Lebaran Bersama Ibu

ken fauzy
Chapter #9

DOA UNTUK IBU

“Bu, hari ini kita bikin kue kering yuk, Dira sama Hanandoko sudah beli bahan-bahannya, aku tau banget Ibu itu paling suka dan paling jago bikin kue kering,” ucap Hanindya mengalihkan suasana sedih.

“Kue lebaran? Saya suka bikin … dulu sama anak-anak saya,” ucap ibu.

Mata Dira melebar senang mendengar itu, ia menghampiri ibu, “Ibu pasti ingat bikin kue apa saja waktu itu.”

Ibu berpikir sebentar lalu menjawab, “Iya … mereka suka nastar, kastengel dan putri salju ….”

“Aku yang suka putri salju Bu,” cengir Hanandoko.

“Aku favoritnya nastar Bu,” senyum Hanindya.

“Dan aku doyannya kastengel Bu,” ucap Dira.

Ibu menatap wajah mereka satu persatu. Sayup-sayup suara anak-anak kecil sedang tertawa terdengar di telinga ibu, kabut tipis terkuak perlahan. Tampak tiga anak kecil dan ibu sedang membuat kue di dapur. Mereka tertawa dan bercanda. Wajah dan baju ketiga anak itu dipenuhi tepung terigu bercampur tepung gula. Ibu tersenyum melihatnya. Bahan-bahan kue tampak di atas meja dapur. Toples-toples plastik berisikan kue nastar dan putri salju telah berjajar rapi.

“Bu itu kastengelku gosong!” teriak seorang gadis kecil yang lalu menangis saat melihat kuenya hangus. Ibu tertawa lalu memeluk gadis kecil itu.

Kabut tipis itu datang menyelubungi lagi ingatan ibu.

 “Apakah Ibu ingat anak-anak yang membuat kue bersama Ibu waktu itu?” tanya Dira lagi penuh harap. Ibu terdiam ragu. Dengan sedih bercampur kesal Dira berkata, “Bu ayolah ingat … Ibu bisa ingat nama kue-kuenya … tapi kenapa Ibu ga bisa ingat nama dan wajah anak-anaknya? Apakah Ibu sengaja ingin melupakan kami?!”

“Dira!” sentak Hanindya membuat Dira terdiam.

Hanindya menggeleng pada Dira lalu berkata pada ibu, “Maafkan Dira Bu … lupakan apa yang Dira baru katakan … gimana kalau sekarang kita bikin kue aja?” Ibu mengangguk.

Maka Hanindya mendorong kursi roda ibu menuju dapur.

Lihat selengkapnya