Langit sore yang cerah kini berubah menjadi gelap seiring dengan mentari yang tenggelam di ufuk barat, satu-persatu lampu mulai menyala.
Jane teringat akan handphonenya yang di simpan oleh manajernya. “Handphone aku mana Mbak?” tanyanya pada Intan.
“Ada kok, mau ngapain kamu? Jangan dulu aktivitas, kamu butuh istirahat yang banyak biar cepat pulih.”
“Don’t you guys need to introgate me while im here?” tanya Eric.
“Fuck that shit, I don’t care about it again, even if im asking you a question, you’ll probably avoid it!” umpat Jane.
“Clever, since my task is completed, imma heading back,” tukas Eric seraya mematikan rokoknya dan meraih topengnya.
Intan menghentikannya agar tidak pergi dari ruangan tersebut. “Hold on!” tandasnya. “Kita perlu menggali informasi lebih jauh mengenai mereka Jane!” sambungnya mengalihkan pandangan pada Jane yang duduk disampingnya.
Gerakan Eric terhenti karenanya. “What?” tanyanya sembari membungkuk.
“Biarin aja Mbak, mereka bukan orang yang sama seperti yang mencoba menangkap aku,” terang Jane. “You can go.”
“Okay,” timpal Eric beranjak dari kursinya dan berjalan keluar dari ruangan tersebut.
“Kamu udah gila yah?! Kenapa di biarin gitu aja?” tanya Intan dengan menaikan nada suaranya.
“Udah aku bilang mereka beda Mbak!”
“Tapi mereka sama, masih bagian dari hal ini!” bentak Intan padanya.
“Be…da,” ucap Jane mulai meneteskan air mata.
Jane menangis karena dia teringat akan semua hal yang telah di laluinya selama satu bulan ini, melihat orang lain mati di hadapannya bukanlah perkara mudah dan itu membuat mentalnya tidak stabil meskipun dia sudah mencoba sekeras mungkin untuk tidak menunjukkannya karena John adalah satu-satunya alasan kenapa dia masih hidup sampai saat ini.
“Maafin Mbak udah bentak kamu…,” tukasnya meminta maaf. “Cerita gih mengenai apa yang kamu lalui selama menghilang,” tukasnya dengan mata berair.
Mereka berdua menangis bersama dengan Jane yang berada dalam dekapannya.
Sementara itu Eric sedang membeli bensin yang dimasukkannya ke dalam wadah plastik dan berkendara menuju rumah yang sempat John sewa sebelum melakukan tugasnya, dia berdiri di depan pintu seraya menjebol lubang kunci menggunakan dua buah besi kecil.