Lebaran Bersama Ibu

ken fauzy
Chapter #10

IBU AKAN TETAP MENJADI IBU

Takbir terdengar malam itu dengan beduk yang bertalu-talu.

Kalimat suci bergema di seantero negeri di malam yang tenang. Nada ritmis yang magis menembus relung hati bagi siapa pun yang mendengarnya dengan memasrahkan diri pada kekuatan terbesar di alam semesta. Bagi para pemilik hati yang tawadhu, air mata seharusnya menitik di malam syahdu seperti ini. Besok hari bahagia yang ditunggu-tunggu akan tiba, besok hari suci yang menyucikan dan menghapus segala salah akan datang, besok hari penuh dengan tawa dan sukacita akan hadir.

Rumah yang bersih. Pakaian yang terbaik untuk dikenakan. Ketupat yang telah tergantung di dapur, opor ayam yang telah dihangatkan, kue-kue terenak yang sudah diletakkan di atas meja untuk menyambut kedatangan keluarga dan tetangga.

Setiap orang di malam itu tak sabar.

Setiap orang di malam itu bersiap-siap.

Untuk esok Hari Raya nan bahagia.  

Tapi tidak untuk ketiga kakak beradik itu. Wajah mereka lesu, tatapan mereka sayu, setelah siang tadi, ibu hanya memandangi satu persatu ketiga kakak beradik itu saat Hanandoko melontarkan pertanyaan, “Bu, hari ini adalah puasa kita yang terakhir besok kita Lebaran … apakah Ibu sudah mengingat kami?” ibu hanya diam lalu memutar kursi rodanya dengan kedua tangannya dan mengayuhnya menuju kamar, meninggalkan ketiga kakak beradik itu tanpa sepatah kata.

Patah hati Hanindya melihat itu. Pecah air mata Dira tak dikenali lagi oleh ibunya. Jatuh bertekuk lutut Hanandoko di atas lantai, luruh semua harapannya untuk mengembalikan ingatan ibu.

Malam itu di halaman belakang yang terbuka, ketiga kakak beradik itu sedang menatap langit malam, terdengar suara takbiran yang meremuk redamkan hati karena hingga hari terakhir di bulan Ramadan ini, ibu masih belum mengenali mereka.

Dira mengusap air matanya yang menetes, “Apakah ini karma kita Kak? Apakah ini akibat dari kita melawan ibu dan kabur dari rumah untuk menghindari ibu? Sungguh kita sudah berdosa pada ibu ….”

Hanindya menahan gemuruh di dalam dadanya, ia tidak boleh menangis meski ingin rasanya mengeluarkan apa yang ingin ditumpahkan tapi ia tidak boleh menangis. Ia tidak mau menambah sedih suasana yang sudah kelabu ini, tidak di depan adik-adiknya.

 “Ibu masih belum ingat kita … besok kita Lebaran … besok akan menjadi hari Lebaran terburuk dalam hidup kita karena ibu tidak mengenali kita lagi,” lirih Hanandoko menundukkan kepala.

Sementara itu di dalam kamar tampak kaki-kaki renta baru saja dijejakkan.

Lihat selengkapnya