LDR: Love, Duty, Regret

Intan Purnama
Chapter #31

Hari Kemerdekaan

Suasana di kediaman Bunga yang biasanya tenang, siang itu berubah ramai. Ibu Bunga, seorang jaksa yang sangat teliti, telah menyelesaikan analisis terhadap bukti-bukti yang dikumpulkan Sisca dan Bintang. Sesuai instruksi, Bunga mengundang Sisca dan Bintang untuk datang, namun rumahnya mendadak penuh dengan kehadiran teman-temannya yang lain—Genta, Jojo, Maura, Tiara, hingga Arka yang datang secara kompak.

“Maaf ya, Bunda, malah ramai-ramai gini, hehehe. Soalnya kita kompak banget,” ucap Bunga sedikit tidak enak hati.

Bunda hanya tersenyum tipis, menjaga wibawanya. “Enggak apa-apa. Bawa temanmu yang lain ke atas, Sisca dan Bintang saja yang masuk ruang kerja Bunda.”

“Oke, Bunda. Makasih,” jawab Bunga lega.

Di lantai dua, tepatnya di balkon yang menghadap kolam renang, suasana jauh lebih santai. Genta, Jojo, Arka, Maura, dan Tiara menikmati hidangan dimsum hangat dan kentang goreng. Bunga datang menyusul tak lama kemudian dengan membawa dua botol besar jus buah dingin.

“Beda ya kalau di rumah orang kaya, minumannya jus...” celetuk Jojo sambil menyambar gelas.

“Heh! Gak bersyukur lo dikasih minum!” timpal Tiara ketus.

“Siapa bilang gue gak bersyukur? Gue cuma menyadari kesenjangan hidangan, Ra!” sahut Jojo membela diri yang disambut tawa kecil yang lain.

Bunga tersenyum. “Udah, udah... Jangan ribut, kita makan saja.”

Bunga hendak ikut menyantap dimsum, namun ia menyadari tidak ada garpu yang tersisa. “Gue ambil garpu dulu ya.” Saat Bunga hendak berdiri, Arka sudah lebih dulu melesat ke arah tangga. “Biar gue yang ambil!”

Tiara menyenggol lengan Bunga. “Bung, lo sadar nggak sih? Makin ke sini si Arka makin perhatian banget sama lo.”

Bunga menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sudut matanya refleks melirik Maura. Ia masih ingat betul pengakuan Maura di pesta waktu itu. “Ah, enggak deh. Dia kan emang baik ke semua temen. Eh, aku mau ke ruangan Bunda dulu ya, mau bawain kopi,” ucap Bunga beralasan, lalu melesat turun—padahal tujuan sebenarnya adalah mengejar Arka.

Saat tiba di lantai bawah, mereka berpapasan. Arka tampak bingung melihat Bunga. “Loh, kok lo turun, Bung? Kan gue udah bilang gue bawain.” Arka mengacungkan bungkusan berisi garpu.

Bunga langsung menarik lengan baju Arka dan menyeretnya menuju area dapur yang lebih sepi.

“Ada apa?” bisik Arka, keningnya mengernyit.

Bunga menelan ludah, tangannya mencengkeram erat kain roknya. “Ka, gue minta tolong... jangan perhatian ke gue di depan teman-teman.”

“Kenapa?” tanya Arka datar.

Bunga menarik napas panjang, akhirnya memutuskan untuk jujur meski hatinya ragu. “Hmm... mm... Soalnya Maura suka sama lo. Gue gak mau sakitin dia, Ka. Dia sahabat gue.” Bunga memohon dengan mengatupkan kedua tangannya.

Arka terdiam, wajahnya menegang. “Kalau gue nggak mau?”

“Ka, jangan gitu dong. Gue nggak mau Maura sakit hati, dia sahabat gue,” desak Bunga.

“Kalau dia sakit hati, itu bukan gara-gara lo, tapi gara-gara gue,” balas Arka dingin.

“Tapi, Ka...”

“Gue nggak bisa, Bung. Gue nggak bisa lagi terus-terusan nyembunyiin rasa sayang gue,” potong Arka tegas.

Bunga tertegun, tubuhnya terasa kaku. Arka kemudian mengangkat dagu Bunga dengan jemarinya agar menatap matanya.

“Terserah lo mau balas perasaan gue atau enggak, tapi jangan pernah larang gue buat sayang sama lo.”

Setelah mengucapkan kalimat itu, Arka meninggalkan Bunga yang mematung di dapur, terjebak dalam kebingungan yang menyesakkan dada.

Bunga yang kebingungan akhirnya memutuskan untuk menuju ruang kerja bundanya. Saat tangannya terulur hendak mengetuk pintu, daun pintu itu terbuka lebih dulu. Bintang dan Sisca keluar dari sana.

“Eh? Udah beres?” tanya Bunga.

Bintang dan Sisca mengangguk berbarengan. Tak lama, Bunda muncul di ambang pintu.

“Bunda akan mengajukan tuntutan tindak pidana terlebih dahulu. Setelah Bunda analisis dan telusuri, ternyata korban Surya Dharma ini bukan hanya Sisca dan Bintang,” jelas Bunda dengan nada tegas.

“Hhh! Dasar bajingan!” geram Bunga, tangannya terkepal erat menahan amarah.

“Eh, yang lain mana?” tanya Sisca mengalihkan pembicaraan.

“Ada di atas. Yuk, ke sana!”

Bunga kembali ke lantai dua diikuti oleh Sisca dan Bintang. Begitu mereka sampai, Maura langsung menghampiri. “Eh, eh? Gimana? Kasus kalian bisa diatasi, kan?”

Bintang menghela napas lega. “Mudah-mudahan bisa. Kata Bu Mitha, setelah beliau mengajukan tindak pidana, kita harus menunggu sekitar satu sampai dua minggu sampai persidangan dimulai.”

Saat yang lain sibuk mengobrol seolah sedang mewawancarai Bintang dan Sisca, Bunga sibuk dengan ponselnya. Ada sebuah pesan masuk dari Arka.

Arka: Bung, lo denger ucapan gue kan di dapur?

Tangan Bunga sedikit gemetar saat mengetik balasan.

Bunga: Iya, gue denger.

Arka: Jangan bilang lo gak ngerti maksud gue. Gue udah muak memendam perasaan gue selama dua tahun. Jadi sorry, gue gak bisa mengabulkan permintaan lo.

Bunga terbelalak membaca pesan terakhir itu. Jantungnya berpacu tak karuan.

“Guys, gue ke kamar dulu ya,” izin Bunga cepat. Ia tidak ingin ekspresi bingungnya tertangkap oleh teman-temannya.

Cukup lama Bunga tak kunjung kembali. Merasa situasi sudah tidak kondusif, Arka, Genta, Jojo, dan Bintang akhirnya pamit pulang. Sementara itu, Maura, Sisca, dan Tiara bergegas menuju kamar Bunga, khawatir sahabat mereka itu sedang sedih—terlebih lagi karena hari ini adalah tiga hari menjelang hari kemerdekaan.

Mereka mendapati Bunga sedang menelungkup di kasur, menutupi kepalanya dengan bantal. Maura yang panik segera menyambar ke atas kasur.

Lihat selengkapnya