LDR: Love, Duty, Regret

Intan Purnama
Chapter #32

Penyesalan Zidan

Malam itu, di teras rumah Bunga, udara terasa begitu intim dan sarat akan kejujuran yang selama ini tertahan. Kehadiran Arka di jam sepuluh malam bukanlah tanpa alasan. Ketakutan akan kembalinya Zidan menghantui pikirannya, membuatnya tak sanggup lagi sekadar menunggu dalam diam.

“Lo ada perlu apa, Ka? Bikin panik gue aja,” tanya Bunga, suaranya sedikit bergetar.

Arka menatap lekat gadis di depannya. “Loh? Kok panik? Lo khawatir sama gue?”

Bunga terdiam, tersudut oleh pertanyaan jebakan itu. “Mm... Iya lah, masa iya nggak khawatir? Kalau Jojo atau Genta yang denger, mereka juga pasti panik,” alibi Bunga cepat.

Arka terkekeh pelan, terdengar sedikit getir. “Gue pulang tengah malam juga mereka nggak pernah tanya, Bunga...”

Bunga sontak menutup separuh wajahnya dengan tangan, sadar alibinya gagal total. Arka dengan lembut meraih tangan Bunga, menurunkannya perlahan hingga wajah gadis itu yang memerah padam terekspos jelas.

“Gue mau to the point ya, jujur gue kesini karena gue takut,” ucap Arka.

Bunga mendongak, matanya beradu dengan tatapan Arka yang begitu intens. “Lo takut apa, Ka?”

“Gue takut keduluan lagi,” jawab Arka lugas. “Gue nggak mau keduluan lagi sama Zidan. Gue juga nggak mau lo direbut Dion.”

Bunga tersenyum menahan tawa melihat kegelisahan Arka yang jarang sekali ditunjukkan. “Terus?”

Arka menarik napas panjang, lalu memberanikan diri. “Lo bersedia nggak menjalin hubungan sama gue?”

Glekkk! Bunga menelan ludah dengan keras. Dalam keheningan malam, suara itu terdengar sangat jelas. Ia pura-pura batuk untuk menutupi kegugupannya.

Uhukk! Uhukk!” Arka mengusap tengkuk Bunga dengan perhatian yang tulus.

“Gue yakin lo ngerti maksud gue. Gue nggak maksa lo buat jawab sekarang, jangan merasa tertekan.” Tutur Arka.

Bunga menunduk, tangannya sibuk memilin jari-jarinya. “Gimana ya, Ka... Gue cuma belum bisa sepenuhnya move on. Tapi bukan berarti gue bakal balik ke Zidan. Gue cuma pengen lo paham kalau gue nggak bisa terlalu cepat membuka hati.”

It's okay, Bunga, gue ngerti. Cuma gue pengen jawaban pastinya dari elo. Gue ulang sekali lagi ya pertanyaan gue dengan jelas.” Arka menatap lekat sosok gadis favoritnya itu. “Bunga, gue minta lo jadi pacar gue, lo mau nggak?”

Bunga terdiam sejenak, membiarkan detak jantungnya yang tak karuan itu tenang, sebelum akhirnya mengangguk pelan.

“Yesss!!!” Arka berteriak spontan, saking senangnya.

“Tapi... maafin gue kalau gue belum bisa sepenuhnya sayang sama lo,” lirih Bunga dengan kepala tertunduk dalam.

Arka mengangkat dagu Bunga, menatapnya dengan kesungguhan penuh. “Nggak apa-apa, Bunga. Aku nggak akan maksa kamu. Kita jalani aja dulu, pelan-pelan aku bakal bikin kamu cinta sama aku.”

Bunga mengernyit, menyadari sesuatu. “Gue nggak salah denger? Kamu? Aku?”

“Apa?” tanya Arka balik.

“Aku? Kamu?”

Arka tersenyum malu, ia melepas kacamatanya sejenak. “Sorry, gue pengen sweet kayak pasangan lain, nggak apa-apa kan?”

Bunga nyengir lebar. “Ah, iya... oke. Tapi mungkin gue bisa keceplosan karena belum terbiasa.”

“Nggak apa-apa, pelan-pelan aja. Nggak usah buru-buru.”

Bunga tertawa kecil, rasa canggung mulai berganti dengan kelegaan. “Sekarang udah tenang, kan? Cepet sana pulang!”

Arka berdiri, berjalan menuju gerbang, namun ia berbalik kembali. “Bung, aku ngerasa belum percaya. Boleh aku konfirmasi sekali lagi?”

Bunga menatapnya bingung.

“Bunga, sekarang kamu pacar aku, kan?” tanya Arka sekali lagi.

Bunga tertawa pelan lalu mengangguk yakin.

“Makasih, Bunga...! Makasih!” seru Arka. Tanpa bisa menahan diri, ia spontan memeluk erat gadis yang sudah lama ia idamkan itu. Malam itu, di bawah langit Yogyakarta, status mereka resmi berubah, mengakhiri segala ketakutan yang sempat menghantui.

###

Sementara sang mantan, Zidan di Jakarta sana sedang menjalani kegiatan setelah hari kemerdekaan. Kegiatan selama satu minggu pasca 17 Agustus di Jakarta menjadi kaleidoskop kenangan yang tak terlupakan bagi mereka.

Agenda diawali dengan Upacara Pembubaran Panitia dan Penutupan Diklat. Bertempat di gedung megah BPIP, para siswa dikembalikan secara simbolis oleh pihak pusat kepada pemerintah provinsi masing-masing. Zidan berdiri tegak, menerima sertifikat resmi sebagai Alumni Paskibraka Nasional. Tangan pelatih menjabatnya erat, sebuah pengakuan atas keringat yang ia tumpahkan selama berbulan-bulan.

Di sampingnya, Melati menerima beasiswa pendidikan yang disiapkan pemerintah. Mata mereka bertemu saat turun dari panggung, dan sebuah senyuman bangga terukir di wajah keduanya.

Tanti, yang sejak awal paling aktif mendokumentasikan kegiatan, tidak berhenti memegang ponselnya. “Cekrek! Guys, kalian semua harus masuk frame!” serunya. Ia mengunggah video kompilasi perjalanan mereka ke media sosial, lengkap dengan caption puitis tentang perjuangan dan persahabatan. Viewers-nya meledak, menuntaskan rasa penasaran publik akan keseharian Paskibraka Nasional.

Hari berikutnya diisi dengan Agenda Studi Banding. Mereka diajak melakukan kunjungan kehormatan ke Markas Besar TNI. Di sana, Zidan dan Melati berada dalam satu kelompok diskusi. Saat berjalan melintasi koridor markas yang megah, mereka mulai berbincang dengan lebih santai.

“Dan, kamu nggak nyangka kan, kita bisa sampai di titik ini?” tanya Melati.

Zidan tertawa kecil, melirik Melati yang tampil lebih rileks dengan seragam lapangan. “Jujur, enggak. Tadinya aku cuma mikir gimana caranya supaya nggak salah langkah pas baris.”

“Sekarang, kita malah sudah jadi bagian dari sejarah Istana,” timpal Melati. Percakapan itu mengalir, lebih hangat dari biasanya. Zidan mulai merasa bahwa Melati bukan sekadar rekan tim yang kaku, melainkan seseorang yang memiliki pemikiran mendalam.

Lihat selengkapnya