Lebaran 1994 Rumah yang tak Pernah Berbagi

Nila Kresna
Chapter #7

Rejeki Dari Hasil Mencuri

Dari setiap suapannya, terlihat ia begitu menikmati makanan itu sampai tidak dibiarkannya tersisa sedikit pun. Setelahnya, ia menghabiskan dua batang rokok, seolah ingin menegaskan bahwa hari itu dirinya sedang menjadi manusia yang berlimpah uang.

“Berapa, Da?” tanya Wawan.

“Tambah satu jadi tiga ribu.”

Wawan menunjukkan uang di sakunya. Ada beberapa lembar pecahan lima ribu, sepuluh ribu, dan dua lembar lima puluh ribu.

Uda yang melihat isi dompet Wawan sedikit terkejut.

“Wih, banyak rezeki, Wan. Baru gajian rupanya.”

“Bukan, Uda. Rezeki dari luar.” Wawan menyerahkan uang pecahan lima ribu.

Setelah menerima kembalian, Wawan beranjak dari kursinya.

“Makasih, Yo, Da.”

“Oh, yo, samo-samo.”

Penjual itu masih memperhatikan kepergian Wawan sampai pemuda tersebut benar-benar keluar dari rumah makannya.

Wawan kemudian beralih ke warung di pinggir jalan yang selama ini sering menjadi tempatnya berutang.

“Po, berapa hutang?” tanyanya sambil berdiri di depan etalase dan berpura-pura melihat-lihat dagangan.

“Udah gajian?” tanya pemilik warung sambil menyerahkan catatan hutang Wawan.

“Iya. Lagi banyak job.”

Wawan kembali merogoh sakunya. Tanpa banyak bicara, ia membayar seluruh hutangnya.

“Udeh, ya, Po. Mikum.”

“Iye, walikumsalam.”

Dari sana Wawan kembali berjalan menyusuri gang menuju warteg langganannya.

Baru saja terlihat memasuki warteg, penjualnya sudah mengembuskan napas berat.

“Gitu amat, Neng. Tenang, nggak ngutang. Mau bayar malah,” celetuk Wawan sambil terkekeh.

Penjual nasi itu mendekat dengan wajah sumringah.

“Eeh, punya rezeki lu. Baguslah.”

Tanpa diminta, ia langsung mengeluarkan catatan hutang Wawan.

Berderet catatan hutang itu terbuka di hadapannya. Ia memperhatikannya sebentar, lalu kembali merogoh sakunya.

“Lunasin. Lunasin semua.”

Lihat selengkapnya