Berjalan kaki menyusuri jalan yang masih berupa tanah, di kanan kiri terbentang pesawahan hijau yang luas. Angin sepoi-sepoi berhembus, membawa aroma padi yang mulai menguning. Langkah Ratna ringan, meski jarak ke sekolah cukup jauh.
Dari belakang, dua temannya menyusul. Rumah mereka memang tidak terlalu berjauhan. Di depan, tampak dua anak laki-laki—Wardi dan Ujang—yang sudah berangkat lebih dulu. Di kampung kecil itu, hanya ada lima anak yang melanjutkan sekolah ke SMP. Sisanya memilih membantu orang tua di sawah.
“Ratna!” panggil Iis dari belakang.
Ratna menoleh, lalu berhenti menunggu. Tak lama kemudian mereka berjalan berdampingan.
“Pulang sekolah nanti jadi ke pasar? Mau foto tea, di studio baru.”
Ratna ragu. “Aku nggak ada uang, Nur, buat urunannya.”
Di antara mereka bertiga, Nur memang yang paling berada. Ia anak Ceu Salma, pemilik lio bata merah terbesar di kampung itu.
“Aku yang bayarin,” kata Nur santai sambil tersenyum. “Teu naon-naon. Kalian tinggal ikut saja.”
Ratna dan Iis saling pandang, lalu mengangguk pelan.
*
“Kita ulangan hari ini.”
Begitu guru masuk kelas, kalimat itu langsung membuat suasana gaduh.
“Ah, aku nggak belajar semalam,” keluh Nur pelan, lalu melirik Ratna. “Rat, nanti nyontek dikit ya.”
Ratna hanya mengangguk. Ia sudah terbiasa. Sejak SD, Nur sering bergantung padanya saat ulangan.
Kertas dibagikan satu per satu. Suasana kelas mendadak hening. Tak lama kemudian, Nur menyelipkan secarik kertas kecil berisi nomor soal yang ingin ia lihat jawabannya.
Ratna menerimanya diam-diam. Ia menunggu saat guru lengah, lalu mengisi jawaban dengan hati-hati.
Setelah ulangan selesai, Nur langsung menarik tangan Ratna.
“Ke kantin, yuk. Laper banget. Nasi uduk tadi pagi sudah habis buat mikir,” katanya sambil tertawa, gadis sedikit gemuk itu menarik tangan Ratna.
“Kamu mau jajan apa? Soto? Bakso? Aku traktir.”
“Ngga usah, Nur.”
Nur menggeleng. “Kamu teh sudah bantu aku. Masa aku nggak traktir? Kita kan teman.”
Ratna akhirnya mengangguk.
Bukan sekali dua kali Nur membantu. Baju yang sudah tak muat sering diberikan untuk adik-adik Ratna. Bahkan seragam sekolah adiknya pun lungsuran dari Nur.
“Di depan katanya ada yang jual majalah. Yuk lihat,” ajak Nur lagi.
Mereka berjalan ke depan sekolah. Seorang penjual majalah membuka beberapa edisi lama dan baru sebagai contoh.
Ratna melihat dengan penuh minat, tapi hanya bisa menatap.
“Yang ini berapa, Mang?” tanya Nur.