Eric melepaskan topeng yang menutupi wajahnya seraya menaruhnya diatas meja. “Take your time, eat slowly,” suruhnya pada Jane.
“Hmm….”
Tangan kiri Eric meraih rokok yang berada di saku celananya, dia mengeluarkan sebatang rokok dari dalam bungkusnya dan menempatkannya di mulut sembari membakarnya. “This cigg had unique flavour, its my first time getting addicted to this kind of brand,” tandas Eric padanya. “I need to buy lots of it and take it home with me,” sembari melihati rokok yang di pegangnya.
“Can you stay away from me while smoking?”
“Okay.”
Eric beranjak dari duduknya dengan gelas kopi dan bungkus rokok dikedua tangannya, dia bergabung di meja yang sedang ditempati oleh preman tadi. “Want some?” tanya Eric sembari menyodorkan rokok padanya.
Preman tadi menolaknya karena sungkan. “No thanks.”
Dia menaruh rokok tersebut diatas meja. “Whats your name?” tanya Eric padanya.
“Ujang.”
“Cool name, are you from here?”
“No, I live in Jakarta.”
“That’s the city im heading to, how long it takes to be there?”
“Four hours.”
“Not that far.”
Jane yang selesai makan datang menghampirinya dan mengajaknya untuk kembali melanjutkan perjalanan. “Lets go.”
Eric berdiri dan membayar makan tersebut lalu kembali masuk ke dalam mobil bersamanya, dia menyerahkan sebuah handphone pada Jane yang berada di kursi belakang. “Call your manager, tell her to wait at your house, we’ll be there in a few hours.”
“Didnt they got captured by them?”
“Nah, the game is over, they’ve realesed since yesterday.”
“Okay,” tukas Jane memegang handphone tersebut dan mencari nomor milik manajernya. “Her number is not in the contact list.”
“Don’t you remember her number?”
“I don’t.”
“Wait,” suruhnya.
Eric mengeluarkan radio miliknya yang terhubung pada satelit untuk menghubungi rekannya yang berada di pangkalan sementara milik mereka. “Lima Charlie, this is Sierra Tango five, massage over.”
“This is Lima Charlie, roger, over.”
“Four hours away to drop zone, gimme her manager number, over.”