Egdar mengambil pisau bedah kecil lalu memotong perban yang membalut luka ditangan John, kemudian melepaskan baju yang dikenakannya dengan cara dipotong juga karena tidak ingin mengubah posisi berbaringnya, bersamaan dengan Eric yang sedang mencolokkan sebuah kabel pada topeng milik John yang terhubung pada sebuah gawai untuk membukanya. Kemudian Eric melepaskan makeup prostetik yang membungkus wajahnya untuk membuatnya lebih nyaman dan tidak kesulitan bernafas, lalu mengelap wajahnya menggunakan kain yang sudah dilumuri oleh cairan untuk menghilangkan sisa lem dari sisa makeup yang tertinggal di kulitnya.
Wajah yang ditunjukkan ke Jane di malam itu hanyalah sebuah makeup prostetik yang dibuat oleh rekan-rekannya menggunakan silikon yang sudah dicetak agar dia langsung mengenakannya saja tanpa harus takut jika makeupnya akan rusak oleh air ataupun yang lainnya, jadi Jane sebenarnya masih tidak mengetahui wajah asli darinya mekipun dia sudah sangat yakin jika yang dilihatnya pada saat itu adalah John yang sebenarnya.
Clik. Suara tombol ditekan.
Edgar menyalakan lampu senter seukuran pulpen untuk menyinari bagian luka agar dapat melihat dengan jelas mengenai luka yang dialaminya, setelah mengamati beberapa saat ia mengambil alat tensi meter dan memasangkannya di lengan John yang tidak terluka untuk mengetahui tekanan darah yang dimiliki olehnya.
Sementara Eric memasangkan jarum infus pada tangan serta beberapa perangkat lain pada bagian dadanya untuk memantau kondisi tubuhnya, tangannya terlihat membengkak dengan warna merah padam sembari mengeluarkan nanah serta bau busuk yang menyengat.
Eric melihat pada Edgar yang sedang mengamati kembali luka pada lengan John. “Is it fatal?” tanyanya.
“Yes, we can save him by cutting his arm,” terang Edgar memberitahukannya. “We need to inject more medicine.”
Edgar menyuntikkan antibiotik pada cairan infus.
“What about sir Alex?”
“We need his permission first.”
Setelah melakukan pemeriksaan, mereka menyimpulkan jika tangan John harus diamputasi karena sudah mulai busuk dan itu dapat menyebar ke area lain yang ada di tubuhnya, namun mereka harus meminta ijin terlebih dahulu kepada Alex selaku pelayan pribadi yang mengambil keputusan bilamana John tidak ada atau sakit.
Mereka berdua berjalan keluar ruangan menuju tempat Alex berada.
Kriiit. Bunyi pintu dibuka.
Mereka langsung merangseg masuk tanpa menghiraukan keberadaan dari Jane yang berada diruangan tersebut, Edgar berjalan mendekati Alex sementara Eric menunggu di dekat pintu.
Edgar berdiri disamping Alex yang sedang duduk. “Sir, theres something I need to tell you,” tandas Edgar dengan serius.
“What is it Ed?”
Edgar mendekatkan mulutnya pada telinga Alex untuk membisikkan sesuatu, setelah membisikkan hal tersebut, Alex langsung terperanjat dan berdiri.
“Let see him first,” ajak Alex kepadanya seraya berjalan keluar ruangan.