LDR: Love, Duty, Regret

Intan Purnama
Chapter #35

Welcome to "Kintsugi House"

Pagi hari di SMAN 1 Nusa Bangsa terasa lebih segar dari biasanya. Sisca sengaja datang lebih awal, tepat pukul enam pagi, karena ia harus membereskan beberapa catatan administrasi untuk ujian sekolah yang tertinggal di loker kelas. Sekolah masih sangat sepi, sunyi senyap, hingga ia melewati area kantin.

Sisca mengernyitkan dahi saat melihat pintu kantin sedikit terbuka. Ia melongok ke dalam dan mendapati Bi Dahlia tertidur di kursi panjang dengan selimut tipis yang melilit tubuhnya.

“Bi? Bi Dahlia?” Sisca mengguncang bahu wanita paruh baya itu perlahan.

Bi Dahlia tersentak bangun, wajahnya tampak kaget dan lelah. “Eh, Neng Sisca? Maaf, Neng, Bibi... Bibi baru bangun.”

Sisca menatap sekeliling kantin dengan heran. “Bi, kenapa Bibi nginap di sini? Bukannya Bibi punya rumah?”

Bi Dahlia terdiam, menunduk dalam. Ia menghela napas panjang, sebuah rahasia yang selama ini ia tutup rapat akhirnya luruh. “Jujur saja, Neng... Bibi sebenarnya tidak punya tempat tinggal. Bibi ini perawan tua, keluarga sudah tidak ada, dan semenjak kantin sekolah ini tidak terlalu ramai, gaji Bibi tidak cukup untuk mengontrak kamar. Bibi sudah terbiasa tidur di sini sejak beberapa bulan lalu.”

Hati Sisca yang keras seketika terusik. Bayangan tentang Bi Dahlia yang selalu ceria menyajikan bakwan hangat ternyata menyimpan kepedihan yang luar biasa. Sisca merasa dunianya sedikit berputar.

“Bi... mulai hari ini, Bibi nggak perlu tidur di sini lagi,” ucap Sisca mantap.

Bi Dahlia menatapnya bingung. “Maksudnya, Neng?”

“Rumah saya besar, tapi kosong sejak urusan warisan kemarin. Saya butuh orang yang jujur buat bantu-bantu di rumah. Bibi mau jadi ART di rumah saya? Bibi akan punya kamar sendiri, gaji yang layak, dan kita bisa tinggal bareng.”

Air mata menetes di pipi Bi Dahlia. “Neng serius? Bibi nggak akan merepotkan?”

“Bibi nggak merepotkan sama sekali. Justru Bibi bakal jadi teman saya di rumah,” jawab Sisca tersenyum tulus.

Perubahan itu terjadi dengan cepat. Dalam hitungan hari, Bi Dahlia resmi pindah ke rumah mewah Sisca. Suasana rumah yang dulunya megah namun sepi, kini berubah menjadi hangat.

Setiap sore sepulang sekolah, Sisca dan Bi Dahlia memiliki rutinitas baru: menonton drama Korea di ruang keluarga. Sambil menikmati camilan, mereka tertawa bersama melihat adegan romantis atau mengumpat bersama saat melihat karakter antagonis di layar televisi.

“Neng, itu pemeran utamanya ganteng sekali ya! Mirip pacar Neng yang dulu?” canda Bi Dahlia sambil menyerahkan potongan buah apel.

Sisca tertawa renyah. “Ah, Bibi bisa saja! Nggak ada yang bisa gantiin gantengnya Oppa Korea, Bi!”

Keesokan paginya, mereka berangkat ke sekolah bersama. Bi Dahlia yang kini tampak lebih rapi dan ceria, sering kali membawakan bekal spesial untuk Sisca. Sisca pun merasa jauh lebih bersemangat, karena tahu bahwa saat ia pulang nanti, ada kehangatan rumah yang menunggunya, bukan lagi kesunyian yang mencekam. Persahabatan unik antara majikan dan ART ini menjadi warna baru dalam hidup Sisca, memberikan kedamaian yang tak pernah ia sangka sebelumnya.

###

Matahari sore mulai condong ke barat saat Bunga menatap buku catatannya dengan perasaan frustrasi. Rumus matematika yang berderet di sana terlihat seperti bahasa alien. Tanpa berpikir panjang, ia meraih ponsel dan mengirim pesan pada Arka.

“Ka, sibuk nggak? Boleh ke rumah sebentar? Ada rumus yang bikin aku pusing banget, butuh bantuan kamu.”

Tak lama kemudian, ponselnya bergetar. Sebuah balasan masuk. “Maaf, Bung. Gue bener-bener nggak bisa hari ini. Gue lagi ada urusan penting sama Genta dan Jojo. Mungkin besok ya?”

Bunga tertegun. Arka tidak pernah menolak permintaannya. Rasa kecewa dan kesal membuncah di dadanya. Di sisi lain kota, di sebuah garasi yang disulap menjadi markas, Arka sedang tenggelam dalam kesibukan. Jojo tampak serius di depan laptop, mendesain stiker-stiker promosi untuk Haven Hub dengan berbagai pilihan warna estetik. Genta sibuk membuat spreadsheet untuk pengeluaran awal, sementara Arka sedang berdiskusi dengan Bintang mengenai simulasi jadwal kegiatan di Kintsugi House. Mereka benar-benar sedang mengejar target agar wisma itu bisa segera terwujud.

Karena rasa kecewa yang belum reda, Bunga memutuskan untuk keluar. Ia menghubungi Dion. Tak butuh waktu lama, mereka sudah duduk di sebuah kafe estetik dengan interior kayu dan tanaman gantung.

Bunga memesan cappuccino, sementara Dion memesan americano yang pekat.

“Tumben ngajak keluar,” cibir Dion sambil mengaduk kopinya. “Biasanya lo sibuk banget sama cowok baru lo itu.”

Bunga memutar bola matanya malas. “Tau ah! Gue lagi bete!”

“Kenapa? Gelut?” tanya Dion usil.

“Arka nggak biasanya nolak permintaan belajar bareng. Ini pertama kalinya dia punya 'urusan penting' lain selain gue,” keluh Bunga.

Dion menghentikan gerakan tangannya. Ia menatap Bunga dengan tatapan tajam, rasa curiga mulai menyelinap di pikirannya. “Urusan penting? Cowok kayak Arka yang biasanya ngekor di belakang lo, tiba-tiba punya urusan mendadak yang bikin lo dinomorduakan? Lo nggak ngerasa aneh, Bung?”

Bunga terdiam. Ucapan Dion ada benarnya, namun ia mencoba menepis rasa curiganya. “Ya... mungkin dia emang lagi sibuk tugas kelompok atau apalah.”

“Gue nggak tahu deh,” Dion menyesap americano-nya. “Tapi sebagai temen, gue cuma mau lo hati-hati. Anyway, tadi lo bilang mau nanya soal produk trending buat live streaming lagi?”

Bunga mengangguk, mencoba mengalihkan pembicaraan agar hatinya lebih tenang. “Iya, Yon. Gue butuh masukan lo. Produk apa sih yang sekarang lagi meledak di pasaran? Gue mau balik live lagi minggu depan.”

Lihat selengkapnya