Devan memangku tubuh lemas Naru keluar dari toilet, langkahnya tergesa dan wajahnya tegang. Napasnya terdengar berat karena panik, dan peluh membasahi pelipisnya. Beberapa pengunjung restoran yang sedang melintas menoleh penuh tanya, namun tak berani menghampiri.
“Permisi... tolong, minggir sebentar...” ucap Devan cepat, nyaris seperti tergesa mengejar waktu.
Ia membaringkan Naru di sofa panjang yang tersedia di lorong luar toilet, tak jauh dari pintu ruang VIP tempat mereka makan. Wajah Naru tampak sangat pucat, nafasnya pendek dan tidak teratur.
Seorang staf restoran langsung menghampiri saat melihat Devan dengan panik memeriksa kondisi Naru.
"Ada yang bisa kami bantu, Kak?" tanya staf pria itu, matanya cemas menatap tubuh remaja yang terkulai.
Devan buru-buru melonggarkan ikat pinggang Naru dan membuka kancing teratas kemeja yang dipakainya.
"Tolong panggil paramedis! Cepat! Ada anak yang pingsan di sini!" serunya, nyaris membentak karena panik.
"Baik, Kak!" ujar staf itu sebelum berlari kembali ke arah ruang staf untuk menghubungi manajer. .
Devan mengeluarkan ponselnya dan menekan nomor Papanya. Tangannya bergetar, suaranya tercekat saat telepon tersambung.
"Ada apa, Dev? Kok kamu nelpon Papa?" suara Papanya terdengar di ujung sana.
"Naru, Pah... dia tiba-tiba pingsan," jawab Devan cepat, matanya tak lepas dari wajah Naru.
"Apa? Astaga...terus gimana keadan dia sekarang?"
"Aku udah minta staf restoran buat hubungin paramedis. Mereka kayaknya sebentar lagi nyampe."
"Baik, kami langsung ke sana. Jaga dia dulu, ya. Jangan panik," kata Papanya dengan nada tegas.
Beberapa detik kemudian, suara langkah tergesa terdengar dari arah ruang VIP. Nani dan Darma muncul, keduanya tampak panik. Nani langsung menghampiri, matanya membesar saat melihat Naru terbujur lemas.
"Naru?! Naru kamu kenapa, nak? Tadi kamu baik-baik aja loh, " tanya Nani, wajahnya penuh kekhawatiran. Tidak pernah dia melihat anaknya sampai pingsan seperti ini.
"Apa dia punya riwayat penyakit asma,?" tanya Devan pada calon ibu sambung nya itu.