LDR: Love, Duty, Regret

Intan Purnama
Chapter #34

Ide 'Wisma Remaja'


Satu minggu sebelum persidangan, suasana kontrakan Arka berubah menjadi posko kecil. Ruangan itu penuh dengan tumpukan dokumen hukum, buku latihan soal SNBT, dan aroma kopi yang diseduh untuk menemani malam-malam panjang. Sisca dan Bintang sibuk memverifikasi persyaratan sidang, sementara Bunga dan Arka sesekali melirik satu sama lain di balik tumpukan materi sejarah.

Suatu siang, saat mereka beristirahat di kantin sekolah, Arka tanpa ragu mengikatkan tali sepatu Bunga yang terlepas. Ia bahkan memperbaiki posisi rambut Bunga yang sedikit berantakan karena angin. Zidan, yang kebetulan lewat bersama beberapa anggota Paskibraka lainnya, terhenti. Wajahnya mengeras, tangannya mengepal melihat adegan itu.

Sahabat-sahabat Bunga yang berada di dekat mereka tak melewatkan kesempatan untuk bersorak.

“Gak nyangka gue! Si Zidan udah lo embat jabatannya, eh sekarang ceweknya lo embat juga!” seru Tiara tertawa.

“Siapa sangka, cowok stecu (Setelan Cuek) kayak gini bisa rebut si Bunga? goda Maura.

Sisca pun mulai bersenandung jahil, “Stecu... stecu... stecu...” mengikuti irama lagu yang sedang populer. Bi Dahlia yang sedang membersihkan meja ikut menimpali sambil terkikik, “Wah, Neng Bunga kalau sama yang ini aura bahagianya keluar semua ya!”

Zidan hanya bisa berlalu dengan amarah yang tertahan, menyadari bahwa dunianya di sekolah sudah benar-benar berubah.

Tujuh hari berlalu dalam sekejap. Hari persidangan yang menegangkan tiba. Pengadilan Negeri dipenuhi suasana formal dan dingin. Karena pembatasan pengunjung, hanya Sisca, Bintang, Bunga, dan Arka yang masuk ke ruang sidang utama.

Di kursi terdakwa, Surya Dharma duduk dengan wajah yang tampak menua, didampingi oleh Tante Mela—adik dari ibu Sisca yang selama ini licin bak belut.

Persidangan berlangsung runut. Ibu Bunga, yang bertindak sebagai pengacara pihak korban, memulai dengan memaparkan bukti-bukti tindak pidana penipuan yang dilakukan Surya Dharma terhadap beberapa orang, tidak hanya Sisca dan Bintang.

Saat giliran Tante Mela dipanggil, suasana ruang sidang menegang. Ibu Bunga menyajikan bukti forensik digital dan keterangan saksi ahli yang menunjukkan bahwa Tante Mela secara sengaja memalsukan surat wasiat keluarga, menghapus nama Sisca dari daftar penerima hak waris demi menguasai aset secara sepihak.

“Selain tindak pidana penipuan dan pemalsuan dokumen, kami juga mengajukan gugatan ganti rugi materiil dan imateriil atas kerugian yang diderita klien kami selama bertahun-tahun,” tegas Ibu Bunga di depan majelis hakim.

Bunga yang duduk di kursi pengunjung merasa jantungnya berdegup kencang hingga ia nyaris sesak. Tangannya gemetar hebat di atas pangkuan. Arka, yang menyadari kecemasan itu, dengan sigap menggenggam erat tangan Bunga. Jempolnya perlahan mengusap punggung tangan Bunga dengan lembut, memberikan kehangatan dan ketenangan yang Bunga butuhkan di tengah keriuhan argumen hukum yang saling membalas di depan hakim.

Tante Mela tampak gelisah, sesekali melirik pengacaranya dengan cemas. Sementara itu, Surya Dharma hanya bisa menunduk saat bukti-bukti kejahatannya satu per satu dibuka ke publik. Bunga terus menggenggam tangan Arka, bersyukur memiliki cowok itu di sampingnya untuk menghadapi badai keadilan ini.

Suasana ruang sidang mendadak sunyi saat Majelis Hakim mulai membacakan putusan akhir. Setelah mempertimbangkan semua bukti forensik dan keterangan saksi yang diajukan oleh Ibu Bunga, palu hakim diketuk dengan tegas.

“Berdasarkan bukti-bukti yang sah dan meyakinkan, terdakwa Surya Dharma dinyatakan bersalah atas tindak pidana penipuan dan pemerasan. Sementara terdakwa kedua, Mitha, dinyatakan terbukti melakukan pemalsuan dokumen surat wasiat secara sistematis,” suara hakim bergema di seluruh ruangan. “Majelis Hakim menjatuhkan hukuman penjara serta mengabulkan seluruh tuntutan ganti rugi materiil dan imateriil bagi pihak penggugat.”

Wajah Surya Dharma yang tadinya angkuh kini tampak pucat pasi, sementara Tante Mela tak mampu menyembunyikan kekalahannya, bahunya merosot lemas. Bunga mengembuskan napas lega yang panjang—sebuah beban yang selama ini menghimpit pundaknya seolah terangkat seketika. Ia menyandarkan punggungnya di kursi kayu ruang sidang, merasakan aliran ketenangan setelah berbulan-bulan hidup dalam kecemasan.

Begitu sidang resmi ditutup dan semua orang mulai beranjak keluar, Sisca tidak menunggu lama. Dengan wajah yang bersinar penuh kebahagiaan, ia berlari ke arah Bunga dan langsung menghambur ke pelukannya.

“Bunga! Thanks banget ya, berkat bantuan lo dan nyokap lo... Akhirnya gue bisa dapet hak warisan gue balik!” seru Sisca dengan suara bergetar karena haru.

Bintang menyusul di belakangnya, menatap Bunga dengan tatapan penuh rasa terima kasih. “Iya, Bunga, makasih banyak ya. Gue beneran nggak tahu harus gimana kalau nggak ada lo yang nemenin kita dari awal.”

Bunga membalas pelukan mereka, lalu tersenyum manis—senyum yang benar-benar lepas dan tulus. “Sama-sama. Senang rasanya bisa bantu kalian. Kita semua pantas mendapatkan keadilan ini.”

Arka berdiri tak jauh dari mereka, memperhatikan interaksi tersebut dengan senyum bangga. Ia tahu betapa keras Bunga berjuang—mulai dari mencari bukti hingga menahan rasa sakit hatinya sendiri saat harus berurusan dengan orang-orang yang merugikan sahabatnya. Baginya, melihat Bunga tersenyum seperti itu adalah kemenangan yang jauh lebih besar daripada sekadar menang di persidangan.

###

Sisca tampak begitu menikmati momen kebebasannya di rumah lama miliknya yang kini kembali ke pelukannya setelah bertahun-tahun dikuasai oleh keluarga tantenya. Sementara itu, di kontrakan Arka yang sederhana namun hangat, Bintang merayakan keberhasilan sidang dengan memesan sate dan ayam bakar untuk makan malam bersama.

“Wuihh, ada apaan nih? Pesta?” tanya Jojo saat mencium aroma sedap.

Bintang tersenyum lega. “Sidang gue berhasil, Jo. Thanks ya dukungannya.”

“Selamat, Bro!” Jojo mengulurkan tangan, disambut jabat tangan hangat oleh Bintang. Setelah semuanya duduk melingkar di lantai, Bintang menoleh ke arah Arka. “Ka, makasih banyak ya, udah kasih gue tempat tinggal sampai sidang gue berhasil.”

Arka hanya mengangguk rendah hati. “Sama-sama, Kak. Senang bisa bantu.”

Usai makan, suasana tetap hidup. Jojo kembali berkutat dengan game di ponselnya, Genta merebahkan diri di lantai, sementara Arka bersandar di sofa panjang.

“Lo mau langsung balik ke kampung, Bin?” tanya Genta tiba-tiba.

Bintang menggeleng. “Kuliah gue belum kelar. Gue rencananya mau transfer bekal buat adik, terus cari kontrakan dekat kampus.”

Jojo menyimpan ponselnya, menatap Bintang dengan ekspresi dramatis. “Yah! Kalau Bintang pergi, kayaknya kita juga harus ikut pergi.” Genta menoleh ke Arka dengan tatapan bertanya, “Emang bener, Ka?”

Arka mengangkat bahu. “Terserah kalian. Kalau bosan di sini, ya pergi saja.”

“Nah loh, buruan tembak gebetan lo, Ta! Sebelum lo diusir dari sini!” goda Jojo sambil tertawa terbahak-bahak. Genta mendengus kesal, “Apaan sih lo!”

Arka menatap mereka bergantian. “Tahun depan, Pelita masuk SMA kan?”

Genta mengangguk lemah. “Iya, kita lulus, dia jadi siswa baru di Nusa Bangsa.”

“Ahahaha! Bukan jodoh kali!” cibir Jojo lagi, membuat Genta bangkit dan mengepalkan tangan, mengancam akan memukul Jojo yang langsung meminta ampun.

Bintang duduk tegak, memandang teman-temannya dengan tatapan haru. “Gue kira... kalian bakal tetap di sini bareng-bareng.”

Lihat selengkapnya