Mereka berdua duduk ditanah sembari menunggu yang masih dalam perjalan menuju lokasi mereka berada sekarang.
“Whose Eric?” tanya Jane padanya.
“Friend’s.”
“How long has it been since you knowing eachother?”
“Decades.”
“If I was him, I’ll be mad for sure cause the way you talk.”
“Yeah.”
“Only talk when you need to, so damn annoying.”
“Am i?”
“Yeah.”
“Imagine if you’re act like this to your wife, she’ll hit you with a pan.”
“Hahaha.”
“Geez, im exhausted just because talking with you.”
“… ….”
Mereka berdua hanya diam sembari duduk dengan tidak saling berbicara kepada satu sama lain.
Brum brum brum….. Suara kendaraan terdengar dikejauhan.
John berdiri dari duduknya. “Its him,” tukasnya sembari melangkahkan kakinya.
Dibelakangnya terlihat Jane ikut berdiri dan berjalan mengikutinya menuju sumber suara berada, nampak sebuah mobil berwarna hitam dengan hanya memiliki dua pintu dikedua sisinya.
Kaca jendela mobil bergerak turun saat mereka berdua jalan menuju kendaraan tersebut. “Ay, yo sir,” tukas seorang pria mengenakan topeng yang menutupi sebagian wajahnya dengan mengeluarkan sebagian tubuhnya dari jendela mobil sembari melambaikan tangan pada mereka berdua.
“You cant afford a decent one?” tanya Jane kepada John yang berada di depannya. “How poor you’re.”
John menoleh kebelakang. “Yeah, im poor,” ejeknya pada Jane. “Give me one if you have lots of money then.”
“Okay, tell me where you live in, I’ll send it directly.”
“In your dreams.”