Nani menyetir mobilnya dengan pelan menyusuri jalanan kota malam itu. Bulan nampak bersinar terang, dan sinarnya masih cukup menyinari wajah-wajah mereka yang berada di dalam mobil. Interior mobil wangi parfum mawar, khas pilihan Nani. Di kursi penumpang, Naru duduk diam sambil menatap jalanan dari balik kaca jendela. Wajahnya muram, bibirnya tertutup rapat, kedua tangannya saling menggenggam erat di pangkuan.
Nani meliriknya sekilas, lalu kembali fokus pada jalan. Sesekali ia menghela napas. Kebiasaan Naru yang biasanya cerewet saat akan bertemu keluarga Pak Darma, sore itu benar-benar menghilang.
"Kamu kenapa sih? Sejak tadi, kayaknya murung terus, ada masalah? Cerita sama Ibu."
Nada suara Nani tenang tapi ada ketegasan di dalamnya. Ia terbiasa mengontrol emosi anaknya dengan tekanan halus. Menjadi seorang single parent, membuat Nani menjadi sosok tegas dan keras, bahkan pada putranya sendiri.
Naru menggeleng pelan, pandangannya masih menerawang. “Nggak, cuma... capek dikit,” jawabnya singkat.
Dalam hati, Naru berdebat. Kepalanya masih dipenuhi sisa trauma dari kejadian sebelumnya—jatuh dari lantai tiga gedung tinggi, rasa sakit yang menghantam tubuhnya, tulang tulang nha yang seolah remuk, detik-detik terakhir hidup yang begitu menyiksa, dan sekarang… dia di sini. Hidup lagi.
Nani mendengus ringan. “Capek gimana? Kita cuma dari rumah ke restoran. Kamu itu biasanya ribut sendiri kalau mau ketemu Devon, Devan, Dion, atau Dio. Sekarang malah diem kaya patung.”
Naru menunduk.
"Ibu, apa Ibu benar-benar harus nikah sama Pak Darma?" tanyanya tiba-tiba, tanpa menoleh.
Pertanyaan itu membuat Nani mengernyit. Tangannya tetap memegang setir, tapi ekspresinya berubah tajam.
"Kenapa kamu nanya kayak gitu? Bukannya kamu juga seneng karena bakal punya saudara baru? Dan juga, kamu akan kunga keluarga yang lengkap, ibu dan ayah."
Naru menatap lurus ke depan, napasnya terasa berat.
"Ibu menikah karena Pak Darma kaya? Kalau itu alasan Ibu, sebaiknya..."
CKITT!!
Nani menginjak rem mendadak, membuat mobil berhenti sejenak di pinggir jalan. Ia menoleh tajam ke arah Naru, matanya menyipit dengan sorot emosi tertahan.
"Memangnya kenapa kalau Ibu menikah sama Pak Darma karena dia kaya? Memangnya itu salah?"
Suara Nani naik satu oktaf. Wajahnya merah, dan tangan kirinya menggenggam setir kuat-kuat.
"Apa kamu pikir kita bisa hidup enak selama ini tanpa usaha Ibu? Tanpa Ibu menahan malu? Tanpa Ibu kerja keras ngurus kamu seorang diri?!"
Naru mengatupkan bibir, hatinya tercekat. Ada sesak yang naik ke dadanya, antara kecewa dan kasihan.
"Ibu... aku cuma tanya..."