"Akhirnya kalian datang juga."
Suara Pak Darma terdengar ramah, terdengar seperti pria yang sudah sangat siap menyambut keluarga barunya. Nani membalas dengan senyum manis, lalu dengan anggun duduk di kursi kosong di samping pria itu. Gaun panjang warna gelapnya berkilau samar tertimpa cahaya lampu restoran yang temaram.
"Maaf kalau agak telat," ucap Nani lembut. Ia merapikan lipstik di ujung bibirnya secara halus dengan ujung jari, lalu tersenyum ke arah keempat anak lelaki di meja.
"Gak papa kok. Lagian, ini kan bukan pertemuan resmi keluarga. Ini pertemuan kita, supaya anak-anak kita saling mengenal," sahut Pak Darma, matanya melirik ke arah Naru. "Bukannya Naru yang paling semangat buat ketemu calon kakak-kakaknya?"
Naru menunduk. Ia hanya menanggapi dengan senyum kaku, nyaris tak terlihat jika tidak diperhatikan betul. Di dalam dadanya, jantungnya berdebar cepat. Mungkin dulu, memang iya, ia selalu antusias kalau sang ibu mulai bercerita tentang keluarga Pak Darma. Tapi sekarang… tidak. Bukan setelah dia tahu bagaimana semuanya akan berakhir.
“Hei, kalian,” panggil Nani ke arah anak-anak Pak Darma, sambil menepuk lembut punggung Naru. “Ayo, duduk, Nar. Jangan berdiri saja.”
Naru mengikuti, lalu duduk di samping ibunya. Ia meremas kedua tangannya di atas pangkuan, duduk dengan gelisah. Kakinya tak bisa berhenti bergeser, sesekali menoleh ke arah pintu seolah ingin kabur.
"Anak-anak, ini Naru, calon saudara kalian. Dia seumuran sama Dio, lima belas tahun, jadi dia akan sama-sama jadi bungsu nantinya," ucap Tuan Darma memperkenalkan.
Keempat anak laki-lakinya menoleh. Satu per satu menelisik wajah Naru seperti sedang mengamati spesies baru. Devan menyipitkan mata sedikit. Dion meneguk minumannya sambil terus menatap. Devon menyender santai ke kursi, dan Dio, si bungsu keluarga Darma, menatap tajam ibu dan anak tersebut.
“Lucu juga orangnya,” gumam Devan pelan, meski cukup terdengar.
“Imut malah,” timpal Dion, terkekeh pelan. “Kayak boneka… bukan bocah lima belas tahun. Beneran kamu seumuran Dio? " Dion bertanya seperti layaknya pada anak TK.
Wajah Naru langsung memerah, tapi dia tetap menunduk. Pipinya yang chubby makin terlihat mencolok karena rona merah yang perlahan merambat. Ia tidak tahu harus membalas dengan apa. Matanya tetap menatap meja, suara hatinya penuh gumaman panik.
Devon bersuara datar. “Dia cowok, kan?”
“Devon!” tegur Pak Darma, mendesah tak enak. “Gak sopan nanya kayak gitu..”
"Yah abisnya, dia lucu Pah."
Naru menggigit bibir bawahnya, merasa seperti tikus kecil di sarang kucing. Apalagi saat mata Devan akhirnya bertemu pandang dengannya—dingin, dalam, dan tajam. Naru dengan cepat mengalihkan pandangan matanya.
Devan yang menyadari tingkah Naru mengernyit.
“Naru,” panggil Devan pelan. “Kamu takut ya?”