"Naru kok lama sih di toiletnya, Nan? Dia gak papa kan? Mukanya tadi pucet loh," kata Darma sambil menoleh ke arah calon istrinya. Suaranya pelan, tapi penuh kekhawatiran. Tatapannya tak lepas dari pintu masuk ruang privat tempat mereka makan malam. Jemarinya menepuk-nepuk pelan meja, gelisah.
Restoran itu masih tenang, dengan cahaya lampu hangat yang temaram dan alunan musik instrumen Jepang yang terus mengalun, menambah kesan eksklusif. Tapi suasana hangat itu tak cukup meredakan kegelisahan Darma. Ia melirik jam tangannya.
Nani menghela napas. Ia meletakkan sumpitnya pelan di sisi piring.
"Aku susul dia dulu, Mas," ujarnya sambil bersiap berdiri.
Namun, sebelum sempat benar-benar berdiri, suara Devan terdengar.
"Biar aku aja yang nyusul, Bu."
Devan berdiri dari kursinya dengan tenang, suaranya terdengar ringan tapi mantap.
Nani langsung menoleh, agak terkejut.
"Oh? Kamu gak keberatan?" tanyanya, nada suaranya menunjukkan rasa khawatir kalau ia merepotkan anak tirinya itu.
Devan menggeleng kecil, tersenyum tipis.
"Gak kok, sekalian aku juga mau ke toilet."
"Oh ya udah. Makasih yah, Devan."
Nada suara Nani terdengar lega. Ia pun kembali duduk.
Devan mengangguk sopan, menyelipkan tangan ke dalam saku celana kain hitamnya. Langkahnya tenang saat ia berjalan keluar dari ruang VIP itu. Dio sempat melirik ke arah kakaknya, tapi tak berkata apa-apa. Ia hanya memutar mata lalu kembali menatap layar ponsel di tangannya.
Saat Devan melewati pelayan restoran yang sedang berdiri, ia sempat bertanya dengan nada santai namun jelas,
"Toilet di sebelah mana, Mas?"
Pelayan itu segera menunduk sopan,
"Sebelah kanan lorong ini, Kak. Nanti ada tanda."
"Thanks," ucap Devan singkat, lalu melanjutkan langkahnya.
Lorong menuju toilet itu cukup sunyi. Dindingnya dihiasi lukisan pemandangan Jepang, dan lampu-lampu kecil di sepanjang plafon memberi suasana tenang tapi juga agak mencekam karena sepi. Derap langkah Devan yang berat terdengar bergaung di lorong.
Sesampainya di depan toilet, Devan menyentuh kenop pintu, mendorongnya pelan dan masuk. Suara keran air dan hembusan udara dari ventilasi terdengar jelas. Ia berdiri sejenak di depan cermin, membenarkan kerah kemejanya, lalu menoleh ke deretan bilik.