Bunga masih setia menunggu di area parkir saat ponselnya berdering. Nama Dion tertera di layar. Dengan helaan napas pendek, ia mengangkat panggilan tersebut.
“Ada apa, Yon? Gue kan udah bukan partner kerja lo lagi,” sapa Bunga tanpa basa-basi.
“Lo baik-baik aja kan, Bung? Lo aman?” suara Dion terdengar cemas di seberang sana.
Bunga tersenyum tipis. Ternyata Dion pun mendengar kabar tentang kedatangan Zidan yang penuh drama tadi. “Aman, gue bareng Arka kok.”
“Syukurlah... Btw, kenapa lo resign nggak ngabarin gue?”
“Sorry, Yon. Ada beberapa masalah yang harus gue urus, jadi lupa ngabarin lo.”
“Oke, never mind. Tapi... kita tetep temenan kan, Bung?”
Bunga tertawa kecil, memecah ketegangan yang sejak pagi menyelimuti harinya. “Hahahaha, itu tergantung lo! Kalau cuma pengen temenan sama model, ya udah, gue bukan temen lo!”
“Syukurlah kalau lo masih nganggep gue temen. Gue kerja dulu, bye!”
Saat Bunga mengakhiri panggilan, Arka sudah tiba di dekatnya dengan raut wajah yang sulit ditebak. Ia melihat Bunga baru saja menutup telepon sambil tertawa.
“Siapa?” tanya Arka datar, ada sedikit nada penasaran yang kaku.
“Dion,” jawab Bunga singkat.
JLEB. Arka terdiam sejenak. Pikiran bahwa Dion bisa membuat Bunga tertawa sebelum dirinya membuat perasaan Arka sedikit tidak keruan, meski ia berusaha menutupi dengan menyodorkan helm ke arah Bunga. “Oh, ya sudah. Yuk!”
Bunga menerima helm itu lalu duduk di jok belakang motor Arka. “Kita mau ke mana nih?”
“Ya belajar lah, kamu kan pengen lulus SNBT,” jawab Arka sambil menancap gas.
“Yaaahh...” keluh Bunga sedikit manja.
Motor Arka melaju membelah jalanan. Bunga awalnya mengira mereka akan kembali ke perpustakaan sekolah, namun saat memasuki gerbang komplek, Arka membelokkan motor ke arah yang tidak ia kenali. Motor itu berhenti di depan sebuah rumah minimalis bertingkat yang terlihat sangat asri.
“Turun,” perintah Arka singkat.
Bunga terpaku menatap rumah di depannya. “I-ini... rumah lo?”
Arka mengangguk. “Iya. Dulu kan kamu cuma ke kontrakan kumuh, bukan ke rumah.”
“Kita mau belajar di sini?”
“Iya. Kenapa? Kalau nggak mau, kita ke perpus lagi saja,” tawar Arka.
Bunga segera melepas helmnya dengan cepat. “Nggak, nggak apa-apa kok! Di perpus nggak betah, aku nggak bisa baca sambil rebahan,” jawabnya antusias.
Mereka pun masuk ke dalam rumah. Arka memimpin jalan menuju ruang tengah yang cukup luas namun terasa hening. “Rumahku selalu sepi, nggak beda jauh sama rumah kamu. Tapi setidaknya di rumah kamu, Bunda kamu selalu pulang tiap hari.”
Bunga merasakan nada kesepian yang dalam dari suara Arka. Tak ingin membiarkan cowok itu larut dalam kesedihan, Bunga segera mengalihkan pembicaraan.
“Ka, sekarang kita mau belajar soal latihan pelajaran apa?”
“Bebas, kamu mau pelajaran apa?”
“Gue... eh, ups!” Bunga refleks menutup mulutnya dengan tangan. Ia menarik napas panjang, mencoba memperbaiki diri. “Maksudnya... 'aku', pengen belajar sejarah aja.”
Arka tersenyum melihat tingkah Bunga yang berusaha keras mengubah sapaan mereka. “Kalau kamu belum terbiasa bilang 'aku-kamu', jangan dipaksain.”
Bunga menunduk malu, wajahnya terasa hangat. “Hehehe, aku lagi membiasakan kok, Ka.”
Arka tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum. Ia mendekat lalu mengusap puncak kepala Bunga dengan lembut. “Makasih ya,” bisiknya tulus, membuat suasana belajar sore itu terasa jauh lebih berarti dari sekadar persiapan ujian.
###
Bunyi krucuk-krucuk yang cukup keras dari perut Bunga membuat Arka terhenti dari penjelasannya tentang sejarah. Mereka berdua tertawa kecil, lalu Bunga mengajak Arka ke dapur untuk mencari bahan makanan. Namun, saat Bunga membuka kulkas, hanya ada botol air mineral dan sisa buah apel yang sudah layu.
“Rumahku selalu gini, Bung. Kayak nggak ada penghuni, makanya aku jarang betah di sini,” gumam Arka dengan nada yang terdengar kesepian.
“Ya sudah, kita pesan makanan online aja ya,” saran Bunga mencoba mencairkan suasana.
Setelah menyantap makanan yang dipesan, Arka tidak langsung mengajak Bunga kembali ke buku pelajaran. Ia tampak berpikir sejenak sebelum memulai percakapan baru.
“Bung, hmm... Btw, kamu mau kuliah jurusan apa?”
Bunga tampak berpikir, lalu menatap Arka dengan binar mata yang jujur. “Aku masih ragu, Ka. Sebenarnya... aku kepikiran kuliah Tata Busana.”