LEGION : UNKNOWN KNIGHT

Delta
Chapter #43

BEGINNING - 43

Tak terasa ternyata mereka sudah sampai di kota Bandung, dua jam menuju Jakarta tempat kediaman Jane berada, Eric melirik pada cermin yang menggantung di bagian tengah kabin dan mendapati jika Jane sedang tertidur dengan pulasnya di kursi belakang.

Her body was so small yet her courage cant be compared to average person, is it cause shes asian? I heard from him if asian can fight a tiger barehand. Ucap Eric dalam hatinya.

Eric keluar dari jalan tol dan berkendara menuju pusat kota.

Ramai kendaraan melaju di samping kiri serta kanannya, dia merasa takjub dengan orang-orang yang tinggal di negara tersebut karena mereka lebih memilih untuk memiliki sepeda motor dibandingkan mobil, padahal kenyamanan dan keselamatan jauh lebih tinggi di miliki oleh mobil.

Mobil yang mereka kendarai terhenti di sebuah perempatan jalan karena lampu pengatur lalu lintas sedang berwarna merah. “Stst-stop, don’t kill me!” teriak Jane dengan kedua mata terpejam.

Eric langsung memalingkan wajah padanya dan mendapati jika Jane sedang mengigau dengan keringat membasahi tubuhnya.

Karena lampu lalu lintas sudah berubah hijau, Eric menepikan mobilnya ke bahu jalan dan mencabut kunci seraya melepaskan sabuk pengaman yang membentang di tubuhnya lalu merangkak ke kursi belakang untuk membangunkan Jane. “Hey wakeup…,” panggil Eric sembari menggoyangkan tubuhnya.

“Hmm…,” tukas Jane dengan mata terpejam.

“Wakeup girl.”

Jane mengucek matanya. “Have we arrived?” tanya Jane sembari melihat pada jendela mobil.

“No,” sahut Eric. “We’re in Bandung, “I want you to know this, your mental healt are in bad state, you’re delirious and say 'Don't kill me' with sweat dripping down your whole body while frightening,” sambung Eric. “Tell your manager to make appointment with psychiatrist after we’re arrived.”

“Umm, okay.”

“Lets grab some food,” ajak Eric seraya membuka pintu mobil dan berdiri diluar sembari menahan pintunya.

Jane membungkukkan tubuhnya seraya berjalan keluar dan bertanya padanya. “Why did you always holding the door for me?”

“Dunno, habits maybe.”

Eric memimpin jalan dengan berada di depan, mereka pergi menuju sebuah ruku dengan tulisan ‘warteg’ di depannya, dia masuk terlebih dahulu sementara Jane berdiri di depan sambil memandangi bangunan tersebut.

Lihat selengkapnya