Setelah tiga jam lamanya mereka berkendara, John menghentikan laju sepeda motornya untuk rehat sejenak, ia turun dari sepeda motor seraya berjalan menuju sebuah pohon yang memiliki diameter batang yang lebar dengan diikuti oleh Jane di belakangnya.
“Why are you following me?” tanya John padanya.
“I don’t know, habits maybe?” sahut Jane dengan polos.
“I going to piss, stop following me.”
“Okay.”
Jane menunggunya di dekat sepeda motor selama John melakukan urusan pribadinya.
Shit! Umpat John dalam hatinya.
John duduk dibalik pohon untuk menyembunyikan dirinya karena tidak ingin Jane melihat apa yang akan dilakukan olehnya saat ini, terlihat perban yang terbalut di lengan sebelah kirinya, perban tersebut nampak berwarna merah dengan bercak-bercak kuning disekitarnya.
Dengan hati-hati ia melepaskan perban tersebut agar bagian di sekitar lukanya tidak terasa begitu sakit, akan tetapi perban tersebut telah merekat pada permukaan kulitnya dikarenakan nanah dan darah yang sudah mengering.
Ia merogoh sakunya untuk mengambil suntikkan yang sudah terisi oleh cairan dan beberapa pil obat untuk meredakan rasa sakitnya sekaligus memperlambat penyeberan infeksi yang di deritanya, ia kembali menyuntikkan cairan obat tersebut ke tubuhnya melalui pembuluh darahnya namun sayangnya pil obat yang seharusnya mencegah penyebaran infeksi malah tidak ada entah tercecer dimana, yang ada hanya pil obat pereda demam panas.
Kruk… kruk… kruk…. Bunyi pil di kunyah.
John mengunyah obat tersebut sampai habis lalu menelannya,.
Ia melihati luka di tangannya sendiri dengan seksama, kulit disekitar lukanya mulai berwarna merah dan cairan nanah yang agak sedikit kekuning-kuningan mulai mengalir keluar.
I can move it but not for too long till lose my grip. Tukas John dalam hatinya.
Ia menaburkan etanol diatas pedang dan luka tersebut seraya membersihkan beberapa bagian pada luka tersebut menggunakan pedang pendek yang dibawanya, setelah dirasa cukup bersih, ia kembali membalut luka tersebut menggunakan perban namun kali ini dengan balutan sedikit lebih kencang dari sebelumnya.
Pandangannya kini berpindah kepada luka dari tembakan peluru yang berada di kakinya, ia ingin mengeluarkan peluru tersebut tapi luka di kakinya tidak bersifat fatal, tapi jika di keluarkan sekarang dia akan kehilangan banyak darah sehingga akan membuat kondisi tubuhnya bertambah buruk, karena hal tersebut ia hanya menaburkan etanol dan mengganti perban dikakinya saja.
Setelah selesai mengobati luka ditubuhnya, John kembali berdiri seraya menghampiri Jane yang sedang termenung sembari mecoret-coret tanah menggunakan ranting di genggamannya, dia menuliskan ‘John bodoh keras kepala’ diatas tanah tersebut.
John melihat tulisannya. “Woah, amazing, I didnt know if monkey are capable of write down such a thing like that,” ejeknya pada Jane.
“Shut up, idiot!” tandas Jane. “Have you done doing your own thing? Now my turn.”
“Yeah, do as you please.”
Jane berdiri dan berjalan menuju semak belukar untuk melakukan hal yang biasanya dilakukan oleh manusia, setelah selesai dengan urusanyya, dia kembali menghampirinya yang sudah terduduk diatas jok sepeda motor.