Lebih Baik, Ku Hidup Tanpa Cinta

Fitria Rahma
Chapter #1

1. Kembali Ke Masa Lalu

Naru berlari menaiki undakan tangga dengan terburu-buru, setiap langkahnya terasa semakin berat. Napasnya terengah-engah, terkejar-kejar. Di belakangnya, terdengar langkah cepat Devan, kakak tirinya yang semakin mendekat. Wajah Devan penuh kemarahan, seperti akan meledak kapan saja.


“Jangan lari kamu, Naru!” teriak Devan, suaranya penuh amarah dan ancaman.


Naru melangkah lebih cepat, hampir jatuh karena terburu-buru. Dia tahu, jika sampai tertangkap, tidak akan ada lagi jalan keluar. Tangannya terangkat ke pagar atap rumah sakit, dan akhirnya dia berhenti. Terkapar di ujung atap, terengah-engah, tidak ada tempat lain untuk berlari.


Devan datang, wajahnya seketika berubah menjadi murka, tatapannya tajam seperti hendak menerkam. Tanpa ampun, dia menendang tubuh Naru. Naru terjatuh, tubuhnya membentur permukaan keras atap dengan keras.


“Uhuk!” Naru terbatuk, napasnya tercekat.


Devan berdiri di atasnya, menatap Naru dengan mata yang dipenuhi kebencian. Dengan penuh kekesalan, dia kembali menendang tubuh Naru beberapa kali, tiap tendangan terasa seperti petir yang menyambar.


BUGH


"DASAR TIDAK TAHU DIRI!"


BUGH BUGH


"BOCAH SIALAN!"


BUGH BUGH BUGH!!


Setelah beberapa saat, Devan berhenti, lalu dengan tangan kasar menekan leher Naru. Cekikan yang begitu kuat. Naru bisa merasakan udara mulai terkikis dari paru-parunya.


“Setelah semua yang kau tuduhkan pada Dio, sekarang kau berniat membunuhnya?! Tidak tahu diri!” Devan berkata, suaranya penuh dengan kebencian yang sulit disembunyikan. “Kau dan ibumu! Kami mencoba menerima kalian, bahkan kami ikut dalam permainan busukmu itu, dan membenci Dio!”


“Maaf, ak-aku me-nyesal” Naru tersedu, tubuhnya melemah, namun ia tetap mencoba mengangkat wajahnya untuk menatap Devan. “Aku… tidak bermaksud…melakukan nya... Aku melakukannya hanya untuk...”


Devan menggeram kesal, lalu menekan lebih kuat lagi di leher Naru, menyiratkan betapa dia tidak ingin mendengar alasan Naru. “Hanya untuk kebaikanmu kan?! Hanya untuk mengemis kasih sayang kami kan?! KARENA KAU TERLAHIR Tanpa ITU SEMUA!” katanya, mulutnya bergetar karena marah.


Naru merasa seperti akan kehilangan kesadaran, napasnya semakin tercekat. Wajahnya memucat, matanya mulai kabur. “K-Kak… Kak… De-van… Maaf…” suaranya hampir tidak terdengar, lemah.


Devan menyeringai, namun senyuman itu penuh dengan amarah yang menyakitkan. “Maaf? Setelah semua yang kau lakukan terbongkar, dan kau masih berani berkata maaf?!” teriak Devan, suaranya bergema di sekeliling atap. “Kau?! Beraninya kau!”


Naru berusaha memukul lengan Devan, namun kekuatannya sudah habis. Tangan Devan mengalihkan, dan dalam sekejap dia menyeret tubuh Naru ke tepi pagar pembatas atap.


Naru panik, matanya berkeliling mencari jalan keluar, tapi tidak ada. “Kak… Ma-af… Aku… benar-benar minta maaf…” suaranya terbata, air matanya mulai jatuh.


Devan menatapnya dengan tajam, bibirnya mengerucut. “Maaf? Terlambat, Naru. Kami sudah benar-benar muak denganmu. Kau membuat kami membenci Dio, kau hampir mencelakainya, dan sekarang kau bahkan berniat untuk membunuhnya?!”


Devan kembali mencengkram leher Naru dengan kuat. Naru merasa tubuhnya semakin terdorong ke pagar pembatas, hampir kehilangan keseimbangan.


Dia berusaha bertahan, kedua tangannya menggenggam pagar itu, namun tenaga yang dimilikinya tak cukup untuk melawan. Nafasnya semakin sesak, setiap kali ia berusaha menarik napas, rasanya semakin mustahil.


“Kakak…” Naru berbisik, suara tercekik dan hampir tidak terdengar.


Devan menatapnya tanpa ekspresi, wajahnya kosong dan dingin. “Selamat jalan, Naru…” Devan berkata datar, lalu dengan sekali hentakan, ia melepaskan cengkeramannya di leher Naru.


Tanpa peringatan, Naru terjatuh, tubuhnya melayang di udara, dan hanya ada sunyi yang menggema di belakangnya.


BRUUKK!


Tubuh Naru terjatuh dengan posisi yang sangat aneh. Suara tulang yang patah terdengar dengan jelas saat tubuhnya membentur tanah, mengeluarkan darah yang segera menggenang di sekitar tubuhnya. Rasa sakit menjalar begitu cepat di seluruh tubuhnya, dan dalam setiap tarikan napas yang semakin sulit, ia merasakan hidupnya perlahan hilang.


Kedua mata Naru melotot, mencoba bertahan meski kesakitan begitu luar biasa. Tetapi dalam benaknya, ada satu hal yang terus berputar. Menyesal.


Dia menyesal—menyesal karena begitu serakah, begitu tidak tahu diri. Semua ambisinya, permainan-permainan licik yang dijalankan demi mendapatkan kasih sayang yang seharusnya tidak ia miliki, kini membuatnya berakhir dengan cara yang mengerikan seperti ini.


Teriakan histeris dari orang-orang yang melihat kejadian tersebut menggema di sekelilingnya, tetapi semuanya terasa begitu jauh. Naru hanya bisa mendengar detak jantungnya yang semakin lemah, napasnya yang semakin tersengal-sengal.


Lihat selengkapnya