Edgar menyuntikkan obat ke tubuh John, lalu dia mengambil gunting yang memiliki ujung menjorong ke bawah serta pinset yang biasa digunakannya di rumah sakit seraya menenggelamkannya kedalam larutan alkohol agar steril, sembari mengolesi bagian kakinya yang terluka sambil sedikit memijat kaki John untuk memastikan jika otot-otot pada kakinya tidak sedang dalam keadaan tegang.
Setelah memastikan jika kondisi tubuhnya siap untuk menjalani prosedur operasi, Edgar memasukan gunting tadi kedalam luka tembak tersebut untuk melebarkan daging yang mulai membengkak.
Ujung pinset tersebut berhasil menyentuh peluru yang bersarang ditubuhnya, tangannya menekan pinset agar menjepit proyektil peluru sambil menariknya keluar secara perlahan dengan kembali memasukkan pinset tersebut kedalam luka untuk memastikan tidak ada serpihan dari proyektil peluru yang tertinggal sembari mengecek kerusakan yang disebabkan oleh peluru tersebut.
Luka yang di sebabkan oleh peluru tersebut tidak terlalu parah hingga membuatnya tidak harus mengambil tindakan lebih jauh, setelah selesai mengangkat peluru tersebut, dia kembali mengeluarkan satu peluru lain yang berada di kaki satunya lalu mengobati luka goresan yang banyak terdapat di tubuh John karena pertempuran yang terjadi begitu sengit.
Setelah mengobati luka yang terdapat di kedua kakinya, Edgar kini memfokuskan dirinya untuk mengobati bagian lengan milik John yang terluka sangat parah hingga menyebabkan bagian yang terluka harus di amputasi karena sudah terinfeksi dan mulai membusuk.
Edgar menaruh kembali kedua alat tadi kedalam wadah dan mulai mengambil pisau bedah miliknya. “Ready?” tanyanya pada Smith yang berdiri di sebelahnya.
“Yeah.”
Sementara Junos memegangi tiang lampu untuk menerangi luka agar dia bisa melihat dengan jelas bagaimana prosedur operasi dilakukan.
“Huuu…ft,” Edgar menarik nafas panjang sebelum mulai menggerakkan pisaunya.
Semua jaringan yang sakit diangkat semua agar tidak kembali menyebar kebagian jaringan yang sehat sembari memastikan jaringan lainnya dapat berfungsi dengan baik setelah prosedur opreasi dilakukan, proses operasi yang mereka lakukan cukup memakan banyak waktu hingga peluh keringat mulai bermunculan di wajah Edgar, Junos yang sudah siap dengan lap ditangannya dengan sigap mengelap kening Edgar yang membuat adegan tersebut terlihat sangat romantis.
Sementara mereka bertiga melalukan operasi pada tubuh John terbaring yang tak sadarkan diri, Alex yang berada satu lantai diatasnya masih memegang pistolnya dengan menghadap ke bawah diantara kedua kakinya.
Jantung Jane berhenti sejenak karena terkejut oleh kerasnya suara letusan peluru yang tadi dilakukan oleh Alex, seluruh tubuhnya mulai bergetar dengan hebat dan wajahnya berubah menjadi pucat pasi, dia tidak menyangka jika Alex yang seharusnya berada dipihaknya malah melakukan hal tersebut.
Peluru yang ditembakkan Alex tidak mengenainya, peluru tersebut melintas hanya beberapa sentimeter di samping kepalanya dan terus melesat hingga akhirnya terhenti di tembok.
Beberapa kali Jane menarik nafas sembari menahannya mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri karena takut jika Alex akan marah jika dia tetap berisik dan bertingkah seperti sebelumnya. Kenapa dia nembak aku? Bukankah mereka orang baik yang harusnya melindungi aku? Tanya Jane dalam hatinya sembari memejamkan matanya.
Saat Jane membuka matanya, dia melihat Alex mengeryitkan dahinya dengan pembuluh darah yang menonjol.
“If I heard that fucking word come out from your fucking mouth again, I’ll kill you for sure,” tandas Alex menatapnya langsung ke mata dengan niatan ingin membunuh. “He sacrifice himself in order to keep you alive you, but you say ‘Kill me’ so easily like it was nothing,” sambungnya. “Now listen to what im gonna say.”
“Ii-iya,” sahut Jane terbata-bata.
“Your manager and driver are fine, they are now in a safe place, the elites have told them to keep quiet and if they dare to talk about this game, they will die,” terang Alex membertahukannya. “Now is your turn to forget about all of this things, got it?” tanya Alex padanya.