LELAH SANG PENJAGA SURGA

Herman Siem
Chapter #1

AIR MATA SEORANG IBU

Hari yang di tunggu telah datang, di mana setiap hati terkulik cemas selalu berharap yang terbaik terwujud. Langit sungguh sedang berbaik hati dengan selalu memberikan senyuman harapan bagi setiap impian banyak calon mahasiswa dan mahasiswi perguruan tinggi untuk menggapai citanya.

Derap langkah dua kaki selalu terdengar pasti mengajak berjalan di sertai impian selalu mendapatkan yang terbaik. Dari setiap hati tertutur lewat bibir beruntai kata-kata pada pemilik semesta ini, hanya satu harapan dan doanya memohon agar keinginan cita-cita anaknya terwujud.

Guratan setiap wajah mulai terlihat cemas beratap kerisauan sembari bibirnya menguntai doa, dua matanya menatap dalam seraya memberikan keyakinan pada anak-anaknya sebentar lagi duduk dalam ruangan dinging penuh keheningan mengerjakan lembaran soal yang harus di jawab benar isinya.

Sudah menunggu calon mahasiswa dan mahasiswi terduduk beratap tenda sederhana, sementara penguntai doa bapak dan ibunya hanya berdiri tidak jauh dari anak-anaknya sebentar lagi akan berjuang.

Bangunan kampus tampak besar berdiri kokoh menjadi penyemangat bagi setiap pasang mata calon mahasiswa dan mahasiswi yang ingin menunaikan cita-citanya bisa menutut ilmu di kampus negeri impiannya.

Sengatan sinar terik matahari semakin terasa panas mengulik membayangi setiap derap langkah kaki yang tergesa-gesa, hatinya di landa kecemasan.

"Ibu cepatan! Aku bisa terlambat nih!" di tariknya lengan ibunya dengan cengkeraman jemari tangan kanan anak gadisnya, guratan wajahnya resah.

Ibunya tidak menjawab, wajahnya terlihat bebas sedang di permainkan dengan peluh beratap hijab putih. Dua matanya hanya menatap kedepan seraya dua bola matanya keruh memutih. Benak ibunya semakin cemas di landa khawatiran, dan terdengar kencang suara degupan kencang jantungnya serta napasnya tersengal-sengal.

"Bu! Hihh, lelet bangat si jalannya! Ayo!" di tariknya lagi ibunya sampai sandal jepitnya lepas dari jepitan jemari kaki kiri dan terjatuh.

Gusar Kirana hanya membiarkan ibunya terjatuh. Cemas dan resah sudah campur aduk di raut wajahnya, ia perhatikan sekitar hanya terjawab sepi tidak satupun terlihat calon mahasiswa-mahasiswi.

Jemari kanannya merah-raba seraya mencari sandal jepitnya padahal ada tidak jauh tergeletak. Dua mata ibunya ternyata tidak bisa melihat dan bibirnya sudah terkunci tidak bisa bicara sejak ia lahir. Apalagi dua liang kuping seraya kebal dengan bentakan anak gadisnya, karena kupingnya juga tuli.

Anak gadisnya tanpa ada rasa empati dan rasa kasihan pada ibunya, ia hanya perhatikan kesekitar kampus yang berselimut sunyi hening sepi seraya calon mahasiswa dan mahasiswi sudah masuk kedalam ruangan masing-masing.

"Akh, gara-gara ibu! Huh!" gusar menggerutu sembari kaki kanannya sekali menjejak bumi, bukan bumi yang di jejaknya tapi jemari ibunya saat mencari sandal.

"Ibu!" padahal ibunya sedang menahan sakit di jemarinya langsung saja anak gadisnya menarik lengan ibunya berdiri.

Mata kaki bagian kirinya mencolek telapak kaki kanannya hanya melihat sandal jepit di biarkan begitu saja. Sedangkan kaki kanannya masih mengenakan sandal jepit.

Lihat selengkapnya