir angin malam dan kerlap-kerlip lampu kota di bawah sana menjadi satu-satunya suara di antara mereka.

Lihat selengkapnya