Di sebuah desa bernama Cihambulu, hiduplah sebuah keluarga di bawah garis kemiskinan. Rumah mereka masih terbuat dari anyaman bambu, hanya memiliki dua kamar, dapur sederhana, dan kamar mandi seadanya.
Keluarga itu terdiri dari enam orang: sepasang suami istri dan empat anak perempuan. Anak sulung duduk di kelas dua SMP, anak kedua kelas enam SD, anak ketiga kelas tiga SD dan si bungsu baru berusia tiga tahun.
Sang suami merantau ke Jakarta, bekerja sebagai tukang servis telepon rumahan. Jika ada panggilan, ia mendapat upah, tetapi jika tidak, ia hanya bisa menunggu tanpa penghasilan.
“Ratna, bangun. Sudah subuh.”
Anak gadis itu mengusap matanya perlahan.
“Iya, Mak.”
Ia menggeser tubuhnya dari ranjang sempit, lalu membenarkan selimut adik-adiknya. Ketiganya tidur di satu kamar, sementara si bungsu masih tidur bersama ibunya.
Azan baru saja berkumandang. Yatin sudah bangun sejak sebelum subuh, mempersiapkan nasi uduk untuk jualannya pagi nanti. Ratna pergi ke kamar mandi, mencuci muka, lalu mengambil air wudu. Setelah salat, barulah ia membantu ibunya di dapur.
Yatin duduk di dipan sederhana, menyiapkan wadah untuk nasi yang sedang ditanak di atas hawu (tungku kayu bakar), menggunakan panci dan nyiru. Setelah merapikan tempat, ia mencampur adonan tepung dengan wortel dan kol untuk membuat bakwan.
Tak jauh dari dapur, ada tempat salat sederhana dengan sajadah lusuh yang terbentang. Mukena pun tak kalah usang, terlihat beberapa jahitan tambalan menutup lubang.
Yatin kembali memeriksa nasinya. Setelah dirasa matang, ia mengangkatnya, lalu beralih menaruh kuali yang bentuknya sudah tidak bulat lagi—menunjukkan betapa tuanya peralatan itu. Ia menuangkan minyak jelantah, bersiap menggoreng bakwan dan tempe.
Ratna yang sudah selesai salat kembali ke dapur.
“Ambilkan Mak minum dulu.”
Ratna menuangkan air dari kendi ke gelas plastik, lalu memberikannya kepada ibunya.
“Dibalik dulu itu gorengannya.”
Cekatan, Ratna memegang sutil dan membalik gorengan di wajan panas. Sejak kecil, ia sudah dididik untuk bertanggung jawab membantu ibunya mencari rezeki demi menopang keuangan keluarga.
Tiba-tiba terdengar suara tangisan si bungsu dari dalam kamar, mencari ibunya.
“Mak ke kamar dulu. Bapamu tidak akan bangun,” gerutu Yatin pelan sambil berlalu.
Sudah hampir satu bulan Wawan menganggur di rumah. Ia hanya meninggalkan utang interlokal pada bosnya di Jakarta untuk menanyakan apakah ada pekerjaan atau tidak.
Merantau ke Jakarta ternyata tidak semudah yang dibayangkan.
Tapi kalau hanya mengandalkan penghasilan musiman seperti bertani, tetap saja terasa berat. Maka dari itu, Yatin membantu dengan berjualan nasi uduk setiap pagi, lengkap dengan beberapa lauk sederhana.
“Pak, bangun… sudah subuh. Subuhan sana,” ucap Yatin pelan.
“Ah… urus itu anak nangis,” sahut Wawan sambil membalikkan tubuhnya, lalu kembali terlelap.