Lebaran 1994 Rumah yang tak Pernah Berbagi

Nila Kresna
Chapter #5

Sebatang Tembakau Sisa.

“Uaahh…” Wawan merentangkan tangan begitu keluar dari pintu kereta. “Jakarta.”

Entah kenapa, semua rasa penat yang sempat menumpuk di kepalanya saat bersama keluarga perlahan menguap. Seolah-olah pulang ke rumah justru menghadirkan beban yang tak ingin ia bawa kembali ke kota ini.

Dari stasiun, Wawan memilih berjalan kaki menuju ruko tempatnya bekerja.

Gang sempit itu masih sama—ramai, padat, dan bising. Suara klakson motor bersahutan tanpa jeda. Bau gorengan yang baru diangkat dari minyak panas bercampur dengan aroma bubur kacang hijau, menyatu dengan asap knalpot yang menusuk hidung.

“Cii, apa kabar?” Wawan melambaikan tangan pada seorang perempuan berparas Asia yang sudah lama berbaur dengan warga lokal.

Perempuan itu menoleh sekilas. “Baru datang kau? Bukannya sudah ramai dari Minggu lalu?”

Wawan terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. “Ooh iya, Cii. Aku masih kangen kampung, jadi nggak langsung balik. Mari, Cii.”

“Yahh,” jawabnya singkat.

Wawan tak banyak bicara lagi. Ia mempercepat langkah menuju ruko tempatnya bekerja.

“Assalamualaikum!” suaranya lantang, memecah suasana di dalam.

“Waalaikumsalam,” jawab beberapa orang, pelan dan datar, tanpa antusias.

“Bos…” Wawan langsung mendekat dan menyalami pria yang duduk di kursi kerja.

“Udah datang lu. Lancar di jalan?”

“Lancar, Bos.”

“Istirahat dulu deh. Besok ada servisan di rumah Cinere.”

Wawan langsung berbinar. “Wah, kakap tuh, Bos.”

“Iya. Jaga kepuasan pelanggan. Jangan bikin malu nama saya. Ngerti?”

“Tenang, Bos. Kerjaan saya mah selalu beres.”

Bosnya hanya menatap datar, tanpa komentar.

Wawan kemudian naik ke lantai atas, tempat para karyawan tidur. Ia meletakkan tas lusuh yang dibawanya, lalu turun kembali ke bawah.

Lihat selengkapnya