Proses perpindahan ke gedung baru yang berlokasi di pinggiran kota itu berlangsung penuh keringat namun sarat tawa. Berkat dana dari Dion, 'Kintsugi House' berhasil perpindah ke gedung karya arsitektur muda temannya Bintang. Kini tempat Arka, Jojo, Genta dan Bintang bukan lagi kontrakan sederhana di dalam gang tapi sebuah gedung luas di pinggir jalan, ruang komunitas yang cerah, luas, dan ramah bagi siapa saja. Teman Bintang sengaja menyarankan bangunan berbentuk 'rumah', bukan bangunan-bangunan seperti bangunan panti asuhan atau yang lainnya agar pendatang benar-benar merasakan kehangatan sebuah rumah.
Hari pembukaan Kintsugi House tiba. Begitu pintu depan dibuka, satu per satu remaja yang merasa kehilangan arah mulai berdatangan—mereka yang putus sekolah, mereka yang lelah dengan ekspektasi orang tua, hingga mereka yang sekadar butuh teman bicara.
Sejak hari pertama, Kintsugi House langsung memiliki ritme kegiatan yang sibuk dan bermanfaat, ada Zona Olahraga & E-Sport. Jojo memimpin barisan remaja yang enerjik. Ia mengubah hobi gaming-nya menjadi kegiatan produktif, mengarahkan mereka untuk fokus pada strategi tim, kedisiplinan, hingga mengadakan turnamen internal untuk melatih sportivitas.
Selanjutnya ada Zona Kreatif. Genta dengan sabar membimbing anggota lain untuk mengolah sampah plastik dan kertas menjadi barang bernilai jual tinggi. Mereka memproduksi tas, kerajinan tangan, dan dekorasi rumah yang kemudian dipasarkan untuk menambah dana kas wisma.
Sementara Bintang, sibuk di Zona Konstruksi. Dia kini mulai menata hidupnya, memimpin praktek dasar konstruksi bangunan. Ia mengajarkan cara memperbaiki atap, mengecat, hingga membuat furnitur kayu sederhana, memberikan keahlian praktis bagi anggota yang ingin mandiri secara finansial.
Di Zona Digital, Arka menjadi mentor utama. Ia mengumpulkan mereka yang melek teknologi untuk belajar monetisasi digital. Arka mengajarkan cara menjadi affiliate marketer yang etis, teknik copywriting, hingga manajemen konten, agar mereka bisa menghasilkan uang dari rumah hanya dengan modal ponsel.
Setelah Kintsugi House berjalan lancar selama beberapa minggu dan aura positifnya mulai terasa, Arka merasa inilah saatnya. Ia tidak ingin lagi menyimpan rahasia dari Bunga.
Sore itu, Arka menjemput Bunga dengan alasan ingin menunjukkan "tempat belajar" baru. Bunga yang sempat cemas karena Arka sering sibuk, kini terperangah saat melihat papan nama kayu bertuliskan Kintsugi House di depan bangunan yang asri itu.
“Ka... ini tempat apa?” tanya Bunga takjub melihat keramaian di dalam.
Arka menggenggam jemari Bunga, mengajaknya masuk. Di dalam, Bunga melihat Jojo sedang tertawa bersama rekan gaming-nya, Genta yang sibuk mengemas hasil daur ulang, serta Bintang yang sedang menjelaskan teknik bangunan.
“Ini alasan kenapa aku sering sibuk belakangan ini, Bung,” ucap Arka lembut. Ia menjelaskan semuanya—tentang Haven Hub, tentang perjuangan mereka, hingga bantuan Dion. “Maaf aku merahasiakannya, aku cuma nggak mau kamu khawatir kalau ternyata aku gagal.”
Mata Bunga berkaca-kaca melihat dedikasi Arka. Ia tidak marah, justru ia merasa semakin jatuh cinta pada sisi Arka yang sangat peduli pada sesama.
“Ini luar biasa, Arka,” bisik Bunga. Ia kemudian menatap Arka dengan bangga. “Makasih udah membagi ini sama aku.”
Di tengah keriuhan Kintsugi House, Arka merasa inilah pencapaian terbaik dalam hidupnya—bukan hanya membangun sebuah wisma, tapi memiliki Bunga di sisinya untuk menyaksikan semua mimpi itu menjadi nyata.
###
Ujian Akhir Sekolah dan TKA akhirnya tiba. Suasana di Kintsugi House pun berubah, gedung yang biasanya riuh dengan kegiatan praktis kini menjadi pusat belajar yang intens. Sesuai kesepakatan, Arka, Jojo, Genta, dan Dion menitipkan kendali operasional sepenuhnya kepada Bintang, yang dengan sigap membagi waktu antara mengawasi kegiatan wisma dan belajar mandiri.
Seminggu itu terasa seperti medan perang bagi para siswa kelas 12. Bunga dan Arka. Mereka belajar bersama di perpustakaan sekolah hingga sore hari. Bunga, yang dulunya sering cemas, kini terlihat lebih tenang karena Arka selalu memberikan mind map ringkas untuk setiap materi sulit. Saat ujian berlangsung, Bunga fokus pada ketelitian, sementara Arka—si jenius yang tenang—mengerjakan soal dengan kecepatan stabil, sesekali melirik Bunga untuk memastikan gadis itu baik-baik saja.
Sedangkan Zidan berada di ruang ujian yang berbeda. Kondisinya jauh dari kata prima. Wajahnya tampak lelah dan kantung matanya menghitam akibat kurang tidur karena sering bertengkar dengan Melati di telepon. Saat mengerjakan soal TKA, tangannya sesekali gemetar. Ia sering melamun, membayangkan masa lalu bersama Bunga, sehingga ia harus memaksakan diri untuk kembali fokus pada lembar soal yang terasa makin menjauh dari pemahamannya.
Jojo adalah tipe yang "belajar dengan sistem kebut semalam". Di dalam ruang ujian, dia terlihat menggumamkan rumus-rumus sambil memutar-mutar pensil, mencoba mengingat catatan yang ia tulis di telapak tangannya (tapi tentu saja ia tidak berani menyontek). Sebaliknya, Genta tampil sangat serius. Ia terlihat seperti orang yang sedang bermeditasi di atas kursi ujian, berusaha keras memeras otaknya demi memperbaiki masa depan, karena ia tidak ingin terus-menerus diremehkan.
Sisca, Tiara, dan Maura. Trio ini menghadapi ujian dengan gaya mereka sendiri. Sisca tampak sangat percaya diri, ia bahkan sempat membetulkan letak rambutnya sebelum mulai mengerjakan soal, hasil dari latihan intensif selama seminggu terakhir. Tiara, yang biasanya paling berisik, kini tampak sangat religius, sering terlihat memejamkan mata dan komat-kamit berdoa sebelum soal dibagikan. Sedangkan Maura, ia adalah tipe yang panik jika ada satu nomor saja yang tidak tahu jawabannya, ia berkali-kali membetulkan posisi duduknya sambil menghela napas panjang setiap kali membaca soal yang rumit.
Setelah ujian selesai, suasana di luar gerbang sekolah terasa sangat emosional. Ada yang saling berpelukan, ada yang menatap langit dengan lega karena beban yang akhirnya terangkat.
Arka segera menghampiri Bunga yang baru keluar dari ruang kelas dengan wajah yang sedikit pucat. “Gimana, Bung? Aman?”
Bunga mengembuskan napas panjang, lalu tersenyum tipis. “Rasanya kayak abis lari maraton, Ka. Tapi aku yakin, perjuangan kita nggak bakal sia-sia.”
Di kejauhan, Zidan menatap mereka berdua dengan tatapan nanar dari balik kaca jendela kelasnya. Ia baru saja menyelesaikan ujiannya, namun ia merasa telah gagal dalam ujian terpenting dalam hidupnya—ujian untuk menjaga apa yang pernah ia miliki.
###
Hari perpisahan itu tiba dengan suasana yang bercampur antara haru dan euforia. Aula SMAN 1 Nusa Bangsa disulap sedemikian rupa, dipenuhi hiasan bunga dan lampu gantung yang menambah kesan hangat. Suara tawa, canda, dan riuh tepuk tangan memenuhi ruangan saat penampilan demi penampilan silih berganti.
Ada penampilan teater lucu dari kelas 11 yang mengundang gelak tawa, hingga paduan suara guru yang membawakan lagu-lagu legendaris dengan penuh wibawa. Semua tampak menikmati momen terakhir mereka sebagai siswa SMA sebelum akhirnya, suasana mendadak menjadi tenang.
Panggung yang tadinya diisi oleh para guru kini berganti set alat musik. Empat orang siswa naik ke atas panggung dengan alat musik masing-masing: melodi, bass, drum, dan piano. Saat sosok kelima naik ke panggung dengan memegang microphone, aula yang tadinya bising perlahan meredam.
Zidan.
Bunga yang sedang berkumpul bersama Tiara, Sisca, dan Maura di barisan tengah, mendadak membeku. Tiara yang tadinya heboh langsung menyikut lengan Sisca dan Maura, memberi isyarat agar mereka diam. Namun, tidak perlu disuruh pun, ketiganya sudah terdiam seribu bahasa, menatap panggung dengan rasa penasaran yang mencekam.
Zidan mengetes microphone-nya. “Ekhm.” Suara beratnya menggema ke seluruh penjuru aula. “Saya akan membawakan lagu berjudul 'Asing' dari Juicy Luicy.”
Lantunan melodi piano yang melankolis mulai mengalun, disusul dentuman drum yang lembut dan petikan bass yang dalam. Zidan menarik napas panjang, menatap ke depan—tepat ke arah kerumunan di mana Bunga berada—sebelum mulai bernyanyi.
“Masihkah merah muda... warna langit yang paling engkau suka?”
Suaranya pecah, penuh penghayatan, seolah setiap lirik adalah curahan hati yang selama ini ia tahan.
“Masihkah sering lupa... di mana letaknya kau simpan kacamata?”