Yatin tetap ikut bergabung. Bukan sekadar untuk belanja, tapi juga untuk menjaga hubungan—karena di tempat seperti itu, ramah pada setiap orang adalah bagian dari cara agar membuat pelanggannya tidak membeli ke tempat lain.
“Sudah mau putaran ke lima ya, Ceu?” tanya Yatin, basa-basi sambil tersenyum tipis.
“Iya, ini sudah hampir lengkap. Kurang dua orang lagi. Kamu ikutan aja, ambil dua sekalian,” goda salah satu dari mereka.
Yatin tersenyum simpul. “Satu saja saya belum mampu, Ceu. Apalagi dua.”
Beberapa senyum kecil muncul—bukan simpati, tapi seperti menyimpan ejekan.
“Ceu Salam mah hebat, sekali narik dobel dua,” celetuk Bu Ida.
“Ah biasa saja,” jawab Ceu Salam sambil terkekeh. “Bu Ida juga pasti bisa, dobel empat juga hayu.”
Pujian saling dilempar. Tentang uang, tentang kemampuan, tentang kelebihan yang seolah tidak ada habisnya.
Sementara Yatin… hanya menggenggam uang recehan. Bahkan untuk sekadar belanja hari ini pun masih kurang. Ia tahu, lagi-lagi ia harus menundukkan harga dirinya.
“Ceu… saya mau belanja.”
“Sok, hayu. Sekalian buat nambah bayar arisan ya?” Ceu Salam tersenyum, tapi matanya berbeda. Ia mulai membuka buku catatan hutang.
Yatin menunduk. “Maaf, Ceu… hutang kemarin belum bisa dibayar. Ini juga kurang untuk belanja hari ini.”
“Loh, kok bisa kurang?” suara Ceu Salam sedikit meninggi, cukup untuk menarik perhatian yang lain.
Yatin makin menunduk. Malu. Tapi ia tetap berdiri di sana—karena kebutuhan lebih kuat dari rasa sakit.
Salma menatapnya dengan sinis. “Susah memang sekarang kalau cuma ngandelin jualan. Apalagi kalau suaminya nggak punya penghasilan tetap.”
“Iya, Ceu… ini Wawan lagi ke Jakarta.”
“Ooh, sudah ada kerjaan?” nada suaranya terdengar tidak benar-benar peduli. “Tapi hutang yang kemarin saja masih ada, sekarang mau nambah lagi. Modal saya juga harus diputar, nggak bisa berhenti di kamu saja.”
“Iya, Ceu… saya mengerti. Saya minta tolong lagi.”
“Yatin, semua orang juga butuh penghasilan. Dulu kamu nolak ponakan saya, malah pilih Wawan. Coba dulu sama ponakan saya, sekarang kamu nggak perlu capek jualan begini.”
Ucapan itu seperti membuka luka lama—dan sengaja digores kembali.
Yatin diam. Tidak membalas.
“Ya sudah, saya juga kasihan,” lanjut Ceu Salam akhirnya. “Nggak mau juga saya jadi penghalang rezeki orang.”
“Iya, Ceu… terima kasih.”
Yatin mulai mengambil bahan masakan secukupnya. Setiap gerakannya terasa diawasi. Tatapan Ceu Salam membuatnya ragu bahkan untuk mengambil lebih.
“Minyak naik lagi. Jangan banyak-banyak,” ketusnya.
“Iya, Ceu.”
Yatin langsung mengurangi. Dari satu kilo, menjadi setengah.