LEGION : UNKNOWN KNIGHT

Delta
Chapter #47

BEGINNING - 47

Intan pergi ke dapur untuk membuatkannya susu hangat dan kembali lagi ke dalam kamar dengan dua gelas susu panas dan beberapa cemilan. “Buat sambil cerita, badan kamu kurus banget kayak yang kurang gizi,” ejeknya pada Jane. “Lalu siapa orang yang bersama kamu selama satu bulan dan melindungi kamu?” tanyanya.

“Namanya John, umurnya enam puluh tahun lebih dan dia adalah satu-satunya orang yang melindungi aku selama satu bulan dari begitu banyaknya pemburu yang dikirimkan untuk membunuh aku, beberapa kali dia terkena tembakan dan terluka di sekujur tubuhnya,” sahut Jane memberitahunya. “Bahkan saat kita berada di tengah rawa yang di penuhi lintah, dia bela-belain gendong aku di pundaknya agar aku tidak terkena lintah tersebut, dan saat dia tertembak di kakinya sama sekali tidak mengeluh sedikitpun,” Jane menaruh dagunya di lutut dengan kedua tangan melinkari kakinya sendiri. “Tom, serigala peliharaanya yang sudah dianggapnya sebagai keluarga sendiri harus mengorbankan nyawanya demi melindungi aku, dia berdiri dengan gagahnya menahan semua peluru yang berterbangan ke arah aku menggunakan tubuhnya sendiri sebagai tameng hidup,” sambungnya dengan tatapan kosong. “John membopong aku sambil berlari di tengah hutan dan menyuruhku untuk bersembunyi sementara dia kembali menghadapi mereka seorang diri, namun ketika kembali dia menggotong tubuh Tom yang di penuhi lubang serta darah yang masih basah dan belum kering,” tanpa sengaja air mata menetes membasahi lantai. “Bahkan ketika aku sakit dan tak mampu untuk berdiri, dia membuat tandu menggunakan batang pohon dan membaringkan aku diatasnya, dia menarik tandu tersebut selama berjam-jam dan berkilo-kilo meter ketika tubuhnya sendiripun di penuhi oleh luka yang tidak bisa aku bayangkan betapa menyakitkannya hal itu,” tuturnya tetap bercerita. “Di hari terakhir, tim bantu datang menggunakan mobil untuk menjemput kami dan saat kita tiba di markasnya, tangannya sudah membusuk dan mengeluarkan bau tak sedap, aku rasa dia mungkin tidak selamat dan sekarang telah tiada.”

Setelah mendengar apa yang di ceritakan olehnya, Intan menangis sejadi-jadinya karena tidak kuasa mendengarnya. “Hiks … hiks … aa-aku gak tahu kalau ada orang yang bakal mengorbankan dirinya sendiri agar kamu bisa tetap hidup,” tandasnya mengusap air mata. “Kita harus bertemu dengannya dan berterimakasih atas segala yang dilakukannya.”

“Gak bisa Mbak, kita hanya orang biasa yang tidak tahu mereka itu siapa, bahkan pria yang tadi siang ngasih tahu aku jika orang paling berpengaruh di dunia pun tidak bisa bertemu dengannya,” tukas Jane memberitahunya. “John adalah salah satu orang yang berpengaruh dan berperan dari balik layar.”

Intan menaruh jemari di dagu sembari berpikir. “Sebenarnya kita terlibat dalam situasi macam apa? Mereka bilang ke aku kalau ini adalah sebuah gerakan yang dilakukan oleh kelompok terorisme internasional,” tandasnya. “Dan kalau aku memberitahukan hal ini ke orang lain, mereka tidak segan untuk melenyapkan aku.”

“Aku juga gak tahu Mbak.”

Mereka berdua tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, dan hanya menduga-duga dengan banyak teori gila dari semuanya.

Sementara itu di lain tempat, Eric masih mengendarai mobilnya untuk kembali pulang menuju pangkalan sementara milik mereka. “Hows his condition?” tanyanya melalui radio yang berada di tangannya.

“Hes fine now, it’s a miracle he can survive for that long from infection, he just made it and passed critical condition few hours ago. but you know it already…,” sahut Smith menjawabnya.

“What you mean?”

“His arm… we cut it and he still unconcious.”

Edgar meraih radio miliknya yang tergelak di atas sofa. “No, he still in critical state,” tukasnya ikut bergabung dalam obrolan. “CPAP on his face, what we need to do is pray for his life,” lanjutnya memberitahukan kondisi John. “What I'm afraid of is that the infection has spread to his nerves, it could cost his life.”

Lihat selengkapnya