Namun saat Jane memejamkan matanya kembali, dia malah terbangun dan mendapati jika hal yang dilaluinya hanyalah sebuah mimpi buruk yang sangat menyayat hati.
Mimpi terburuk selama hidupnya.
Jane melanjutkan tangisnya. Haruskah aku keluar dan membantunya? Tapi dia menyruhku untuk tetap bersembunyi. Tanya Jane dalam hatinya.
Dia merasa bimbang dan hanya termenung sambil memikirkan mimpi yang dialaminya tadi.
Di tempat lain, Jack bersama dengan kedua sahabatnya sedang berdiri sembari melihat pada alat pelacak yang biasa mereka gunakan.
“He’s one hour ahead, if we take a shortcut, we’ll able to catchup with him,” tukas Jack pada keduanya.
“His traps might be useless since we take different path.”
“Not at all, what if he already knew our movement and put another one?”
“I never think about it.”
“If we move carefully, his booby traps didn’t work.”
“He tend to put different traps in each place, using every source he can find.”
“Is he vietcong or something like them?”
“Nah, hes not, but he learn it from them, you can find it a book.”
“Did you learn it as well?”
“In the military.”
“Lets move.”
Mereka mulai berjalan mengikuti arah yang ditunjukkan oleh alat pelacak sambil tetap berbincang-bincang.
Setelah setengah jam lamanya berjalan, mereka menemukan putunjuk yang ditinggalkan oleh John.
“Look, that’s a blood,” tanda Christ sembari berjongkok.
“Hes wounded.”
“Finally, after so many fight we got into, hes injured.”
“Maybe from my RPG.”
“This leaf has a blood too, his injury must be on hands or feet.”
“We have more chance to kill him!”
“Don’t get too hype Christ.”
“Lets go.”
Christ berdiri kembali dan melanjutkan langkah kakinya dengan dipimpin oleh Jack yang berada di barisan depan, dan beberapa ratus meter kemudian mereka menemukan jebakan yang dibuat olehnya.
Tali sepanjang tiga meter melintang diatas tanah dengan diikatkan pada sebuah granat.
“Cut the rope and took the grenade, free meals.”