Tubuh Jane bergetar dengan hebat dan kakinya serasa tidak memiliki tenaga untuk menopang tubuhnya sendiri hingga ia terduduk di lantai, sosok John yang pertama kali dijumpainya terlalu mengerikan sebab dia melihat secara langsung bagaimana John menghabisi mereka. “Dodo-oon’t touch me! (Jaja-jangan sentuh aku!)” teriak Jane menggerakkan tubuhnya ke belakang mencoba melarikan diri.
John berdiri dengan masih memegang pedang yang berlumuran darah, ia mengayunkan pedangnya kearah Jane.
Klang. Suara pedang beradu dengan lantai.
Ia memotong tali yang terikat pada tangan Jane menggunakan pedangnya agar dia merasa lebih leluasa untuk bergerak.
“Get up, follow me, (Bangun, ikuti aku,)” perintah John padanya.
“Ii-iya.”
Jane berdiri dan mengikuti perintahnya tanpa melawan.
“Telepon ambulance, kita butuh segera,” suruh John mengalihkan pandangannya pada karyawan toko pakaian tersebut.
Karyawan tersebut menurutinya dan langsung menelepon ambulan agar segera tiba di lokasi, seraya John berjalan keluar dari bangunan tersebut dengan di ikuti oleh Jane di belakangnya.
Namun saat mereka baru berada di luar, Jane berpikir jika ini adalah saat yang tepat untuk melarikan diri, ia langsung berlari menuju arah lain secepat mungkin agar tidak tertangkap.
Tapi baru beberapa langkah ia berlari, John sudah memegangi bajunya.
“Where do you think you go? (Kemana kau pikir kau pergi?)” tanya John sembari memeganginya. “Shall I tied you up like they did? (Haruskah aku mengikatmu sama seperti yang mereka lakukan?)”
“No! (Tidak!)”
Mereka kembali berjalan menuju sepeda motor milik John yang terparkir di seberang jalan sedari tadi, ia menurunkan semua barang-barang yang berada di atas sepeda motornya lalu membukanya satu persatu.
“Wear this, (Kenakan ini,)” tukas John menyodorkan helm sepeda motor dan rompi anti peluru pada Jane.
Jane mengambil rompi tersebut dari tangannya.
Berat banget bajunya. Kata Jane dalam hatinya.
Dia salah mengartikan jika rompi tersebut adalah sebuah pakaian biasa yang harus ia kenakan agar terlihat sama seperti dengannya, dia mengenakan rompi tersebut.
“Dengarkan perkataanku baik-baik, nyawamu sekarang dalam bahaya karena akan ada lebih banyak orang yang mencoba untuk membunuhmu serta menculikmu, contohnya adalah mereka yang tadi masuk kedalam toko dan menembak your driver,” terang John mencoba menjelaskan situasinya. “Aku adalah satu-satunya orang yang ditugaskan untuk melindungimu dari mereka selama satu bulan ke depan, jika kau masih ragu dengan apa yang aku ucapkan, cobalah untuk tertangkap oleh mereka dan kau pasti akan tahu hasil akhirnya,” sambung John. “Naiklah.”
Jane naik keatas sepeda motor tersebut dan mereka berdua berkendara jauh ke selatan meninggalkan kota tersebut, mereka berkendara hingga tiba di kota selanjutnya untuk mengambil peralatan lain yang sudah di siapkan oleh rekannya.
Tiga jam kemudian mereka tiba di tempat tersebut, John turun dari sepada motornya lalu berjalan pada bangunan yang terbengkalai.
Lumut tumbuh hampir menutupi di dinding bangunan tersebut, rumput yang cukup tinggi menambah kesan seram pada bangunan tersebut.
Jane berjalan mengikuti di belakangnya memasuki bangunan tersebut, mereka tiba pada sebuah ruangan yang cukup gelap dan terdapat kotak kayu berukuran dua kali dua meter dengan secarik kertas yang menempel diatasnya, dia melihat sekelilingnya dan bulu kuduknya berdiri karena hal tersebut.
John berjalan mendekati kotak kayu dan membaca tulisan pada kertas tersebut ‘6249Atom’ seraya membukanya, didalam kotak kayu tersebut terdapat senjata laras panjang serta beberapa jenis granat dan persediaan lainnya.
Ia memasangkan perlengkapan tersebut pada tubuhnya dan mengganti tasnya dari yang besar menjadi lebih kecil, ketika ia sedang mempersiapkan peralatannya, Jane melangkah mundur perlahan-lahan dan mencoba kembali untuk melarikan diri.
Dia berlari menyusuri lorong bangunan tersebut dengan diikuti oleh John yang berlari mengejarnya. “Berhenti mengejarku kau penjahat!” teriak Jane padanya.
“… ….”