Jutaan kedipan bintang sedang bermain di balik gelapnya malam dengan sinar indah indung rembulan malam terlihat sempurna bulatannyamenerangi jagat bumi.
Semilir angin terasa bebas tanpa bentuknya, namun terasa dinginnya bermain dengan kabut tipis. Suara jangkrik serempak saling bersautan bersuka cita sepanjang malam.
Pemilik bumi saat ini sedang lelap dalam tidurnya sejenak menghilangkan penat dan lelah seharian. Suara bising kendaraan motor dan mobil hanya sekali-kali terdengar memecah kesunyian malam. Gedung tinggi menjulang seraya ingin mencakar langit berselimut malam.
Sudut jalan hanya terlihat sepi sunyi, hanya terlihat sebagian pemilik bumi yang masih terjaga dua matanya untuk mengais sisa rezeki tadi siang. Kesenjangan hidup di bumi tidaklah lagi menjadi rahasia pemilik bumi lainnya. Si miskin dan si kaya selalu terlihat beda.
Bagai bumi dan langit, di mana si miskin selalu berusaha dengan peluhnya hanya untuk menggapai citanya. Sedangkan si kaya seraya ia bebas untuk melakukan segalanya, tidak perlu mengeluarkan peluh hanya untuk mengapai citanya.
Tampak satu rumah bergaya modern, banguannya terlalu besar pastinya tidak henti-hentinya dua pasang mata si miskin jikalau melihatnya takut untuk memejamkan dua matanya.
Mobil dengan anak merk terasa bebas terpakir dalam garasi, kapan waktu bosan ingin mengggunakan mobil yang bisa berganti-ganti kapan waktu sesuka-suka pemiliknya.
Nasib bagus pemilik rumah itu, pasti tidurnya terasa nyenyak dan lelap terbaring beralas lembaran rupiah-rupiah dengan nominal tinggi. Pastinya tanpa ada beban, beban untuk menyambung hidup dan setiap kegagalan pasti di hadapai dengan mudah di sertai senyuman.
"Lagian kamu kenapa nolongin itu orang!" suara wanita terdengar dari luar rumah memecah keheningan malam.
Siapa yang tidak akan betah dan kerasan tinggal di rumah itu, ruangan tamu saja besar dan mungkin tiga kali kamar pada umumnya rumah standar. Perabotan dan furniturenya tidak main-main, pasti mahal dan sekelas Eropa tertata rapi dengan desain klasik modern.
"Kasihan mi, masa aku tega ngebiarin wanita itu hanya tertelungkup tidak berdaya dalam galangan air," suara lelaki makin terdengar jelas dari dalam kamar.
Arya sedikit terusik dengan wanita setengah baya itu adalah Shinta, ibunya cowok ganteng yang tadi siang sudah menolong seorang ibu-ibu yang terjatuh di galangan air.
Arya menutup buku pelajaran dan beranjak bangun sejenak perhatikan maminya terduduk sejak tadi sudah menemainya belajar.
"Kamu persis seperti papimu, orangnya nggak tegaan," kata maminya beranjak bangun menghampiri anak semata wayangnya berdiri di balik jendela dalam kamar.
Pandangan Arya menatap indung rembulan malam sinarnya sedang bermain dengan kedipan jutaan mata bintang di langit malam.