Lebaran 1994 Rumah yang tak Pernah Berbagi

Nila Kresna
Chapter #3

Suara Dari Dapur Sempit.

Pagi itu hasil jualan tidak seberapa. Nasi uduk masih tersisa juga beberapa lauk yang mulai dipanaskan untuk dijual kembali besok. Yatin menghela napas panjang, lalu duduk bersandar di bilik bambu dapur. Wawan duduk di sebelahnya, wajahnya kusut.

“Minta uang, mau telepon bos,” kata Wawan singkat.

Yatin menoleh, tatapannya datar. “Boro-boro buat telepon, ini saja kurang untuk modal besok,” jawabnya ketus.

Wawan mengernyit. “Kalau jadi istri itu jangan ketus. Itu memang uang kamu, aku tau.”

“Bukan masalah uang siapa, Pak,” sahut Yatin, berusaha menahan emosi. “Memang uangnya tidak ada.”

Wawan berdiri dengan kesal. “Ya sudah, aku pergi dulu.”

“Eh, mau ke mana, Pak?” Yatin ikut berdiri.

“Cari duitlah.”

“Ngutang? Mau dibayar pakai apa? Makan sehari-hari saja susah,” ucap Yatin, nada suaranya meninggi.

Wawan menghela napas keras. “Terus aku harus bagaimana? Berangkat kerja tidak bisa, di rumah kamu terus ribut soal uang!”

“Aku bukan ribut, Pak. Tapi ini kebutuhan kita. Belum lagi mau Lebaran. Masa iya nggak beli baju lagi buat anak-anak?”

“Assalamualaikum.”

Suara Ratna terdengar dari depan rumah. Ia baru saja pulang dari pasar. Namun, salamnya tak terjawab. Yang terdengar hanya suara ibunya yang meninggi, sementara dua adiknya sudah meringkuk ketakutan di pojok ruang.

Pemandangan ini bukan pertama kali mereka lihat.

“Tidak apa-apa,” kata Ratna pelan. Ia segera merangkul kedua adiknya dan mengajak mereka masuk ke kamar. “Mak sama bapak lagi ngobrol serius.”

“Tapi emak nangis,” bisik adiknya.

Ratna menelan ludah. “Iya… nggak apa-apa.”

Setelah memastikan adik-adiknya tenang, Ratna kembali keluar. Ia melihat kedua orang tuanya masih di dapur.

“Sekolah Ratna bagaimana, Pak?” tanya Yatin, suaranya mulai melemah. “Sampai sekarang belum ada kejelasan mau dilanjutkan di mana. Boro-boro menyiapkan dananya.”

Ratna yang mendengar itu berhenti melangkah. Hatinya terasa berat.

“Ratna tidak usah lanjut sekolah, Mak,” ucapnya pelan. “Ratna mau kerja saja. Biar adik-adik yang lanjut sekolah.”

Yatin langsung menoleh, matanya berkaca-kaca. “Mak berharap kamu lanjut sekolah, Nak. Jadi orang yang lebih baik. Tidak seperti emak.”

Ia mendekat dan memegang tangan Ratna. “Emak sama bapak yang pikirkan uangnya. Kamu belajar saja yang rajin.”

Lihat selengkapnya