Lebaran 1994 Rumah yang tak Pernah Berbagi

Nila Kresna
Chapter #6

Kesalahan yang Memutus

Rumah besar yang kini berdiri di hadapan Wawan membuat langkahnya sedikit tertahan. Bangunan itu tampak megah, dengan halaman luas dan pagar tinggi yang menjulang. Hari ini, ia datang bukan sebagai tamu, melainkan sebagai tukang servis yang akan memperbaiki telepon rumah milik sang pemilik.

Diantar masuk oleh seorang ART, pandangan Wawan langsung berkeliling, meneliti setiap sudut rumah. Dari ruang tamu yang luas hingga ruang keluarga tempat mereka akan bekerja—semuanya tampak rapi dan mahal. Lantainya mengilap, perabotannya mewah, dan udara di dalamnya terasa sejuk berbeda dengan panas jalanan yang biasa ia rasakan.

“Saya tinggal ya, Pak,” kata ART yang mengantar mereka.

“Iya… ada minum sama makanan ringan, ya. Saya belum sarapan,” jawab Wawan santai.

Agus langsung menoleh cepat. “Bang, nggak usah, Bang… nggak enak.”

“Halah, nggak apa-apa. Orang kaya begini nggak bakal miskin cuma gara-gara kita makan dapurnya sedikit,” balas Wawan enteng, lalu menatap ART. “Iya, Mbak.”

ART itu tampak ragu. “Iya, nanti saya tanya dulu sama Bapak.”

Ia pun pergi meninggalkan mereka.

Agus mulai membuka tas, mengeluarkan alat-alat kerja. Sementara itu, Wawan masih sibuk mengamati ruangan, matanya tak berhenti bergerak, seolah ingin menyerap semua kemewahan yang belum pernah ia miliki.

Tak lama kemudian, pemilik rumah datang.

“Servis, ya?” tanyanya singkat.

“Iya, Tuan,” jawab Wawan.

Tatapan Wawan tak lepas dari pria itu. Pakaiannya rapi, jam tangannya mahal, sikapnya santai—semua terlihat seperti hidup tanpa beban. Dalam hati, Wawan merasakan sesuatu yang panas. Bukan sekadar kagum, tapi juga iri yang perlahan berubah menjadi getir.

Enak banget hidupnya… batinnya. Duduk saja, uang jalan sendiri.

“Beri mereka minum sama makanan,” perintah si pemilik rumah pada ART.

“Baik, Tuan.”

Pria itu lalu duduk santai di sofa, menyalakan televisi, dan meletakkan jam tangannya di atas meja. Tak lama, seorang wanita turun dari lantai dua—istrinya.

“Sudah pulang, Pah?” tanyanya lembut sambil mendekat.

“Iya.”

Wanita itu duduk di samping suaminya, bersandar manja di dada pria tersebut. Kehangatan mereka terlihat begitu alami. Wawan memperhatikan tanpa berkedip.

“Kerja, Bang,” tegur Agus pelan.

Wawan tersenyum miring. “Enak ya kalau hidup banyak duit. Duduk doang, istri cantik, nggak kucel bau asap dapur.”

“Jangan suka iri sama nasib orang, Bang,” jawab Agus.

“Bukan iri, Gus. Emang enak, kan? Banyak duit,” balas Wawan, nada suaranya mulai tersinggung.

“Iya… enak,” jawab Agus singkat, memilih kembali fokus bekerja.

Lihat selengkapnya